Geolog UGM: Potensi EBT 417 GW, Baru 2,5 Persen Dimanfaatkan

Para ahli geologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mendorong pemerintah mengoptimalkan pemanfaatan energi hijau di Indonesia saat peluncuran Buku Green Energy sebuah Keniscayaan di UC UGM, Sabtu (18 - 12) malam. Harian Jogja/Abdul Hamid Razak.
19 Desember 2021 14:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Para ahli geologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mendorong pemerintah mengoptimalkan pemanfaatan energi hijau di Indonesia. Salah satu strateginya dengan cara mengekang konsumsi energi fosil dan mengurangi drastis pemakaian batubara.

Ketua Alumni Teknik Geologi UGM Angkatan 1983 (Geo83) Anif Punto Utomo mengatakan Indonesia memiliki sumber energi hijau (energi baru terbarukan/EBT) yang melimpah, namun belum termanfaatkan optimal. Indonesia dan sejumlah negara lainnya hingga kini masih mengandalkan energi fosil (batubara dan migas) untuk membangkitkan energi.

"Saat ini Indonesia memiliki potensi EBT sejumlah 417,8 GW, sementara yang dimanfaatkan baru 2,5 persen atau 10,4GW," katanya di sela peluncuran Buku Green Energy sebuah Keniscayaan di UC UGM.

Sayangnya, lanjut Anif, panas bumi Indonesia yang memiliki potensi 29,3 GW baru dimanfaatkan hanya sekitar 8,9 %, bioenergi potensi 32,6 GW yang baru dimanfaatkan sekitar 5,8 %, bayu memiliki potensi 60,6 GW yang dimanfaatkan baru 0,3 %. Selain itu, potensi energi hidro 75 GW yang dimanfaatkan 8,2 %, energi surya memiliki potensi 207 GW yang dimanfaatkan 0,07 %, dan arus laut potensi 17,9 GW yang belum dimanfaatkan sama sekali.

Oleh karenanya, lanjut Anif, mewujudkan green energy di Indonesia selain merupakan tuntutan zaman juga sebuah keniscayaan. Buku "Green Energy" tidak hanya berupa pemikiran tetapi juga memberikan solusi dan rekomendasi dari para ahli geologi alumnus Teknik Geologi UGM Angkatan 1983.

Para penulis, lanjut Anif, memiliki latar belakang profesi beragam mulai dari pengelolaan sumber daya kebumian (geotermal, migas, mineral dan batubara), geologi teknik, hidrogeologi. Beberapa penulis juga berprofesi sebagai wartawan dan kalangan perbankan. Semua tulisan mengarah kepada maksimalisasi pemanfaatan energi hijau.

Anif mengatakan kesadaran manusia terhadap pengeloaan lingkungan yang bersih terus meningkat. Hal itu dilihat dari munculnya gerakan dan dorongan memanfaatkan sumber energi yang minim polusi dan dapat diperbarui.

Tak hanya itu, kegalauan tentang penggunaan energi fosil (brown energy) sudah menjadi fenomena global hingga muncul kesadaran kolektif dari para pemimpin dunia.

 

"Presiden China Xi Jinping pada Juni 2014 melakukan Revolusi Energi dari brown energy to green energy. Salah satu strateginya dengan mengekang konsumsi energi fosil dan mengurangi drastis pemakaian batubara," katanya.

Salah satu penulis buku "Green Energy", Adi Maryono mengatakan Indonesia juga memiliki bahan baku untuk energi hijau yakni mineral yang mendukung untuk pembuatan baterai (terutama) untuk mobil listrik. Indonesia, katanya, memiliki 25% dari cadangan nikel di seluruh dunia. Indonesia bahkan memiliki peran yang sangat strategis dan dominan dalam usaha dunia mewujudkan 'green energy'.

Direktur J Resource Asia Pacific ini menambahkan, Indonesia juga memiliki cadangan logam tanah jarang (rare earth element-REE) untuk pembuatan baterai. Cadangannya beraada di Sumatra, Bangka Belitung, Kalimantan, dan Sulawesi. "Sayang pengembangan REE masih terkendala pada ketersediaan regulasi yang tidak jelas dan belum memberikan stimulus pada pelaku usaha," kata Ketua IAGI periode 2014-2020 itu.

Soal protes Uni Eropa terkait kebijakan Presiden Jokowi yang melarang ekspor nikel, Adi menjelaskan kebijakan itu demi melindungi kepentingan nasional seperti masuknya investasi di bidang pengembangan nikel tanah air. Hingga saat ini sudah ada beberapa investor yang tertarik untuk pengembangan baterai mobil listrik seperti LG, CETL dan Hyundai.

“Kami akan kawal kebijakan Presiden itu meskipun ada politisasi internasional mengenai hal itu," katanya.