Advertisement

15 Ternak di Gunungkidul Mati karena Antraks, 23 Warga Diduga Tertular

David Kurniawan
Selasa, 01 Februari 2022 - 20:07 WIB
Budi Cahyana
15 Ternak di Gunungkidul Mati karena Antraks, 23 Warga Diduga Tertular Sejumlah petugas memeriksa dan mengevakuasi sapi yang mati mendadak di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, Kamis (27/6/2019). - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, GUNUNGKIDULAntraks di Gunungkidul meluas. Sedikitnya 15 hewan ternak di mati akibat terjangkit penyakit antraks. Sementara  23 warga menunjukkan gejala mirip antraks.

Antraks adalah penyakit infeksi yang menular dari hewan ternak. Manusia dapat terkena antraks apabila menyentuh atau memakan daging hewan yang terkena antraks. Antraks disebabkan bakteri Bacillus anthracis.  Gejala antraks bermacam-macam, mulai dari benjolan di wajah, leher, serta lengan, hingga mual dan muntah dan demam.

BACA JUGA: Gawat! 10 Warga Gunungkidul Diduga Terpapar Penyakit Antraks

Pemkab Gunungkidul menggelar pertemuan dengan Balai Besar Wates untuk penanggulangan persebaran penyakit antraks di Kantor Setda Gunungkidul, Senin (31/1/2022). Pertemuan ini dilakukan setelah dalam rentang waktu yang hampir bersamaan ditemukan dua kasus positif antraks terhadap hewan ternak miliki warga.

Penyakit ini diduga telah menular ke manusia karena ada puluhan warga yang mengalami gejala antraks seperti tangan melepuh. Kasus berada di Kalurahan Gombang, Ponjong dan Hargomulyo, Gedangsari.

Sekretaris Dinas Kesehatan Gunungkidul, Azis Saleh mengatakan, kasus antraks pertama kali mencuat di Kalurahan Gombang di akhir 2021 lalu. Namun temuan ini baru dilaporkan belum lama ini sehingga penyelidikan epidemiologi baru dilaksanakan pada 24 Januari lalu.

Kasus kedua terjadi di Kalurahan Hargomulyo, Gedangsari. Kasus ini terjadi pada 19 Januari, namun baru dilaporkan pada 27 Januari. “Kasus Gombang terjadi lebih dulu, baru kemudian di Hargomulyo,” kata Azis, Senin (31/1/2022).

Dia menjelaskan, untuk kasus di Gombang bukan yang pertama kali karena di 2019 lalu, juga terjadi peristiwa yang sama. Hasil penyelidikan awal didapatkan ada kesamaan antara kasus di Gombang dan Hargomulyo, yakni diawali hewan ternak yang mati mendadak kemudian dibrandu guna dibagi-bagikan ke masyarakat yang mengikuti iuran. “Harusnya ternak yang mati ini dikubur, tapi oleh warga dibrandu dengan cara iuran sejumlah uang kemudian diserahkan ke pemilik ternak. Lantas, dagingnya dibagi-bagikan ke warga,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty menambahkan, sudah mengirimkan ke BB Litvet Bogor 23 sampel yang terdiri dari 13 warga Gombang dan sepuluh orang dari Hargomulyo. Pengiriman sampel dilakukan karena warga mengalami gejala mirip antraks, seperti tangan melepuh. “Bahkan ada satu warga yang sampai dirujuk ke RSUD Wonosari,” katanya.

Menurut dia, hingga sekarang masih menunggu hasil dari pengetesan sampel warga yang mengalami gejala penyakit zoonosis. Upaya pemantauan juga terus dilakukan selama kurang lebih 120 hari dengan melibatkan petugas puskesmas setempat, warga hingga tokoh masyarakat.

Advertisement

BACA JUGA: JJLS Gunungkidul Punya Panjang 80 Km, Tersambung Sepenuhnya 2 Tahun Lagi

Kepala Balai Besar Veteriner Wates, Hendra Wibawa mengatakan, ada 15 hewan ternak di Gunungkidul yang mati dan terkonfirmasi positif bakteri penyebab antraks. Rinciannya, ada 11 sapi dan empat kambing. “Lima sapi dari Kapanewon Ponjong [Gombang] dan enam ekor lainnya dari Gedangsari [Hargomulyo]. Sedangkan untuk kambing pada temuan kasus, masing-masing ada dua ekor,” katanya.

Hendra mengungkapkan sudah mengeluarkan rekomendasi agar tidak boleh ada keluar masuk dari lokasi penularan sampai pengendalian selesai. Selain itu, upaya penanggulangan juga dengan cara pengobatan secepatnya di zona terinfeksi, dan dilanjutkan vaksinasi lokasi sekeliling.

Advertisement

Bupati Gunungkidul Sunaryanta menginstruksikan agar jajaran terkait segera melaksanakan rekomendasi dari Balai Besar Veteriner. Langkah yang diambil dengan vaksinasi hingga pengobatan pada ternak yang dicurigai terpapar.

“Penanggulangan agar persebaran tidak meluas. Untuk warga tidak usah panik atau khawatir karena penanganan dipastikan segera berjalan, termasuk pada warga yang diduga terpapar antraks,” katanya.

 

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Dari Bidang Makanan sampai Kesehatan, 21 CEO Meraih Achievement Award

News
| Minggu, 02 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

alt

3 Rekomendasi Glamcamp Seru di Jogja

Wisata
| Sabtu, 01 Oktober 2022, 17:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement