Jadwal SIM Sleman Malam Ini Sabtu 17 Oktober 2026 di SCH, Cek Lengkapnya
Cek jadwal perpanjangan SIM Sleman 17 Oktober 2026, warga dapat memanfaatkan layanan di Lobby Sleman City Hall
Nanik Setyawati saat mengoperasikan teropong digital kanker serviks buatannya, Kamis (2/6/2022)./Harian Jogja-Sunartono
Harianjogja.com, JOGJA--Keterbatasan visual sering menjadi kendala bagi tenaga kesehatan untuk menjelaskan deteksi dini kanker serviks. Seorang dosen kebidanan, Nanik Setyawati berusaha memecahkan persoalan itu dengan menciptakan sebuah alat portabel yang bisa digunakan untuk deteksi dini kanker serviks.
Alat ini menarik minat para tenaga kesehatan (nakes) di puskesmas. Bahkan saat ini, banyak dari mereka yang sudah memesan alat itu.
Alat itu terdiri atas konsol sebagai pengendali server (peladen) yang sudah dilengkapi dengan wifi. Nanik mengonsep konsol ini kemudian bekerja sama dengan mitra untuk menuntaskan sebuah piranti konsol digital ini.
BACA JUGA: OPINI: Ibis Yogyakarta Malioboro Pasca Pandemi Covid-19
Kemudian dia membuat sebuah stik seukuran pena yang ujungnya dilengkapi dengan kamera kecil dan di bagian pangkal terdapat kabel untuk koneksi. Stik ini disebutnya dengan istilah teropong.
Untuk mengoperasikan kedua piranti ini didukung dengan sebuah powerbank dan ponsel. Caranya konsol dikoneksikan dengan stik teropong, sedangkan teropong tersebut dikoneksikan dengan ponsel android. Konsol juga dikoneksikan dengan powerbank agar memiliki daya. Melalui kamera tersebut deteksi dini maupun kondisi kanker serviks bisa dilihat melalui ponsel.
Nanik mengatakan teropong digital ini telah melalui lima kali uji mulai dari uji alat dengan eksperimen melibatkan pasien serta meminta bidan di DIY dan luar DIY hingga uji ilmiah.
Hasilnya alat tersebut dinilai tangguh, selain itu mampu menjawab kebutuhan bidan dalam membantuk deteksi dini dan pengobatan kanker serviks. Karena biasanya pemeriksaan dilakukan secara manual.
"Kami sudah menguji secara langsung, hasilnya para bidan merasakan ada perbedaan signifikan antara melihat secara manual dengan menggunakan teropong ini. Selain itu bisa memperlihatkan langsung gambar atau kondisinya ke pasien, evaluasinya jadi maksimal, kalau kondisi membaik pasien bisa melihat begitu sebaliknya," kata Dosen Poltekkes Kemenkes Yogyakarta ini, Kamis (2/6/2022).
BACA JUGA: Balai Budaya di DIY Bisa Kembangkan Potensi Kalurahan
Nanik mengatakan pembuatan alat tersebut cukup murah, menghabiskan dana sekitar Rp2 juta. Saat ini sedang dalam proses permohonan untuk dipatenkan setelah itu rencananya akan diproduksi massal. Mengingat dari para bidan yang bertugas sudah banyak memesan.
"Sudah ada 10 lebih pemesan, ada yang dari luar DIY, tetapi kami belum berani produksi massal, sebelum dipatenkan," katanya.
Direktur Poltekkes Kemenkes, Joko Susilo menyatakan teropong digital kanker serviks buatan Nanik Setyawati merupakan karya terbaik yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melalui alat yang murah dan mudah digunakan itu masyarakat bisa melakukan deteksi dini terhadap kanker serviks. Selain itu kit atau tas pembungkus alat tersebut memanfaatkan daur ulang sampah plastik.
"Melalui karya cipta ini beliau akan mewakili DIY untuk menjadi dosen berprestasi tingkat nasional," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cek jadwal perpanjangan SIM Sleman 17 Oktober 2026, warga dapat memanfaatkan layanan di Lobby Sleman City Hall
Kerusuhan Prancis meluas setelah demonstrasi biaya hidup. Sekitar 2.400 orang ditangkap dan 1.000 polisi terluka, Macron serukan ketertiban.
BRIN mengkaji efektivitas es kering untuk menangani kabut asap karhutla melalui modifikasi cuaca dan pengamatan kondisi atmosfer.
Sebanyak 42 kampus Indonesia masuk THE WUR 2027. UI berada di kelompok peringkat 651–700 dunia. Simak daftar universitas dan metodologinya.
IDAI mengingatkan anak lebih rentan terdampak asap karhutla karena sistem pernapasan belum matang dan partikel PM2,5 berbahaya bagi paru-paru.
Polisi memburu WNA berinisial C yang diduga memerintahkan peredaran 400 unit etomidate senilai Rp2,8 miliar di kawasan PIK I, Jakarta Utara.