Transisi PAUD-SD, Wali Kota Magelang Soroti Kesiapan Anak
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menegaskan kesiapan anak masuk SD bukan hanya soal membaca, menulis, dan berhitung.
KH Ahmad Mustofa Bisri saat memberikan ceramah dalam dialog Memilih Pemimpin Bersih dan Tangguh 2024. /ist.
Harianjogja.com, JOGJA--Ulama kharismatik yang juga tokoh Nahdlatul Ulama KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus mengingatkan agar masyarakat cerdas dalam memilih pemimpin pada 2024. Jangan hanya sekadar karena iming-iming amplop berisi uang kemudian dengan mudah memberikan suara.
Hal itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Raudhotut Tholibin Rembang itu saat dialog kebangsaan bertajuk 2Memilih Pemimpin Bersih dan Tangguh 2024" di Universitas Alma Ata Jogja, Senin (18/7/2022).
Di hadapan puluhan rektor dari berbagai kampus di Indonesia, Gus Mus mengatakan memilih pemimpin bukan semata-mata karena figur, namun juga tanggung jawab. Meski demikian dalam setiap ulasan kalimatnya Gus Mus sangat moderat dan tidak mengungkap secara detail sosok seperti apa yang paling cocok menjadi pemimpin di 2024. Namun ia memberikan gambaran jangan memberikan suara hanya karena diberi amplop berisi uang.
Baca juga: Gus Mus & Puluhan Rektor Akan Hadiri Dialog Cari Pemimpin 2024 di Jogja
"Kalau kita memilih [pemimpin] hanya berdasarkan amplop 50 [Rp50.000], pemimpin seperti apa yang kita harapkan, pemimpin apa?," katanya saat dipantau Harian Jogja lewat akun YouTube, Selasa (19/7/2022).
Waktu yang tersisa dua tahun jelang Pilpres 2024 menurutnya sangat mepet untuk menyiapkan seorang pemimpin, namun usaha harus tetap dilakukan. "Ikhtiar kita pakai dialog seminar, tetapi akhirnya hak prerogatif ada di tangan Tuhan. Meski pun istilah cebong kampret bersatu [mengangkat satu calon pemimpin], kalau Allah tidak menghendaki, ya tidak terjadi," ucapnya.
Gus Mus menilai media massa memiliki peran penting menuju 2024 karena sebagai pembentuk opini masyarakat. Seseorang pemimpin yang dipuji oleh media massa maka masyarakat akan mengikuti meski pemimpin itu konyol sekalipun. "Pers adalah pembentuk opini, perannya saat ini seperti penyair Arab zaman jahiliyah Umrul Qais, kalau Umrul Qais mensyairkan sesuatu, maka semua orang Arab pada waktu itu juga mengikutinya, begitu juga dengan pers saat ini," katanya.
Ketua Dewan Pers Profesor Azyumardi Azra menilai saat ini hanya beberapa tokoh saja yang menurut pandangan pers memiliki elektabilitas tinggi. Ia menyebutnya dengan istilah media darling. Kampus sebagai salah satu pusat akademik sebaiknya memang turut memberikan peran positif dalam mengedukasi masyarakat terkait pemimpin di 2024.
"Dalam waktu singkat seperti sekarang, di luar beberapa tokoh yang ada, untuk bisa menaikkan [elektabilitas] secara meteor, agak susah, pada akhirnya salah satu di antara tokoh tersebut," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menegaskan kesiapan anak masuk SD bukan hanya soal membaca, menulis, dan berhitung.
Harga motor MotoGP bisa mencapai Rp61,8 miliar. Simak rincian biaya mesin, elektronik, rem, ban, material, hingga biaya operasional tim.
Anthropic merilis Claude Fable 5.1 dan Mythos 5.1 dengan kemampuan coding lebih kuat, cache 75% lebih murah dan safeguard baru.
Menaker Yassierli menyoroti pengangguran muda 17,4 persen di tengah 48 persen perusahaan kesulitan mencari tenaga kerja kompeten.
Indonesia masuk negara dengan serangan siber ponsel tertinggi di Asia-Pasifik. Kaspersky mengungkap ancaman berbasis AI meningkat dan makin sulit dideteksi.
BYD dikabarkan menyiapkan mobil listrik baru di bawah Atto 1 dengan harga sekitar Rp200 jutaan. Model ini berpotensi menjadi salah satu EV termurah di pasar glo