Kadin DIY Kenang Soliditas Pemulihan 20 Tahun Gempa Jogja
Kadin DIY mengenang 20 tahun Gempa Jogja 2006 dengan menyoroti gotong royong lintas sektor dalam pemulihan pascabencana.
Suasana Teras Malioboro 1, Jogja, Sabtu (19/2/2022) malam/Harian Jogja-Sirojul Khafid.\r\n
Harianjogja.com, JOGJA- Sudah hampir tiga bulan sejak 1 Februari 2022, pedagang kaki lima (PKL) direlokasi ke Teras Malioboro 1 dan 2. Pedagang mengeluh sejak dipindah, penjualan turun drastis, bahkan kadang dalam satu hari tidak laku sama sekali.
Hal tersebut dikeluhkan oleh Budiyanti (55) salah satu pedagang pakaian. Dia bercerita sebelum direkolasi jualan menjelang lebaran seperti saat ini cukup ramai. Kini dia hanya mampu menjual satu hingga dua baju saja dalam sehari. Bahkan kadang tidak laku sama sekali.
"Selama saya dipindah di sini, tiga bulan itu sepi, mending di bawah daripada di sini. Di terasan itu malah rame. Kadang nggak laku, padahal kita butuh makan, bayar listrik , bayar air," keluhnya kepada Harian Jogja saat ditemui di lapaknya, Senin (25/4/2022).
Menurutnya lokasi yang disediakan pemerintah memang bagus, pedagang tidak kepanasan dan kehujanan, namun sayangnya tidak seramai berjualan di lokasi sebelumnya. Apalagi menjelang lebaran, Yanti sapaan akrabnya mengeluh pemasukannya yang kurang.
BACA JUGA: Sultan Memprediksi Pemudik Tahun Ini Bawa Lebih Banyak Uang
"Di bawah kan lumayan kalau mau Lebaran dompet ada isinya, sekarang isinya cuma KTP. Dibandingkan di bawah turunnya banyak," paparnya sambil tertawa.
Saat masih berjualan di bawah menurutnya dalam sehari bisa mendapatkan Rp500.000 - Rp600.000 kotor. Tapi hari ini dia baru menjual satu baju seharga Rp25.000 sampai jam 12.00 siang.
"Namanya juga usaha siapa tahu daripada di rumah. Ya dulu [saat Lebaran] dompet ada uangnya, ada isinya, sekarang belum ada. Cuma cari buat makan," tuturnya.
Lebih lanjut dia bercerita, saat berjualan di bawah dalam sebulan setidaknya dia harus mengeluarkan Rp1 juta. Di antaranya untuk biaya listrik Rp150.000, pendorong gerobak Rp600.000, ongkos penitipan Rp150.000 dan biaya lainnya seperti parkir dan toilet. Karena ramai, membayar Rp1 juta menurutnya tidak berat.
"Di sini namanya babat alas, mudah-mudahan pas libur ramai. Sering [gak laku sama sekali] itu Enggak cuma saya sendiri banyak temennya," ucapnya.
Keluhan yang sama disampaikan oleh Rubiyanti (50) pedagang bakpia. Menurutnya sebelum direlokasi, jualan di bawah ramai. Lokasinya yang strategis membuat pembeli lebih mudah mengakses. Semetara untuk lokasi baru ini cukup jauh.
"Kalau di bawah kan dulu orang mau oleh-oleh langsung. Di sini kan enggak, parkirnya juga susah, jauh ke sini jalan panas, masih naik lagi," ucapnya.
Penurunan penjualan dia sebut bahkan sampai 50%. Dari biasanya bisa jualan empat keranjang, saat ini laku satu keranjang sudah lumayan menurutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kadin DIY mengenang 20 tahun Gempa Jogja 2006 dengan menyoroti gotong royong lintas sektor dalam pemulihan pascabencana.
Realisasi investasi Bantul Triwulan I 2026 mencapai Rp149,47 miliar atau 31,43 persen target RPJMD, menyerap 969 tenaga kerja dari 858 proyek.
Disbud Kabupaten Sleman menyiapkan hibah alat musik senilai Rp393,4 juta yang bersumber dari Dana Keistimewaan (Danais) DIY untuk 13 kelompok seni pada 2026.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Pakar IT mengungkap 14 kebiasaan digital sehari-hari yang dapat membuat perangkat cepat rusak dan rentan diretas, mulai dari password lemah hingga WiFi publik.