Habiskan Rp160 Juta, Program Pakan Monyet Gunungkidul Tak Efektif
DLH Gunungkidul menghentikan program pakan monyet ekor panjang pada 2027 karena dinilai tak efektif mencegah konflik dengan warga.
Sejumlah petugas memeriksa dan mengevakuasi sapi yang mati mendadak di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, Kamis (27/6/2019)./Istimewa
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Antraks di Gunungkidul meluas. Sedikitnya 15 hewan ternak di mati akibat terjangkit penyakit antraks. Sementara 23 warga menunjukkan gejala mirip antraks.
Antraks adalah penyakit infeksi yang menular dari hewan ternak. Manusia dapat terkena antraks apabila menyentuh atau memakan daging hewan yang terkena antraks. Antraks disebabkan bakteri Bacillus anthracis. Gejala antraks bermacam-macam, mulai dari benjolan di wajah, leher, serta lengan, hingga mual dan muntah dan demam.
BACA JUGA: Gawat! 10 Warga Gunungkidul Diduga Terpapar Penyakit Antraks
Pemkab Gunungkidul menggelar pertemuan dengan Balai Besar Wates untuk penanggulangan persebaran penyakit antraks di Kantor Setda Gunungkidul, Senin (31/1/2022). Pertemuan ini dilakukan setelah dalam rentang waktu yang hampir bersamaan ditemukan dua kasus positif antraks terhadap hewan ternak miliki warga.
Penyakit ini diduga telah menular ke manusia karena ada puluhan warga yang mengalami gejala antraks seperti tangan melepuh. Kasus berada di Kalurahan Gombang, Ponjong dan Hargomulyo, Gedangsari.
Sekretaris Dinas Kesehatan Gunungkidul, Azis Saleh mengatakan, kasus antraks pertama kali mencuat di Kalurahan Gombang di akhir 2021 lalu. Namun temuan ini baru dilaporkan belum lama ini sehingga penyelidikan epidemiologi baru dilaksanakan pada 24 Januari lalu.
Kasus kedua terjadi di Kalurahan Hargomulyo, Gedangsari. Kasus ini terjadi pada 19 Januari, namun baru dilaporkan pada 27 Januari. “Kasus Gombang terjadi lebih dulu, baru kemudian di Hargomulyo,” kata Azis, Senin (31/1/2022).
Dia menjelaskan, untuk kasus di Gombang bukan yang pertama kali karena di 2019 lalu, juga terjadi peristiwa yang sama. Hasil penyelidikan awal didapatkan ada kesamaan antara kasus di Gombang dan Hargomulyo, yakni diawali hewan ternak yang mati mendadak kemudian dibrandu guna dibagi-bagikan ke masyarakat yang mengikuti iuran. “Harusnya ternak yang mati ini dikubur, tapi oleh warga dibrandu dengan cara iuran sejumlah uang kemudian diserahkan ke pemilik ternak. Lantas, dagingnya dibagi-bagikan ke warga,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty menambahkan, sudah mengirimkan ke BB Litvet Bogor 23 sampel yang terdiri dari 13 warga Gombang dan sepuluh orang dari Hargomulyo. Pengiriman sampel dilakukan karena warga mengalami gejala mirip antraks, seperti tangan melepuh. “Bahkan ada satu warga yang sampai dirujuk ke RSUD Wonosari,” katanya.
Menurut dia, hingga sekarang masih menunggu hasil dari pengetesan sampel warga yang mengalami gejala penyakit zoonosis. Upaya pemantauan juga terus dilakukan selama kurang lebih 120 hari dengan melibatkan petugas puskesmas setempat, warga hingga tokoh masyarakat.
BACA JUGA: JJLS Gunungkidul Punya Panjang 80 Km, Tersambung Sepenuhnya 2 Tahun Lagi
Kepala Balai Besar Veteriner Wates, Hendra Wibawa mengatakan, ada 15 hewan ternak di Gunungkidul yang mati dan terkonfirmasi positif bakteri penyebab antraks. Rinciannya, ada 11 sapi dan empat kambing. “Lima sapi dari Kapanewon Ponjong [Gombang] dan enam ekor lainnya dari Gedangsari [Hargomulyo]. Sedangkan untuk kambing pada temuan kasus, masing-masing ada dua ekor,” katanya.
Hendra mengungkapkan sudah mengeluarkan rekomendasi agar tidak boleh ada keluar masuk dari lokasi penularan sampai pengendalian selesai. Selain itu, upaya penanggulangan juga dengan cara pengobatan secepatnya di zona terinfeksi, dan dilanjutkan vaksinasi lokasi sekeliling.
Bupati Gunungkidul Sunaryanta menginstruksikan agar jajaran terkait segera melaksanakan rekomendasi dari Balai Besar Veteriner. Langkah yang diambil dengan vaksinasi hingga pengobatan pada ternak yang dicurigai terpapar.
“Penanggulangan agar persebaran tidak meluas. Untuk warga tidak usah panik atau khawatir karena penanganan dipastikan segera berjalan, termasuk pada warga yang diduga terpapar antraks,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DLH Gunungkidul menghentikan program pakan monyet ekor panjang pada 2027 karena dinilai tak efektif mencegah konflik dengan warga.
Toyota Corolla generasi baru diproyeksikan hadir pada 2028 dengan opsi bensin, hybrid, PHEV, dan EV. Simak bocoran spesifikasi dan harganya.
FIFA menjatuhkan skorsing kepada Hossam Hassan, Ibrahim Hassan, dan Mostafa Zico usai kontroversi wasit dalam laga Mesir vs Argentina.
Cek harga emas Antam, Galeri 24, dan UBS di Pegadaian Selasa, 20 Oktober 2026, lengkap dengan daftar harga jual dan buyback berbagai ukuran.
Apple menggelar Pro and Tell pada 28 Oktober 2026. MacBook Pro layar sentuh OLED dan iPad mini OLED dirumorkan meluncur.
Manchester City menghadapi proses banding kasus finansial. Simak kabar usulan pengurangan 80 poin, denda 100 juta pound, dan status sanksi resminya.