Advertisement

Di Tangan Perempuan Ini, Peternakan Tak Lagi Bau

Lajeng Padmaratri
Senin, 07 Februari 2022 - 10:07 WIB
Arief Junianto
Di Tangan Perempuan Ini, Peternakan Tak Lagi Bau Vita Krisnadewi. - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA--Sektor peternakan yang masih didominasi kaum tua menjadi alasan perempuan bernama lengkap Vita Krisnadewi mengembangkan sebuah peternakan agar dilirik anak muda. Di peternakan bernama Sinatria Farm itu, dia juga mengisi kelas beternak secara gratis.

Dunia peternakan sejak lama telah menjadi minat Vita. Perempuan 45 tahun itu pun membuat sebuah peternakan modern dengan harapan bisa menarik minat anak muda untuk beternak.

Pasalnya, Vita melihat bahwa selama ini dunia peternakan masih banyak ditekuni oleh peternak tua. Dibandingkan sektor pertanian yang sudah mulai disusupi anak-anak muda yang berminat untuk jadi petani, sektor peternakan masih kalah jauh. Anggapan bahwa beternak itu bau dan sulit dilakukan masih menunda anak muda bergerak.

Namun, menurut alumnus Fakultas Peternakan UGM ini kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan. Suatu hari, peternak tua itu akan pensiun dan butuh penerus. Apalagi, populasi ternak di Indonesia masih minim, sementara setiap hari konsumsi masyarakat terhadap hewan ternak cukup besar.

"Anak muda harus didorong dan dibekali. Makanya kita berpikir apa yang menarik untuk anak muda agar mau beternak," ujar Vita kepada Harianjogja.com, Senin (31/1/2022).

Berbekal ilmunya, dia pun membuat kandang tanpa bau di peternakan domba yang terletak di Harjobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman. Kandang yang disebutnya sebagai kandang terkoleksi itu mampu memisahkan urine dan feses ternak serta mengoleksinya sehingga memudahkan dalam membersihkan kandang.

Sejak 2018, inovasi itu dilakukannya untuk mewujudkan peternakan modern agar menarik minat calon peternak muda. Dibantu suaminya, dia membuat desain kandang dengan baja ringan dan lantai dari plastik. Kesannya, peternakan jadi lebih bersih dibandingkan peternakan domba pada umumnya.

Inovasi itu rupanya menarik minat orang untuk mengunjungi Sinatria Farm. Tak berhenti di situ, Vita kembali membuat inovasi dengan menghadirkan kandang umbaran dengan desain modern pula.

Semakin banyak pula masyarakat yang berminat dengan konsep peternakan modern tersebut. "Banyak mahasiswa yang ke sini, bertanya soal cara beternak tanpa bau. Mereka juga punya ide lain soal bisnis peternakan. Ada juga anak muda yang datang sekadar foto-foto. Tapi karena sering menerima pertanyaan yang sama setiap hari dari tamu, saya terpikir untuk bikin kelas," ujar Vita.

Dia pun menawarkan kelas gratis ke anak muda untuk belajar soal sektor peternakan. Kelas gratis itu ia rancang agar bisa diikuti siapapun terlepas dari latar belakang studi yang berbeda. Setiap Selasa sampai Kamis, mereka akan belajar soal model bisnis peternakan di pendopo timur peternakan.

Advertisement

Tak Sekadar Budi Daya

Setiap kali tamu datang ke Sinatria Farm, Vita memperhatikan bahwa mereka ingin tahu soal budi daya ternak. Namun, yang Vita sampaikan di kelas tak hanya itu. Ia menyampaikan berbagai gambaran dan peluang dari banyak hal yang mendukung sektor peternakan.

"Banyak yang berpikir beternak itu gampang. Kalau enggak sempat ngasih makan, bisa diumbar aja. Memang itu konsep paling mudahnya, tetapi di balik itu kan ada manajemennya. Maka yang saya sampaikan di kelas itu lebih banyak soal realitas. Saya ingin menyelamatkan teman-teman yang sudah investasi kandang, punya ternak, tapi enggak punya wawasan dan ternaknya harus mati lalu kandang ditutup," ungkap Vita.

Advertisement

Untuk meminimalkan risiko saat memulai beternak bagi pemula, dia menyampaikan banyak fakta seputar beternak di kelas gratisnya. Sebab, beternak tidak hanya soal budi daya, melainkan juga banyak aspek mulai dari persiapan lahan, dana, target pasar, menyediakan alat pendukung, bangunan, serta sumber daya manusianya.

"Pulang dari kelas hari ketiga, bisa jadi mereka yang ikut kelas sudah nggak pengen jadi peternak. Tapi, mereka akan memilih salah satu sistem pendukung dari peternakan. Yang enggak punya passion budi daya, misalnya anak teknik mesin, bisa membantu membuat alat-alat peternakan yang memudahkan peternak. Atau mahasiswa jurusan lain bisa riset soal tali ternak atau mineral block," ucap dia.

Setelah mengikuti kelas selama tiga hari itu, para peserta bisa lanjut ke kelas lanjutan atau program magang lainnya. Mereka bisa memilih minatnya mendalami sektor peternakan khususnya di bidang apa. Meski tidak lanjut di aspek budi daya, tetapi Vita beranggapan bahwa anak muda yang ikut kelasnya selalu menemukan jawaban soal minat mereka di sektor peternakan.

"Hasilnya, sekarang ada 2.400 lebih alumni dari kelas belajar formal setiap Selasa-Kamis itu. Mereka ada yang memanfaatkan lahan desa, ada juga yang terserap ke beberapa peternakan," kata dia.

Advertisement

Selain itu, Sinatria Farm juga telah mendampingi 300 kandang lebih untuk mewujudkan peternakan modern. Kini, mereka tengah fokus untuk melakukan digitalisasi peternakan berbasis artificial intelligence (AI) dan Internet of things (IoT).

Ala Kampus

Sebelum mendirikan Sinatria Farm, Vita merupakan dosen di Universitas Mulawarman, Samarinda. Dia keluar pada 2013 lantaran ingin fokus mengurus anaknya yang saat itu tengah sakit. Begitu anaknya sembuh, ia pun mencari kegiatan dengan merintis peternakan.

Advertisement

Lantaran pernah menjadi dosen Peternakan, Vita pun banyak menerapkan riset soal peternakan untuk Sinatria Farm. Dia juga mengakui lebih metodologis ketika mengisi kelas peternakan untuk anak muda. Apalagi, bagi mahasiswa yang ingin praktik kerja lapangan di peternakannya, Vita mengharuskan mereka membuat proposal terlebih dahulu serta mengumpulkan laporan setelah usai praktik.

"Saya juga sering kasih tantangan ke anak muda. Kamu mau bikin apa selama belajar di sini. Jangan cuma ikut program kami aja kalau PKL, cari ide untuk riset, malah sekalian bisa untuk tugas akhir," kata dia.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Arkeolog Temukan Gigi Berusia 1,8 Juta Tahun di Georgia

News
| Senin, 03 Oktober 2022, 11:27 WIB

Advertisement

alt

Rasakan Sensasi Makan Nasgor Bercitarasa Tengkleng ala Grage Ramayana Hotel

Wisata
| Senin, 03 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement