Dusun di Bantul Penolak Tambang Pasir Bermunculan

GKR Hemas mengunjungi lokasi penambangan pasir di muara Sungai Opak pada Senin (19/4/2021)-Harian Jogja - Catur Dwi Janati
15 Oktober 2021 11:37 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL- Keberadaan aktivitas penambangan pasir di Kalurahan Trimurti, Srandakan, Bantul tidak hanya dikeluhkan oleh warga Padukuhan Nengahan.

Terbaru, warga di Padukuhan Sapu Angin, Trimurti juga mempersoalkan keberadaan aktivitas penambangan pasir di wilayahnya.
Salah satu warga Padukuhan Sapu Angin yang enggan disebutkan namanya mengatakan jika aktivitas penambangan pasir di wilayahnya dilakukan dengan menggunakan alat berat, yakni dengan jalan memakai mesin sedot. Padahal penggunaan mesin sedot dinilai akan merusak kelestarian alam.

"Untuk itu kami minta kepada bapak Kapolda DIY, Kapolres Bantul, Kepala Satpol PP DIY dan Bantul untuk segera menindaklanjuti aktivitas penambangan pasir dengan mesin sedot tersebut. Kehadiran GKR Hemas di lokasi tambang di Srandakan menjadi semangat kami bahwa yang kami lakukan dengan meminta aparat penegak hukum melakukan tindakan pada tambang ilegal tidaklah salah dan berlebihan," katanya, Jumat (15/10/2021).

Lurah Trimurti, Srandakan, Bantul, Agus Purwaka yang dikonfirmasi terpisah membenarkan adanya aktivitas tambang pasir dengan alat penyedot di Sapu Angin. Ia mengatakan ada beberapa titik penambangan pasir di Sapu Angin.

BACA JUGA: Akses Air Minum dari Pipa, Indonesia Kalah dari Vietnam

"Ada yang berizin dan ada yang tidak. Tapi untuk keluhan warga Sapu Angin, kami malah belum pernah mendengar. Karena selama ini kami belum pernah mendapatkan laporan dari mereka terkait keluh kesah adanya aktivitas penambangan disana," katanya.

Agus sendiri mengakui jika persoalan aktivitas penambangan pasir memang akan menjadi persoalan. Sebab ada pro dan kontra dari masyarakat. Ia juga membenarkan jika anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI GKR Hemas mendatangi lokasi penambangan pasir di wilayahnya, Senin (11/10) lalu.

"Untuk yang di Trimurti beliau hanya mengunjungi satu lokasi [Padukuhan Nengahan], lainnya di Poncosari," katanya.

Sementara dalam rilis yang diterima koran ini,
kunjungan GKR Hemas merupakan respons atas keluhan penambangan di Kali Progo di wilayah Padukuhan Nengahan.

Warga Nengahan Marsudi Harjono mengatakan berterimakasih atas kunjungan GKR Hemas. Sebab, warga sudah bingung harus mengadu kemana lagi terkait penambangan pasir di wilayahnya.

" Mohon dengan sangat ini (lokasi penambangan) segera ditutup," kata Marsudi.

Dijelaskan, penambangan sudah berlangsung sudah beberapa tahun terakhir. Bahkan dampak yang dihadapi warga yakni lahan di tepi sungai seluas lebih dari 8 hektare menjadi rusak. Selain itu, para penambang juga mengambil pasir di Kali Progo hingga kedalaman 20 meter.

Sejatinya, kata Marsudi, sebanyak 560 warga Padukuhan Nengahan dan Srandakan sudah melakukan penolakan disertai tanda tangan yang disertai fotokopi KTP di hadapan Dukuh Nengahan serta Kapolsek Srandakan. Untuk warga yang ikut menambang ada sebanyak 49 warga, sedangkan sisanya adalah warga di luar Nengahan.

Untuk mencegah penambangan meluas, Marsudi berharap lahan di bantaran Kali Progo yang merupakan tanah Kasultanan (Sultan Ground) agar segera diberi surat kekancingan dari keraton Ngayogyakarta Hadingrat."Kalau (lahan) sudah dikasih kekancingan, Gusti, warga sini jadi lebih manteb buat menjaganya," kata Marsudi.

Tokoh pemuda Padukuhan Nengahan Prayit membenarkan hal tersebut. penolakan warga atas pembukaan penambangan pasir di daerahnya sudah dimulai sejak 2016 silam. "Waktu itu, ada pengusaha yang ingin menambang di sini. Dan warga menolak," kata Prayit.

Selanjutnya, pada tahun 2017 warga juga sudah melaporkan keberatan aktivitas penambangan pasir tersebut kepada berbagai instansi terkait di Pemkab Bantul, namun tidak ada tanggapan hingga sekarang. Merasa tidak ditanggapi, warga akhirnya menempuh proses hukum namun kalah saat masalah itu dibawa ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). "Sekarang dalam proses kasasi," imbuh Prayit.

Prayit mengatakan, karena tidak mendapatkan kepastian, , warga akhirnya memutuskan mengadu kepada Keraton Yogyakarta.

Menanggapi permintaan warga, GKR Hemas mengaku akan menyampaikan langsung kepada Sultan Hamengku Buwono X agar segera ditindaklanjuti. "Saya sekarang sudah melihat sendiri. Untuk itu hal ini akan langsung saya sampaikan kepada Ngarsa Dalem agar bisa segera ditindak lanjuti," kata GKR Hemas

Setelah mengunjungi Srandakan, GKR Hemas yang didampingi cucunya RM Gustilantika Marrel Suryokusumo juga mengunjungi dam di wilayah Poncosari, Srandakan. "Itu lihat sendiri, bawahnya dam sudah digrowongi, disedot pasirnya. Sampai jebol damnya," ujar GKR Hemas