DBD di Gunungkidul Turun saat Kemarau, Warga Tetap Diminta Siaga
Kasus DBD di Gunungkidul turun saat kemarau, namun warga tetap diminta waspada karena potensi penularan masih ada.
Pembuatan kain tenun yang menggunakan alat bukan mesih di Dusun Pencil, Bendung, Semin, Gunungkidul, Senin (14/3/2022)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Warga Dusun Pencil, Bendung, Semin, Gunungkidul mengembangkan kerajinan yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Hasil tenunan berupa sarung goyor sudah dipasarkan ke mancanegara mulai dari Somalia di Benua Afrika hingga negara-negara di kawasan Timur Tengah.
BACA JUGA: Ada Kasus Korupsi, Dana Desa di Getas Gunungkidul Belum Bisa Dicairkan
Pemilik kerajinan, Mardi Mulyono, mengatakan usaha tenun bukan mesin ini dirintis sejak 2021 lalu. Hingga sekarang sudah ada sepuluh pekerja dan dia akan menambah tenaga untuk menambah proses produksi.
“Untuk ATBM sudah ada 17. Tapi, yang digunakan baru sepuluh. Rencananya, mau menambah tenaga lagi,” kata Mardi saat ditemui di rumahnya, Senin (14/3/2022).
Usaha yang digeluti belum lama, tapi produksinya sudah berjalan dengan lancar. Setiap bulan minimal dia bisa memproduksi kain sarung goyor sebanyak 30 lembar dengan panjang masing-masing sekitar 480 centimeter.
Menurut Mardi, proses produksi belum bisa dikebut karena perajin masih belum ahli sehingga butuh proses belajar untuk membiasakan diri. Selain itu, pembuatan benar-benar manual sehingga tidak bisa secepat pada saat menggunakan mesin. “Memang butuh proses. Tapi, saya dan istri terus membantu untuk sisi kualitas dan perbaikan alat-alat kalau ada yang rusak,” katanya.
Ia sudah bekerja sama dengan supplier di Sragen, Jawa Tengah. Hasil kerajinan sarung goyor akan ditampung kemudian dipasarkan ke luar negeri seperti Somalia dan negara-negara di Timur Tengah. “Memang tujuannya ke negara yang memiliki cuaca panas. Sebab, pada saat dipakai berasa adem,” tutur dia.
Harga kain bervariasi dan disesuaikan dengan motif dan bahan bakunya. Kain tenun yang dihasilkan dijual di kisaran Rp600.000 hingga Rp1 juta per jelai. “Kelasnya masih menengah. Kalau di atasnya lebih dari Rp1 juta per kainnya,” ungkapnya.
Lurah Bendung, Semin, Didik Rubiyanto mendukung pengembangan kain tenun yang menggunakan teknologi ATBM. Menurut dia, prospek usaha sangat bagus dan juga menjadi salah satu kerajinan unggulan di Kecamatan Semin.
“Sudah ada lampu hias di Dusun Garotan. Sekarang kain tenun di Dusun Pencil,” katanya.
Selain itu, dengan usaha kerajinan ini ada warga yang ikut menggantungkan hidup dengan pembuatan tenun di Gunungkidul. “Mudah-mudahan lancar dan ekonomi para perajin bisa ikut meningkat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus DBD di Gunungkidul turun saat kemarau, namun warga tetap diminta waspada karena potensi penularan masih ada.
Jadwal KRL Solo–Jogja Jumat 3 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, cek jam keberangkatan terbaru di sini.
KPK periksa istri dan anak eks Sekjen MPR Ma’ruf Cahyono, telusuri aset dugaan gratifikasi Rp17 miliar.
Jadwal KRL Jogja–Solo Jumat 3 Juli 2026 lengkap dari pagi hingga malam. Tarif Rp8.000, cek waktu keberangkatan di sini.
Harga bahan pokok di Sleman turun selama Juni 2026, diduga akibat liburnya program MBG saat libur sekolah.
B50 resmi berlaku, tekan impor BBM namun berisiko picu krisis minyak goreng dan beban subsidi akibat harga CPO.