Asita DIY Sebut Kelok 23 Bisa Buka Koridor Wisata Baru
Asita DIY menyebut Kelok 23 berpotensi membuka koridor wisata Bantul-Gunungkidul dan memperpanjang lama tinggal wisatawan di DIY.
Suasana Ujian Terbuka Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, dr. Emma Rusmayani di UGM, Sleman, Selasa (20/9/2022)./Harian Jogja-Anisatul Umah
Harianjogja.com, SLEMAN—Glaukoma menjadi salah satu penyebab kebutaan paling tinggi di dunia. Untuk mendeteksi glaukoma cukup sulit, karena 80-90% tidak bergejala, sehingga kerap disebut sebagai pencuri penglihatan. Tidak adanya gejala, membuat glaukoma rata-rata baru terdeteksi saat kerusakannya sudah lebih dari 50%.
Berangkat dari kondisi ini, spesialis mata dari JEC Eye Hospital and Clinics, Emma Rusmayani melakukan penelitian untuk memberikan alternatif deteksi dini glaukoma melalui penanda biologis Ischemia Modified Albumin (IMA).
Penelitian berjudul 'Tinjauan Kadar Ischemia-Modified Albumin, Tumor Necrosis Factor Alfa, dan Malondialdehyde Pada Humor Akuos dan Serum Darah Sebagai Penanda Iskemia Lokal dan Sistemik Pada Glaukoma Primer' mengantarkannya meraih gelar Doktor dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dalam ujian terbuka Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan di Gedung Pascasarjana, Selasa (20/9/2022), dia menyampaikan, melalui temuannya deteksi dini bisa dilakukan dengan metode sederhana dan ongkos yang relatif lebih terjangkau.
BACA JUGA: SAPDA DIY Minta Pelaku Pencabulan Anak Difabel Dihukum Berat
"Sebenarnya secara garis besar biayanya kurang dari Rp500 ribu. Saat ini dengan alat-alat yang jauh lebih canggih pemeriksaan relatif lebih sederhana dan terjangkau," ucapnya.
Dia mengatakan, penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi bagi penderita glaukoma atau orang dengan faktor risiko untuk mendapatkan deteksi lebih dini penyakitnya. Sampel yang diambil bukan melalui darah, tetapi mengambil cairan humor akuos di dalam mata.
"Di dalam cairan tersebut apabila terlihat hasil IMA yang tinggi, dapat disimpulkan sudah terjadi proses iskemia dan penipisan RNFL yang merupakan alarming sign dari pasien glaukoma," jelasnya.
Menurutnya, jika glaukoma diketahui lebih dini bisa dilakukan intervensi kepada pasien. Sehingga bisa membatasi hilangnya luas penglihatan. "Seperti diketahui glaukoma ini akan berakhir pada kebutaan yang bersifat permanen. Kalau bisa dideteksi lebih dini tentu bisa mencegah pasien dari kebutaan," ungkapnya.
BACA JUGA: Peduli Sekitar, UGM Luncurkan Kibar
Lebih lanjut dia mengatakan, penderita glaukoma di Indonesia jumlahnya cukup banyak. Pasien glaukoma yang kerap ditemui di poliklinik biasanya sudah kondisinya sudah sangat lanjut.
"Harapannya prosedur IMA bisa dilakukan pada semua dokter mata di Indonesia sebagai bagian dari praktik sehari-hari sehingga bisa lebih banyak deteksi glaukoma lebih dini lagi," jelasnya.
Salah satu Tim Pembimbing, Muhammad Bayu Sasongko berharap agar penelitian ini bisa berkembang di tahun-tahun mendatang. Ia optimis hasil penelitian ini akan berkembang dalam 5-10 tahun ke depan. "Ini menjadi awal dan mendapatkan ilmu yang lebih luas lagi," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Asita DIY menyebut Kelok 23 berpotensi membuka koridor wisata Bantul-Gunungkidul dan memperpanjang lama tinggal wisatawan di DIY.
Cara mematikan download otomatis WhatsApp di Android dan iPhone agar foto, video, audio, serta dokumen tidak memenuhi memori HP
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) melalui inisiatif keberlanjutan GoZero% kembali menghadirkan aksi lingkungan bersama masyarakat melalui GoZero%
Timnas voli putra Indonesia hadapi Iran di laga penentu Pool B Asian Games 2026, Selasa 29 September pukul 14.00 WIB. Cek jadwal dan peluangnya.
KNKT mengungkap 6 faktor penyebab tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan Commuter Line di Bekasi Timur. Dari sinyal hingga pengereman, ini temuan lengkapnya.
Astra Motor Yogyakarta menggelar Bootcamp Road to Cari Aman Academy untuk mengasah kompetensi siswa sebagai pelopor keselamatan berkendara.