Menengok Ribuan Judul Buku & Audio Visual Perpustakaan TBY

Ruang dalam Perpustakaan TBY yang mempunyai ribuan koleksi buku dan arsip audio visual, Selasa (16/11). (Harian Jogja - Yosef Leon)
18 November 2021 05:07 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kebutuhan akan informasi dan referensi mengenai kesenian dan kebudayaan serta pengelolaan arsip dari ragam kegiatan, membuat kehadiran perpustakaan menjadi penting. Taman Budaya Yogyakarta (TBY) sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Dinas Kebudayaan DIY menilai bahwa perpustakaan adalah jendela bagi masyarakat luas untuk mengenal lebih dalam informasi kesenian dan budaya di wilayah setempat.

Sedikitnya 8.284 buku dan 5.313 judul menjadi koleksi perpustakaan TBY yang siap diakses oleh pengunjung atau pemustaka. Ribuan buku ini terdiri dari berbagai jenis disiplin ilmu, kemudian ada pula laporan kegiatan, kliping koran, juga foto kegiatan seni di TBY.

Selain itu ada pula berbagai koleksi audio visual berbentuk kaset yang mendokumentasikan berbagai kegiatan di TBY seperti acara teater, pameran, atau koleksi karya film Dinas Kebudayaan DIY.

Pustakawan Ahli Muda Perpustakaan TBY, Endrawati Kusumo Lukitosari   menerangkan beragam koleksi itu juga telah terintegrasi dengan layanan Senayan Library Management System (SLiMS). Layanan ini merupakan sistem automasi perpustakaan sumber terbuka (open source) berbasis situs web yang dikembangkan oleh Pusat Informasi dan Humas Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

"Penggunaan sistem ini akan mempermudah para pemustaka yang ingin melakukan eksplorasi pada koleksi perpustakaan TBY," katanya, Selasa (16/11).

Layanan SLiMS itu sebelumnya diusulkan kepada Dinas Perpustakaan dan Arsip DIY. Perpustakaan TBY kemudian mengadopsi layanan yang baru dihadirkan dan bisa diakses secara terbatas melalui perangkat komputer perpustakaan setempat. Pengunjung cukup memberitahu petugas jaga terkait dengan buku atau koleksi yang dicari, kemudian petugas akan membantu pencarian lewat layanan SLiMS tersebut.

"SLiMS ini seperti katalog yang bisa diakses dan akan menyertakan informasi berkaitan dengan koleksi buku yang ada di Perpustakaan TBY. Misalnya penulisnya, ketersediaannya berapa, atau yang lainnya. Jadi bisa memudahkan pengunjung saat mencari buku. Mereka juga bisa mencari dari rumah atau lewat telepon pintar kalau ke depan kami  kembangkan lagi," ungkap dia.

"Mengaksesnya langsung dari komputer di sini. Jadi dibantu dengan petugas nanti bisa dilayani untuk mencari buku apa. Misalnya buku A, petugas hanya tinggal mengetik kata kunci dan informasi soal ketersediaan buku, berada di rak mana dan nomor berapa, letaknya juga akan diperoleh. Tinggal mencari saja dan pastinya memudahkan."

Melalui Telepon Pintar

Endrawati mengatakan ke depan Perpustakaan TBY  berencana untuk mengembangkan layanan SLiMS. Nantinya, pemustaka atau pengunjung akan bisa melihat atau mencari koleksi buku atau koleksi lainnya di perpustakaan TBY hanya melalui telepon pintar di mana pun mereka berada.

Endrawati menambahkan saat ini beragam koleksi dari perpustakaan TBY itu hanya boleh diakses di lokasi. Sebagai perpustakaan khusus,  TBY belum memperbolehkan pengunjung meminjam, mengopi atau memperbanyak koleksi arsip dan juga bukunya. Namun begitu, pemustaka dibebaskan membaca dan mengakses beragam koleksi perpustakaan di lokasi dengan suasana perpustakaan yang telah disesuaikan untuk kenyamanan pengunjung.

"Sementara ini kami tidak bisa meminjamkan, hanya bisa diakses di tempat karena kami kan perpustakaan khusus," ujarnya.

Koleksi buku, laporan kegiatan, kliping koran atau dokumentasi foto bisa diakses di lantai satu perpustakaan yang tertata dengan rapi. Sementara untuk koleksi audio visual semacam kaset CD, TBY menempatkannya di lantai dua perpustakaan. Namun, pengelolaan dan sistem pengarsipan dari koleksi kliping atau kaset CD itu baru akan dimaksimalkan dalam beberapa waktu ke depan.

Tak hanya itu, Perpustakaan TBY juga akan melakukan pengelolaan secara bertahap untuk memaksimalkan Perpustakaan TBY bagi masyarakat.

"Kalau dalam dokumentasi kaset ini kami kerja sama dengan bagian Dokumentasi dan Informasi. Saat kegiatan mereka yang mendokumentasikan kemudian diolah dan diarsipkan dalam bentuk kaset sehingga kami simpan di sini di lantai dua. Itu hampir semua kegiatan, terutama acara yang bersifat besar. Rencananya di tahun depan akan kami olah dan dokumentasi yang dari sana akan kami olah lagi," ungkap dia. (ADV)