Advertisement

Tak Hanya 3R, Ini Upaya Komunitas Eco Migunani saat Kelola Sampah

Lajeng Padmaratri
Sabtu, 16 April 2022 - 08:17 WIB
Arief Junianto
Tak Hanya 3R, Ini Upaya Komunitas Eco Migunani saat Kelola Sampah Salah satu anggota Eco Sae Migunani mengisi komposter. - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL--Di Perum Graha Banguntapan, ada sebuah perkumpulan ibu-ibu yang giat mengedukasi warga untuk memilah sampah. Lewat kelompok yang dinamai Paguyuban Eco Sae Migunani, mereka ingin warga bisa menerapkan gaya hidup minim sampah.

Mulanya, sekelompok ibu-ibu di Perum Graha Banguntapan yang berlokasi di Joho, Kalurahan Jambidan, Kapanewon Banguntapan, Bantul ini sudah aktif dalam kegiatan pilah sampah melalui bank sampah sejak 2015. Bank sampah itu bernama Berdikari Sejahtera.

Advertisement

Kegiatan bank sampah itu meliputi pemilahan sampah anorganik di lingkup rumah tangga dan penyetoran bank sampah ke pengepul. Yomi Windri Asni, salah satu pengelola bank sampah tersebut, menuturkan keberadaan bank sampah itu diharapkan bisa mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPST Piyungan di Bantul.

BACA JUGA: Pemkab Cemas Wisatawan Ogah Berwisata ke Bantul Gegara Kekerasan Jalanan

Tak hanya menampung sampah dari warga yang tinggal di perumahan setempat, bank sampah itu juga memiliki nasabah dari luar perumahan. Hal itu membuat ibu-ibu pengelola bank sampah bersemangat dalam menyebarkan edukasi pemilahan sampah.

Setahun terakhir, kegiatan edukasi yang dilakukan kelompok ibu-ibu itu meluas dari sekadar bank sampah. Mereka mengembangkan banyak kegiatan edukasi gaya hidup minim sampah melalui sebuah wadah yaitu Paguyuban Eco Sae Migunani.

"Dari bank sampah, kami bikin paguyuban. Kegiatannya mulai dari membentuk koperasi, edukasi 6R, pembuatan sabun natural berbahan ampas, serta komposter komunal," tutur Yomi.

Prinsip 6R bisa dibilang sebagai perpanjangan dari 3R, yakni reduce, reuse, dan recycle. Kemudian terdapat penambahan yaitu rethink, refuse, dan repair.

Konsep ini mengacu pada upaya mencegah timbulan sampah dalam setiap kegiatan sehari-hari.

Advertisement

Komunitas ibu-ibu peduli lingkungan itu pun banyak melakukan kegiatan edukasi kepada warga Perum Graha Banguntapan. Meski demikian, mereka berharap sasarannya bisa meluas ke warga di luar perumahan.

"Belum lama ini kami digandeng oleh salah satu yayasan untuk membuat lokakarya online, materinya dari pilah sampah, mengompos, dan membuat sabun. Yang ikut ibu-ibu dari 35 kabupaten se-Indonesia," imbuh Rini Dewi Safitri, anggota paguyuban yang lain.

Selain kegiatan online, paguyuban juga mengadakan sesi edukasi secara langsung. Selain edukasi untuk warga perumahan, Paguyuban Eco Sae Migunani tengah aktif berkunjung ke sekolah-sekolah untuk mengedukasi gaya hidup minim sampah kepada siswa.

"Agenda kami terdekat menerima siswa-siswa itu berkunjung kesini. Kemarin kami sudah ke sekolah mereka dan banyak cerita tentang pilah sampah, sekarang saatnya mereka lihat langsung bank sampah dan komposter di sini," lanjut Yomi.

Komposter Komunal

Sebagai komunitas beranggotakan 11 orang ibu, mereka mengakui jika mereka lebih banyak menggaet para ibu di kawasan perumahan setempat untuk mengikuti gaya hidup minim sampah yang mereka terapkan.

Mulai dari memilah sampah, setor sampah anorganik ke bank sampah, hingga membuat sistem komposter sendiri di rumah untuk manajemen sampah organik. Namun, diakui bahwa belum semua warga tergerak untuk menerapkannya dengan berbagai alasan.

"Soal mengompos, alasannya kebanyakan itu karena nggak punya lahan, keterbatasan waktu, dan bapak-bapaknya nggak setuju kalau muncul magot [belatung] di kompos mereka di rumah," tutur Yomi.

Berbagai alasan itu kemudian coba diatasi dengan paguyuban membentuk sebuah komposter komunal. Harapannya, warga yang tidak punya lahan, tidak punya waktu untuk mengolah, dan ingin rumahnya terbebas dari kemunculan magot hasil komposter bisa memanfaatkan komposter komunal itu untuk membuang sampah organik.

Kini, di depan pintu masuk perumahan tersebut, sudah diletakkan empat boks komposter. Boks pertama untuk bank daun kering, boks kedua untuk tempat membuang sampah rumah tangga, boks ketiga untuk komposter setengah jadi, serta boks keempat untuk komposter jadi.

Warga Perum Graha Banguntapan bisa menyetor sampah dapur mereka ke komposter tersebut setelah dipisahkan dari sampah anorganik. Setelah beberapa waktu, kompos itu bisa dipanen untuk digunakan bercocok tanam.

Yomi menuturkan sudah ada 25 warga yang memanfaatkan komposter itu. Angka itu di luar anggota paguyuban, sebab mereka sudah melakukan pengomposan mandiri di rumah. "Desain awalnya kita peruntukan komposter ini untuk 170 kepala keluarga. Jadi penuhnya lama," imbuh Dewi.

Esaputri Purwandari, anggota lainnya, menambahkan kesadaran masyarakat untuk mengompos masih minim. Keberadaan komposter pribadi saja masih minim ditemukan, apalagi komposter komunal.

"Saya kemarin ngisi edukasi kepada 30 dusun di Bantul, itu enggak ada yang punya komposter komunal. Komposter pribadi saja masih minim. Warga dusun taunya jogangan [lubang tanah] untuk buang sampah," ucap Putri.

Komposter disebutnya lebih bermanfaat untuk kelestarian lingkungan daripada jogangan. Sebab, sampah sudah terpilah dan yang dimasukkan ke komposter merupakan sampah organik. Sementara, sampah yang dimasukkan ke jogangan umumnya belum terpilah.

Padahal, sampah organik yang diolah dalam komposter bisa dijadikan pupuk organik. Hal ini bisa membuat tanaman lebih sehat jika digunakan untuk sektor pertanian.

Paguyuban berharap kegiatan komposter yang mereka lakukan bisa dilanjutkan dengan membuat kebun komunal di perumahan. Lebih dari pada itu, mereka juga berharap semakin banyak masyarakat yang mereplikasi komposter komunal yang mereka aplikasikan.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement