Modal Sosial Jadi Kekuatan Pasar Tradisional untuk Bertahan

Dinas Perdagangan Kota Jogja dan pemangku kepentingan lain menyerahkan bantuan sembako kepada buruh gendong terdampak pandemi di Pasar Beringharjo, beberapa waktu lalu.-Harian Jogja - Ist
26 Agustus 2021 12:57 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pasar tradisional yang menjadi pasar rakyat terbukti bisa melewati banyak masa-masa sulit. Pada masa krisis moneter 1997 misalnya, pasar rakyat bisa bertahan dan melewatinya sementara pasar modern ada yang mesti tutup.

“Begitupun di masa pandemi Covid-19 ini. Di tengah-tengah banyaknya pasar modern yang tutup, pasar rakyat masih bisa bertahan,” ungkap Kepala Bidang Pasar Rakyat Dinas Perdagangan Kota Jogja, Gunawan Nugroho Utomo, kepada Harian Jogja, Rabu (25/8/2021).

Dia menilai salah satu kekuatan pasar tradisional terletak pada modal sosial. Masyarakat bisa melakukan tawar-menawar, hal yang tidak bisa dilakukan di pasar modern. Selain itu, interaksi dan ikatan sesama pedagang maupun pedagang dengan pembeli juga kuat terjalin.

“Kadang masyarakat ke pasar tidak hanya untuk transaksi tetapi banyak kegiatan sosial budaya lainnya. Orang ke pasar tidak harus belanja, kadang hanya untuk mengobrol sama pedagang. Bahkan misal ada acara hajatan, saling undang,” tutur Gunawan.

Pasar dengan berbagai pihak yang terlibat juga memiliki dampak luar biasa pada perekonomian masyarakat, termasuk di Jogja. Sebagai contoh Pasar Beringharjo. Saat ini tercatat ada 5.600 pedagang. Misal setiap pedagang memiliki satu karyawan, maka sudah 11.200 orang yang menggantungkan hidupnya di Pasar Beringarjo. Jumlah ini belum termasuk tukang becak, parkir ataupun buruh gendong.

Banyak anggapan apabila era digital bisa membuat pasar ilang kumandange atau pasar tidak dilirik lagi. Gunawan justru melihat pendigitalan bisa menguatkan pasar rakyat sekaligus penyesuaian di era serba teknologi seperti saat ini.

Pada masa ini, Dinas Perdagangan Jogja mencoba pendigitalan dalam transaksi dan pemasaran. Dalam transaksi pedagang dengan dinas maupun dengan pembeli didorong menggunakan sistem daring. “Dalam pembayaran retribusi pasar, Disdag menerapkan E-retribusi,” tutur Gunawan.

Begitupun dalam transaksi pedagang dan pembeli. Semua didorong secara daring. Selain transaksi, pemasaran menggunakan marketplace juga menjadi fokus Disdag. Tidak perlu membuat aplikasi baru tetapi bisa menggadeng start up yang memang konsen di bidang tersebut.

Lantaran ini di masa pandemi, penerapan protokol kesehatan selama kegaiatan di pasar rakyat juga yang utama. Termasuk upaya percepatan vaksinasi mendorong agar seluruh warga pasar menjadi lebih aman.