Advertisement

Qzruh dan Lawannya, Begini Geng-Geng Ini Bertanding dan Tunjukkan Eksistensi Diri

Bernadheta Dian Saraswati
Selasa, 25 Januari 2022 - 12:07 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Qzruh dan Lawannya, Begini Geng-Geng Ini Bertanding dan Tunjukkan Eksistensi Diri Ilustrasi kekerasan - JIBI

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA-Keberadaan geng pelajar di Jogja sepertinya tiada habisnya. Eksistensinya seakan turun-temurun dan menjadi kisah tersendiri di setiap masanya.

Bahkan Polda DIY sempat menyebut pada akhir tahun lalu bahwa hampir semua SMA di DIY punya geng pelajar. Hal itu berdasarkan hasil himpun data dari Polres dan Polresta. 

Klithih, sebuah kenakalan yang pelakunya banyak dari kalangan remaja, lantas dikaitkan dengan geng-geng pelajar ini. Namun apakah memang demikian adanya? Apakah klithih yang terus menjadi momok masyarakat saat keluar malam ini selalu dilakukan geng-geng itu?

Sedari puluhan tahun, Jogja sudah punya geng besar tersohor. Namanya Qzruh (QZR) yang merupakan akronim dari Qita Zuka Ribut untuk Hiburan. Dari namanya saja sudah tampak kelompok ini sangat menyukai keributan.

QZR yang lahir di era 1983, punya daerah kekuasaan di utara rel sepur. Sementara di wilayah selatan dikuasai geng besar lainnya bernama Joxzin (JXZ) alias Joxo Zinthing. Joxzin awalnya dari frasa Pojox Bensin yang mengarah pada pojokan Alun-Alun yang dulunya menjadi markas atau tongkrongan anak-anak JXZ ini.

“Karena sering diwarahi [berkomunikasi] kisruh wae po piye [ramai saja atau bagaimana?] gitu, Sebenarnya kita kumpul-kumpul itu tidak ada apa-apa, suwe-suwe yowes gawe geng wae Qzruh [lama-lama jadi sepakat membuat geng Qzruh,” kata sesepuh Geng Qzruh, Bayu Wempi Pribadi, saat berbincang dengan Harian Jogja, Minggu (23/1/2022).

Baca juga: Mengenal Qzruh, Geng Legendaris Kota Jogja yang Masih Eksis Sampai Sekarang

Jika kenalakan remaja di masa kini dilampiaskan dengan aksi klithih yang justru melukai orang lain di luar geng, bagaimana bentuk kenakalan anak-anak geng QZR dan JXZ masa itu?

Melansir dari berbagai sumber, QZR dan JXZ kerap terlibat bentrok secara frontal. Mereka “turun ke jalan” memanfaatkan momen tahun baru, takbiran, dan momen-momen besar lainnya. Keduanya akan bertemu dan saling serang. Bisa salah satu menyerang di wilayah lawan atau janjian di sebuah tempat.

Sajam alias senjata tajam memang sudah membudaya sejak dulu. Bacok musuh dari belakang, bukanlah menjadi hal yang asing yang mereka lakukan saat perang.

Advertisement

Keduanya sama-sama berlomba menunjukkan eksistensi diri. Salah satu cara paling simpel yang sering dilakukan adalah menuliskan nama geng mereka dalam seni grafitti di sudut-sudut kota, bahkan di rumah-rumah warga. Mereka menorehkan namanya, QXR atau JXZ, dengan pylox ataupun cat di tembok-tembok dan pagar.

Pylox hijau, biasanya jadi identitas JXZ. Sementara hitam atau merah milik QZR. Terkesan kotor, tetapi begitulah mereka menunjukkan diri mereka. 

Aksi itu mereka lakukan di tengah-tengah aksi konvoi bersama anggota. Tak jarang nama penulisnya juga turut disertakan di samping nama gengnya, misalnya QZR Bagong atau JXZ Gareng.

Advertisement

Coretan itu tidak hanya dilakukan di wilayahnya sendiri. Jika menemukan tulisan geng lain di wilayah yang dikuasainya, mereka akan mencoretnya dengan memberi tanda silang dan diganti dengan nama gengnya sendiri serta nama anggota yang melakukannya.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Ini Tanggapan PKS Terkait NasDem Deklarasikan Anies jadi Capres

News
| Senin, 03 Oktober 2022, 15:57 WIB

Advertisement

alt

Rasakan Sensasi Makan Nasgor Bercitarasa Tengkleng ala Grage Ramayana Hotel

Wisata
| Senin, 03 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement