Jazz Syuhada: Belajar Sejarah Kotabaru Sambil NgeJazz

Para peserta saat tampil dalam acara Jazz Syuhada Ke-3 di Kompleks Monumen Serbuan Kotabaru, Jogja, Sabtu (27/11/2021) - Ist/Masjid Syuhada
28 November 2021 20:17 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA– Pengelola Masjid Syuhada menggelar Jazz Syuhada yang ke-3. Berlangsung secara hybrid, pertunjukan secara luring berlangsung di Kompleks Monumen Serbuan Kotabaru, Jogja.

Menurut Direktur Jazz Syuhada Ke-3, Ujar Budhi Hermanto, tema Nyawiji Migunani kali ini berarti bersama-sama dan bermanfaat bagi sesama. “Sebagai penyemangat kita semua dalam menghadapi pandemi Covid-19. Saya kira Jogja sudah cukup teruji menghadapi ragam bencana, mulai dari gempa bumi tahun 2006, erupsi Merapi 2010, dan sekarang pandemi Covid-19. Kebersamaan dan tulung-tinulung adalah kunci dalam menghadapi pagebluk itu,” kata Budhi dalam pembukaan Jazz Syuhada, Sabtu (27/11/2021).

Salah satu pendiri Jazz Syuhada, Aji Wartono, mengatakan apabila Jazz Syuhada pertama kali digelar tahun 2019 sebagai rangkaian acara Milad Masjid Syuhada ke-67. Kemudian pada 2020 digelar secara daring dan 2021 digelar secara hybrid. Adapun lokasi di Kompleks Museum Serbuan Kotabaru sebagai bagian dari pengenalan sejarah serbuan Kotabaru tanggal 7 Oktober 1945.

BACA JUGA: Sebanyak 134.500 Dosis Vaksin Novavax Tahap 135 Tiba di Indonesia

“Panitia Jazz Syuhada memutuskan untuk menyelenggarakan kegiatan di Kompleks Museum Serbuan Kotabaru sebagai upaya mengenalkan sejarah Kotabaru, sekaligus juga untuk memudahkan menjaga jumlah kerumunan orang,” kata Aji.

Menurut salah satu pengelola Masjid Syuhada, Rendra Agusta, ada banyak pihak yang terlibat dalam Jazz Syuhada tahun ini. Selain para remaja Masjid Syuhada, adapula remaja Gereja Katolik Kotabaru, Karang Taruna Kelurahan Kotabaru, Warga RW 3 dan 5 Kotabaru, Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, UKM Kesenian Unisa, dan sejumlah relawan.

“Jazz Syuhada lahir atas inisiatif beberapa pihak untuk mengenalkan kawasan bersejarah Kotabaru, sekaligus sebagai media perjumpaan berbagai ragam komunitas dengan latar belakang yang beragam untuk keharmonisan dan kehidupan yang inklusif di Jogja,” kata Rendra.

Dalam catatan sejarah, paska Prokamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Kotabaru masih dikuasi oleh tentara Jepang. Upaya pelucutan senjata Jepang di Kidobutai Kotabaru melalui perundingan terjadi pada 6 Oktober 1945, namun gagal. Pada 7 Oktober 1945, rakyat menyerang Kidobutai Kotabaru dan terjadilah pertempuran. Tentara Jepang akhirnya menyerah. Dalam pertempuran Kotabaru tersebut, 21 orang rakyat Indonesia gugur dan 32 luka-luka.