Advertisement

Gus Mus: Memilih Pemimpin 2024 Jangan karena Amplop Rp50.000

Sunartono
Selasa, 19 Juli 2022 - 09:47 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Gus Mus: Memilih Pemimpin 2024 Jangan karena Amplop Rp50.000 KH Ahmad Mustofa Bisri saat memberikan ceramah dalam dialog Memilih Pemimpin Bersih dan Tangguh 2024. - ist.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA--Ulama kharismatik yang juga tokoh Nahdlatul Ulama KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus mengingatkan agar masyarakat cerdas dalam memilih pemimpin pada 2024. Jangan hanya sekadar karena iming-iming amplop berisi uang kemudian dengan mudah memberikan suara.

Hal itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Raudhotut Tholibin Rembang itu saat dialog kebangsaan bertajuk 2Memilih Pemimpin Bersih dan Tangguh 2024" di Universitas Alma Ata Jogja, Senin (18/7/2022).

Di hadapan puluhan rektor dari berbagai kampus di Indonesia, Gus Mus mengatakan memilih pemimpin bukan semata-mata karena figur, namun juga tanggung jawab. Meski demikian dalam setiap ulasan kalimatnya Gus Mus sangat moderat dan tidak mengungkap secara detail sosok seperti apa yang paling cocok menjadi pemimpin di 2024. Namun ia memberikan gambaran jangan memberikan suara hanya karena diberi amplop berisi uang.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Baca juga: Gus Mus & Puluhan Rektor Akan Hadiri Dialog Cari Pemimpin 2024 di Jogja

"Kalau kita memilih [pemimpin] hanya berdasarkan amplop 50 [Rp50.000], pemimpin seperti apa yang kita harapkan, pemimpin apa?," katanya saat dipantau Harian Jogja lewat akun YouTube, Selasa (19/7/2022).

Waktu yang tersisa dua tahun jelang Pilpres 2024 menurutnya sangat mepet untuk menyiapkan seorang pemimpin, namun usaha harus tetap dilakukan. "Ikhtiar kita pakai dialog seminar, tetapi akhirnya hak prerogatif ada di tangan Tuhan. Meski pun istilah cebong kampret bersatu [mengangkat satu calon pemimpin], kalau Allah tidak menghendaki, ya tidak terjadi," ucapnya.

Gus Mus menilai media massa memiliki peran penting menuju 2024 karena sebagai pembentuk opini masyarakat. Seseorang pemimpin yang dipuji oleh media massa maka masyarakat akan mengikuti meski pemimpin itu konyol sekalipun. "Pers adalah pembentuk opini, perannya saat ini seperti penyair Arab zaman jahiliyah Umrul Qais, kalau Umrul Qais mensyairkan sesuatu, maka semua orang Arab pada waktu itu juga mengikutinya, begitu juga dengan pers saat ini," katanya.

Ketua Dewan Pers Profesor Azyumardi Azra menilai saat ini hanya beberapa tokoh saja yang menurut pandangan pers memiliki elektabilitas tinggi. Ia menyebutnya dengan istilah media darling. Kampus sebagai salah satu pusat akademik sebaiknya memang turut memberikan peran positif dalam mengedukasi masyarakat terkait pemimpin di 2024.

"Dalam waktu singkat seperti sekarang, di luar beberapa tokoh yang ada, untuk bisa menaikkan [elektabilitas] secara meteor, agak susah, pada akhirnya salah satu di antara tokoh tersebut," kata dia. 

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Jokowi Geram Indonesia Terus Impor Aspal

News
| Jum'at, 30 September 2022, 08:37 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement