Advertisement

Kala Pejabat di DIY Menghibur Rakyat Jelata hingga Raja

Sunartono
Minggu, 04 Desember 2022 - 22:47 WIB
Budi Cahyana
Kala Pejabat di DIY Menghibur Rakyat Jelata hingga Raja Pementasan seni ketoprak untuk menghibur masyarakat bertajuk Rukun Agawe Santoso, Crah Agawe Bubrah yang diperankan oleh para pejabat di DIY, Sabtu (4/12/2022) malam. - Youtube

Advertisement

Harianjogja.co, JOGJA—Pertama kalinya, sejumlah pejabat di DIY menjadi pemeran seni ketoprak untuk menghibur masyarakat. Bertajuk Rukun Agawe Santoso, Crah Agawe Bubrah, drama tradisional ini membawa pesan penting menuju pesta demokrasi di masa mendatang. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Sunartono.

Ribuan orang berjubel di dalam maupun di luar gerbang pelataran Monumen Serangan Umum 1 Maret Kawasan Malioboro, Sabtu (3/12/2022) malam. Mereka menyaksikan untuk kali pertama para pejabat bermain ketoprak bersama sejumlah seniman di Jogja. Gubernur DIY yang juga Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB X, hadir bersama permaisuri GKR Hemas. Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X juga hadir bersama istri GKBRAy A. Paku Alam. 

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Di pelataran itu, masyarakat disediakan tempat duduk lesehan tepat di depan panggung yang memisahkan panggung dengan tempat duduk untuk VIP. Di luar itu, lainnya juga duduk lesehan tanpa alas demi menikmati tontonan tradisional yang saat ini mulai jarang dipentaskan.

Tepat pukul 19.30 WIB, ketoprak pun dimulai. Alur cerita diawali dengan munculnya Jaya Sudarga yang diperankan oleh Rama Banar yang dihasut oleh Mingun agar bersedia menjadi calon lurah. Mingun yang diperankan oleh Dalijo Angkring pun menjadi mediator dengan mempertemukan tiga orang yang bersedia mendanai Jaya Sudarga untuk maju dalam pemilihan lurah. Dari sinilah awal mula perpecahan, perselisihan hingga pembakaran itu terjadi.

Ketiga botoh atau cukong itu adalah yaitu Dirga yang diperankan Kapolda DIY Irjen Pol Suwondo Nainggolan, Amir yang diperankan Bupati Gunungkidul Sunaryanta, dan Tarjo yang dimainkan oleh Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo. Ketiganya pun membagi-bagikan uang tunai di dalam amplop kepada Jaya Sudarga lewat Mingun dan siap menjadi pendana politik uang dalam pusaran pemilihan lurah tersebut.

Aku iki ra iso omong Jowo, soale nek pakai Bahasa Jawa kayak suara knalpot blombongan, yang jelas sampaikan kepada Jaya Sudarga kalau dari penampilannya cocok jadi Lurah,” ucap Botoh Dirga kepada Mingun diiringi suara gelak tawa penonton.
“Dananya saya dukung, buat kampanye, buat ngasih-ngasih [menyuap suara], buat gelut [bertengkar],” kata Dirga lagi.
“Lho kalau gelut, ricuh?” ucap Mingun bertanya.
Sing penting aja ketahuan polisi,” jawab Botoh Dirga kembali diiringi suara riuh penonton tertawa.

Dialog itu mengocok perut penonton. Sultan yang menonton secara langsung pun pun tak bisa menahan tawa, hingga akhirnya ia terpingkal-pingkal beberapa melihat aksi ketiganya.

Tak hanya itu, aksi pejabat lainnya membuat penonton tak mampu menahan tawa, di antaranya adegan Danlanal DIY Kolonel Damayanti sebagai Miranti dan Gubernur AAU Marsda Eko Dono Indarto sebagai Darpo seorang pedagang. Peran yang diemban pria bintang dua itu sangat kontras dengan kebiasaan sehari-hari. Di panggung itu ia justru menjadi kaum proletariat yang menjadi pedagang kecil.

Puluhan taruna AAU yang turut menyaksikan juga tak bisa menahan tawa tatkala Eko Dono menjajakan barang dagangan dari satu orang ke orang lain. Bahkan ia tampak duduk termenung sembari menunggu dagangan dengan setting sebuah pasar tradisional.

Di tengah kehidupannya yang tak terlalu beruntung sebagai pedagang kecil, Mingun datang merayu dengan memberikan segepok uang kepada Darpo agar mencoblos Jaya Sudarga. Ia membawa uang tersebut kepada Miranti, istrinya, yang langsung disambut dengan sumringah saat pulang dari pasar. “Padahal biasane mung entuk telung puluh ewu, kuwi wae nggo tuku rokok telung puluh limo ewu,” ucap Miranti.
Di tengah praktik politik uang yang dimotori Mingun yang membela Jaya Sudarga, kelompok yang pro terhadap calon lain bernama Wiguna pun menentang. Hal unik lainnya juga muncul dari dukun atau peramal yang diperankan oleh Direktur BUMD PT Anindya Mitra International (AMI), Dyah Puspitasari. Dyah meminta uang kepada pendukung calon lurah kemudian meramal dan menghasilkan ramalan yang memenangkan kelompok yang memberikan uang.

Ojo gampang percoyo, wayahe pemilihan mesti ono peramal pengamat yang biasanya mendukung calon,” kata tokoh masyarakat Bernama Kabul yang diperankan Wakil Rektor UGM Arie Sujito.

Situasi sosial politik di kampung itu pun semakin tak terkendali. Pendukung Jaya Sudarga membakar pasar tradisional yang sebagian besar pedagangnya membela Wiguna. Selanjutnya terjadi pertengkaran hebat di antara kedua kubu.

Di tengah pertengkaran itu muncul sejumlah tokoh yang dituakan mulai dari Mardi (Pj Wali Kota Jogja Sumadi), Pringgo (Danlanud Adisutjipto Marsma Azhar Aditama), Mirjan (Pj Bupati Kulonprogo Trisaktiyana) dan Darno (Wabup Bantul Joko Purnomo). Persoalan itu kemudian diselesaikan oleh Ki Ajar Rumekso (Ketua Pengadilan Tinggi DIY Setyawan Hartono) dan Ki Demang Prawirodirjo (Profesor Sutrisna Wibawa). Semuanya sepakat untuk menghindari politik uang.

Ketoprak yang disutradari Bambang Paningron ini berusaha menyuguhkan penampilan para pejabat yang memberikan agar masyarakat menghindari politik uang. Para penonton seluruhnya menyaksikan ketoprak yang berdurasi sekitar dua jam tersebut.

Dalam kesempatan itu Sultan HB X menganggap peristiwa pejabat bermain ketoprak merupakan malam yang istimewa karena dapat disaksikan seluruh masyarakat. Lewat ketoprak itu harapannya pejabat memiliki kedekatan dengan masyarakat. Cara bermain tidak harus bagus dengan Bahasa Jawa, akan tetapi bebas.

“Malam hari ini ada peristiwa istimewa yang bisa kita saksikan bersama. Saya juga baru pertama kali menyaksikan ketoprak di tempat ini,” ucap Sultan.

Selain itu, antara pemain dan penonton bisa membangun dan menghargai seni yang selama ini sudah dibangun bersama. Sri Sultan meminta agar masyarakat tidak mempermasalahkan penggunaan bahasa dan pakem dari ketoprak tersebut. Karena yang paling penting adalah pesan perdamaian dapat tersampaikan. Penggunaan bahasa Indonesia pada dialog diharapkan akan lebih mempermudah proses penyampaian pesan karena tidak semua penonton memahami bahasa Jawa.

“Semoga seluruh pemain merasa nyaman, tahun depan ada lagi. Yang penting bagaimana pemain bisa membangun kedekatan dengan publik. Harapannya, di Jogja ini pejabat bisa berinteraksi dengan masyarakatnya,” kata Sultan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Viral Bikin Paspor Langsung Jadi dalam Sehari Bayar Lagi Rp1 Juta, Sah atau Tidak?

News
| Senin, 06 Februari 2023, 16:47 WIB

Advertisement

alt

Kunjungan Malioboro Meningkat, Oleh-oleh Bakpia Kukus Kebanjiran Pembeli

Wisata
| Senin, 06 Februari 2023, 10:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement