Advertisement

Cuaca Ekstrem Bakal Landa DIY 3 Bulan ke Depan, Begini Strategi BPBD DIY

Media Digital
Sabtu, 26 November 2022 - 07:47 WIB
Arief Junianto
Cuaca Ekstrem Bakal Landa DIY 3 Bulan ke Depan, Begini Strategi BPBD DIY Tangkapan layar saat digelarnya gelar wicara bertajuk Strategi Tanggap Bencana DIY. - Youtube Harian Jogja

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA — Dalam tiga bulan ke depan DIY berpotensi terjadi cuaca ekstrem. Untuk menghadapinya, kesadaran, kepekaan dan kesiapan masyarakat perlu ditingkatkan. 

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Biwara Yuswantana mengatakan terkait dengan cuaca, mengacu pada BMKG Staklim Sleman akan memasuki puncak musim sampai Februari 2023. Dalam waktu itu berpotensi terjadi cuaca ekstrem, yaitu hujan intensitas tinggi, angin kencang, petir, dan sebagainya.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

"Hujan kan peristiwa alam, yang terpenting adalah bagaimana peristiwa alam itu tidak berubah menjadi bencana," kata dia dalam gelar wicara yang digelar Harian Jogja bertajuk Strategi Tanggap Bencana DIY, Jumat (25/11/2022)

Menurut Biwara, peristiwa alam berubah jadi bencana ketika terjadi kerentanan yang harus dicegah. "Dalam waktu tiga bulan, bagaimana kesiapsiagaan kita karena potensi ancamannya [bencana] tinggi," ucap dia

Biwara mengatakan penanggulangan bencana pada masa tanggap darurat akan dipengaruhi dengan yang dilakukan pada masa pra bencana. "Kesiapsiagaan baik dari sisi kelembagaan, kultur, pemahaman," kata Biwara.  

BACA JUGA: Belajar dari KLB Pidie, Ini yang Dilakukan Dinkes Jogja untuk Tekan Kasus Polio

Menurut Biwara, masyarakat harus kita siap siagakan dengan bencana melalui edukasi. "Masyarakat harus tahu ancamannya, merespon dengan cepat dan benar dengan pendekatan kelembagaan, misalnya kita bentuk Kelurahan Tanggap Bencana [KTB], Satuan Pendidikan Aman Bencana [SPAB]," katanya. 

Kepala Forum Pengurangan Resiko Bencana (PRB) DIY, Taufiq AR mengatakan masyarakat perlu menyadari ancaman dan kerentanan di lingkungannya. Sehingga, menurutnya masyarakat dapat turut serta melakukan upaya pengurangan resiko bencana mulai dari keluarga, hingga perangkat desa melalui kebijakannya.

Taufiq mengatakan beberapa tahun lalu telah dilakukan kajian resiko di 438 kalurahan, dengan 301 di antaranya ada di kawasan rawan bencana. Dari 301 daerah rawan bencana tersebut menjadi prioritas.  “Kami punya modal sosial keguyuban, kegotongroyongan, kami harap ini bisa dimaksimalkan untuk mewujudkan ketangguhan DIY,”  kata Taufiq.

Intervensinya dalam menghadapi bencana dilakukan berbagai pihak mulai dari pemerintah DIY, pemerintah kabupaten/kota, Pemerintah Pusat, serta organisasi non-pemerintah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Begini Cara Pangeran Arab Saudi Nikmati Kekayaan

News
| Senin, 06 Februari 2023, 22:07 WIB

Advertisement

alt

Kunjungan Malioboro Meningkat, Oleh-oleh Bakpia Kukus Kebanjiran Pembeli

Wisata
| Senin, 06 Februari 2023, 10:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement