Tak Cuma Kompos, di Tangan Mahasiswa UII Kotoran Sapi Jadi Sumber Energi

Tampak alat jadi yang terdiri dari tandon 25L beserta pengaduk untuk mengaduk limbah kotoran sapi dan air, tandon 1000 L untuk tempat pengendapan/pembusukan limbah hingga menjadi gas metana, tandon 50L untuk tempat penampungan gas metana yang sudah jadi, dan genset untuk menghasilkan listrik. - Ist
25 Agustus 2021 14:17 WIB Media Digital Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Sekelompok mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) melihat tingginya populasi sapi di DIY bisa memicu penumpukan limbah kotoran. Jika tidak ditangani dengan baik maka menjadi masalah serius seperti pencemaran lingkungan, air, dan udara yang tentunya akan berdampak bagi kesehatan manusia.

Berangkat dari situ, para mahasiswa yakni Annisa Hasna Bilqis Azizah (dari Prodi Teknik Elektro/FTI), Ridho Silva Wahidansyah (Teknik Mesin/FTI), Rizky Restiana (Teknik Industri/FTI), Farrel Alfaiz (Teknik Industri/FTI) dan Dandi Rizqi Nurfattah (Teknik Mesin/FTI) mengajukan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan mengangkat judul “Inovasi Alat Pengolahan Limbah Kotoran Sapi Otomatis Menjadi Biogas sebagai Sumber Energi Listrik Pada Bengkel Sapi”.

Riset dilaksanakan di Laboratorium Proses Produksi Prodi Teknik Mesin FTI UII dan Bengkel Sapi pada Juni-Agustus 2021.Tim pelaksana berinovasi untuk membuat alat yang bernama CoWee (Cow Waste Energy for Electricity) yaitu alat yang dapat mengolah limbah kotoran sapi secara otomatis hingga menghasilkan biogas sebagai sumber energi listrik pada Bengkel Sapi. “Dengan adanya inovasi alat ini, diharapkan dapat membantu permasalahan mengenai pengolahan limbah kotoran ternak sapi menjadi lebih tepat guna dan bermanfaat untuk Bengkel Sapi,” kata Ridho Silva Wahidansyah.

Limbah kotoran sapi yang dihasilkan di Bengkel Sapi yaitu sebanyak 500 kg per hari dan selama ini hanya diolah menjadi pupuk kompos. Jika dalam waktu satu minggu limbah kotoran sapi sebanyak 3 ton, maka dalam limbah tersebut mengandung sebanyak 20 persen atau setara dengan 640 kg bahan kering. Dari 640 komponen bahan kering tersebut dihasilkan volume biogas sebesar 16 meter kubik

“Jika dikonversikan ke dalam bentuk kWh maka energi listrik yang dihasilkan sebesar 75,2 kWh. Apabila energi tersebut dihubungkan dengan genset yang berkapasitas 2,2 kW maka dengan potensi volume biogas sebesar 16m3 akan menghasilkan daya listrik sebesar 2,2 kW selama 34 jam atau 1 hari 10 jam nonstop,” jelas Rizky Restiana.

Lebih lanjut, Farrel Alfaiz menjelaskan bahwa inovasi alat yang dibuat ini menggunakan floating sensor, mikrokontroler arduino mega 2560, dan servo sebagai pengendali mekanisme kerja alat. Alur kerja alat CoWee ini yaitu ketika kotoran sapi dan air dimasukkan ke dalam drum 25L, maka jika floating sensor mengapung akan memberikan logika aktif pada relay sehingga akan mengaktifkan motor untuk membuat pengaduk berputar yang diatur lamanya selama 60 detik. Pengaduk berfungsi untuk mencampurkan kotoran sapi dan air dengan perbandingan 1:1 hingga menjadi lumpur.

Setelah 60 detik, maka servo akan otomatis berputar 108 derajat untuk membuka keran. Sehingga akan membuat lumpur turun menuju tandon besar untuk proses pembusukan secara anaerob oleh bakteri methan selama 14 hari hingga terbentuklah gas metana (biogas).

“Setelah gas metana berhasil terbentuk, maka di dalam tandon akan ada tekanan. Jika kondisi di dalam tandon tekanannya berlebih, maka gas akan keluar menuju tempat penyimpanan sementara. Jika gas akan dikonversi menjadi listrik, maka keran dibuka untuk masuk ke genset yang telah dimodifikasi. Sehingga akan menghasilkan listrik untuk menerangi kandang sapi,” kata Dandi Rizqi Nurfattah.

Annisa Hasna berharap alat ini bisa terus dievaluasi sehingga nantinya akan terus dilakukan perbaikan dan pengembangan alat.

“Terciptanya alat CoWee semoga bisa membantu mitra untuk mengatasi pengolahan limbah kotoran sapi yang terus menumpuk sehingga bisa menghasilkan energi listrik yang dihasilkan dari biogas. Selain itu, dengan adanya kegiatan seperti ini semoga bisa memacu semangat dan kreativitas mahasiswa dalam menerapkan ilmu di bidang teknologi khususnya pembuatan dan pengembangan alat CoWee ini,” komentar dosen pendamping tim, Dr. R.M Sisdarmanto Adinandra, S.T., M.Sc. (ADV)