Libur Sekolah Dongkrak Okupansi Hotel DIY, Tembus 80 Persen
Okupansi hotel di DIY saat libur sekolah mencapai 80%. PHRI mencatat kenaikan tamu, meski biaya operasional hotel meningkat hingga 20%.
Suasana Teras Malioboro 1, Jogja, Sabtu (19/2/2022) malam/Harian Jogja-Sirojul Khafid.\r\n
Harianjogja.com, JOGJA- Sudah hampir tiga bulan sejak 1 Februari 2022, pedagang kaki lima (PKL) direlokasi ke Teras Malioboro 1 dan 2. Pedagang mengeluh sejak dipindah, penjualan turun drastis, bahkan kadang dalam satu hari tidak laku sama sekali.
Hal tersebut dikeluhkan oleh Budiyanti (55) salah satu pedagang pakaian. Dia bercerita sebelum direkolasi jualan menjelang lebaran seperti saat ini cukup ramai. Kini dia hanya mampu menjual satu hingga dua baju saja dalam sehari. Bahkan kadang tidak laku sama sekali.
"Selama saya dipindah di sini, tiga bulan itu sepi, mending di bawah daripada di sini. Di terasan itu malah rame. Kadang nggak laku, padahal kita butuh makan, bayar listrik , bayar air," keluhnya kepada Harian Jogja saat ditemui di lapaknya, Senin (25/4/2022).
Menurutnya lokasi yang disediakan pemerintah memang bagus, pedagang tidak kepanasan dan kehujanan, namun sayangnya tidak seramai berjualan di lokasi sebelumnya. Apalagi menjelang lebaran, Yanti sapaan akrabnya mengeluh pemasukannya yang kurang.
BACA JUGA: Sultan Memprediksi Pemudik Tahun Ini Bawa Lebih Banyak Uang
"Di bawah kan lumayan kalau mau Lebaran dompet ada isinya, sekarang isinya cuma KTP. Dibandingkan di bawah turunnya banyak," paparnya sambil tertawa.
Saat masih berjualan di bawah menurutnya dalam sehari bisa mendapatkan Rp500.000 - Rp600.000 kotor. Tapi hari ini dia baru menjual satu baju seharga Rp25.000 sampai jam 12.00 siang.
"Namanya juga usaha siapa tahu daripada di rumah. Ya dulu [saat Lebaran] dompet ada uangnya, ada isinya, sekarang belum ada. Cuma cari buat makan," tuturnya.
Lebih lanjut dia bercerita, saat berjualan di bawah dalam sebulan setidaknya dia harus mengeluarkan Rp1 juta. Di antaranya untuk biaya listrik Rp150.000, pendorong gerobak Rp600.000, ongkos penitipan Rp150.000 dan biaya lainnya seperti parkir dan toilet. Karena ramai, membayar Rp1 juta menurutnya tidak berat.
"Di sini namanya babat alas, mudah-mudahan pas libur ramai. Sering [gak laku sama sekali] itu Enggak cuma saya sendiri banyak temennya," ucapnya.
Keluhan yang sama disampaikan oleh Rubiyanti (50) pedagang bakpia. Menurutnya sebelum direlokasi, jualan di bawah ramai. Lokasinya yang strategis membuat pembeli lebih mudah mengakses. Semetara untuk lokasi baru ini cukup jauh.
"Kalau di bawah kan dulu orang mau oleh-oleh langsung. Di sini kan enggak, parkirnya juga susah, jauh ke sini jalan panas, masih naik lagi," ucapnya.
Penurunan penjualan dia sebut bahkan sampai 50%. Dari biasanya bisa jualan empat keranjang, saat ini laku satu keranjang sudah lumayan menurutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Okupansi hotel di DIY saat libur sekolah mencapai 80%. PHRI mencatat kenaikan tamu, meski biaya operasional hotel meningkat hingga 20%.
Warga Gemawang kini menikmati air bersih hasil olahan air hujan dengan teknologi RO sebagai solusi menghadapi berkurangnya sumber air di Sleman.
Pemerintah mendorong BUMDes, UMKM, petani, peternak, dan nelayan masuk rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis guna memperkuat ekonomi lokal dan distribusi pa
Waze luncurkan 5 fitur baru: lapor jalan pakai AI Gemini, mode motor, navigasi personal, dan Less Chatty. Pengalaman berkendara makin cerdas & nyaman.
Alexandra Daddario diusir petugas usai nekat menyelinap ke tribun saat nonton Inggris vs Norwegia di Piala Dunia 2026. Aksi spontan ini justru menuai pujian.
Peserta TKA SMA/SMK 2026 wajib memahami hak dan kewajiban sebelum ujian. Simak aturan terbaru, jadwal pelaksanaan, hingga cara memperoleh Sertifikat Hasil TKA.