Advertisement
Menoreh & Gunungkidul Utara Jadi Kawasan Paling Rawan Longsor di DIY
Penampakan tanah longsor di Dusun Blembem, Candirejo, Semin, Gunungkidul, dari kejauhan, Sabtu (19/11/2022). - Harian Jogja/David Kurniawan
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA — Kawasan Pegunungan Menoreh dan pegunungan sisi Utara Gunungkidul tercatat sebagai kawasan paling rawan longsor di DIY.
Oleh sebab itu, BPBD DIY meminta masyarakat yang tinggal di kawasan untuk waspada ketika terjadi hujan deras dengan intensitas cukup lama. Pasalnya, dalam kondisi tersebut sangat rawan terjadi tanah longsor.
Advertisement
“Rawan tanah longsor itu dari kajian dan ditetapkan agar mudah dipahami, kalau Kulonprogo itu kawasan Pegunungan Menoreh dari Kalibawang sampai Kokap itu kan banyak pegunungan lereng dan pemukiman warga di spot itu juga. Kalau Gunungkidul Ngawen, Patuk, Gedangsari, Semin atau pegunungan sisi utara yang rawan longsor,” kata Kepala BPBD DIY, Biwara Yuswantana, Senin (21/11/2022).
Biwara menambahkan ketika terjadi hujan deras intensitas cukup lama dari biasanya, maka masyarakat di sekitar kawasan tersebut harus bersiap mengantisipasi tanah longsor. “Kalau sudah hujan deras, kami imbau agar warga di kawasan tersebut harus waspada,” katanya.
BACA JUGA: Korban Longsor Semin Ibu & Anak di Gunungkidul Belum Ditemukan, BPBD Ungkap Kendalanya
Sekda DIY, Kadarmanta Baskara Aji menambahkan DIY sebenarnya sudah melakukan berbagai mitigasi guna mencegah terjadinya dampak bencana sebelum musim hujan tiba. Mulai dari pemangkasan pohon rindang hingga melakukan koodinasi dengan BBWSSO terkait dengan antisipasi banjir.
Akan tetapi dalam perkembangannya kondisi bencana volumenya cukup tinggi seperti halnya banjir karena volume air yang melebihi normal hingga longsor yang menimbuan dua warga. “Saat ini di beberapa titik yang rawan itu kami upayakan agar bisa dipasang bronjong untuk mencegah terjadinya longsor,” katanya.
Dia mengimbau warga yang tinggal di kawasan rawan longsor terutama pada malam hari sebaiknya ada yang berjaga ketika terjadi hujan deras. Petugas jaga atau ronda secara bergantian ini perlu dilakukan untuk memantau titik rawan longsoran dan melakukan koordinasi dengan pihak berwenang seperti kalurahan dan Babinsa maupun Babinkamtibmas.
“Kalau diperlukan evakuasi supaya tidak terjadi korban segera dikomunikasikan. Giliran ronda supaya peringatan dini bisa kita siapkan jangan sampai tidur terlelap lalu terjadi kejadian. Petugas akan mengintensifkan patroli dan mengantisipasi tapi penduduk setempat tahu lebih jauh dengan kondisi di lapangan,” ujarnya.
Terkait dengan pembiayaan untuk kondisi darurat bencana, Pemda DIY sudah memiliki anggaran Rp40 miliar apda pos biaya tak terduga (BTT) yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk membantu kabupaten dan kota. “Pada prinsipnya aktivtias ini tidak tersedia secara spesifik tapi hasil koordinasi kebutuhannya seberapa kita cukupi dengan BTT [biaya tak terduga] yang ada mungkin berkembang sekarang butuh sekian nanti tambah lagi. Nanti bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Arab Saudi dan Iran Awali Ramadan 1447 H di Hari yang Berbeda
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
- Cek Jadwal SIM Keliling di Gunungkidul Hari Ini, Selasa 17 Februari
- Jadwal SIM Keliling di Sleman Selasa 17 Februari 2026, Cek Lokasinya
- Kecelakaan Bus dan Truk di Jalan Jogja-Solo Kalasan, Tiga Orang Luka
- Operasi Keselamatan Progo 2026, 2.560 Pelanggar Ditertibkan di Bantul
- Kasus TBC Jogja 2025 Tembus 1.333, Dinkes Perkuat Investigasi Kontak
Advertisement
Advertisement







