Wig Buatan Warga Binaan Rutan Wates Tembus Pasar Internasional

Warga binaan pemasyarakatan (WBP) Rutan Kelas II B Wates didorong untuk tetap produktif meskipun berada di dalam jeruji besi. Pembuatan wig menjadi salah satu upaya yang dilakukan oleh WBP. - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
21 September 2021 15:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Warga binaan pemasyarakatan (WBP) Rutan Kelas II B Wates didorong tetap produktif meskipun berada di dalam jeruji besi. Pembuatan wig menjadi salah satu upaya yang dilakukan oleh para narapidana. Bahkan, wig buatan WBP penjara atau Rutan Wates telah diekspor ke sejumlah negara.

Kepala Rutan Kelas II B Wates Deny Fajariyanto mengatakan pembuatan wig yang dilakukan oleh WBP merupakan upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh jawatannya. WBP didorong agar memiliki keterampilan dan keahlian lain sebagai bekal kembali ke masyarakat manakala sudah dinyatakan bebas.

BACA JUGA: Tengkorak & Kerangka Seperti dalam Posisi Ritual Tapa Pendem Ditemukan di Pantai Parangkusumo

"Dalam pembuatan wig, kami bekerjasama dengan PT Sung Chang Indonesia. Pengolahan wig keriting Butterfly hingga saat ini menjadi produk unggulan di Rutan Wates. Selama masa pandemi ini, pembuatan wig masih terus berjalan bahkan mengalami peningkatan produksi," ujar Deny, Selasa (21/9/2021).

Setiap hari WBP dapat menghasilkan sekitar 100 buah wig keriting Butterfly. Bahkan, selama masa pandemi dan diberlakukannya PPKM berjenjangm produksi wig justru mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

"Hingga saat ini produksi wig mengalami peningkatan cukup tajam. Bahkan, mencapai 400 wig per harinya. Wig hasil karya WBP tersebut akan diekspor ke luar negeri oleh PT Sung Chang Indonesia setelah finishing. Produksi wig PT Sung Chang Indonesia Kulonprogo cukup diminati di pasar luar negeri terutama pasar Eropa, Amerika dan Jepang," kata Deny.

Dari bimbingan kerja ini, selain mendapatkan keterampilan para WBP juga mendapatkan upah atau premi yang diberikan setelah penyetoran hasil wig yang telah dilakukan proses pengeritingan. Premi ini diberikan baik kepada WBP yang bersangkutan secara cashless (BRIZZI) atau keluarga dari WBP.

"Kegiatan ini tentunya memberikan semangat bagi WBP. Meskipun di tengah pandemi Covid-19, WBP masih tetap produktif, kemampuan kreativitas WBP mampu dikelola dengan baik dan tepat guna," kata Deny.

Deny menambahkan selama ini WBP yang ada di Rutan Wates telah diberi berbagai macam keterampilan, seperti menjahit, pertukangan, cukur rambut, dan mengelola lahan pertanian. "Butuh lebih dari keterampilan untuk bisa bertahan di dunia kerja, apalagi di tengah pandemi saat ini, persaingan menjadi lebih kompetitif," kata Deny.

BACA JUGA: Kronologi Penganiayaan Pakai Kotoran Manusia antara Napoleon Bonaparte Vs Muhammad Kece

Salah satu warga binaan Rutan Kelas II B Wates Dwi Kuncoro, 38, mengatakan program pembinaan yang dilakukan oleh Rutan Wates mampu memberikan kontribusi baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga.

"Hasil dari kegiatan ini saya mendapatkan premi yang bisa saya gunakan untuk keperluan sehari-hari selama di rutan serta dapat saya kirimkan ke keluarga. Saya merasa bangga karena hasil wig yang saya buat diekspor keluar negeri," imbuhnya.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada petugas Rutan Wates karena telah membekali saya dengan ketrampilan ini sehingga nantinya dapat saya gunakan ketika saya sudah bebas," kata pria yang tersandung kasus penggelapan ini.