Kunjungan Wisata Moncer, DPRD Gunungkidul Bidik PAD Rp60 Miliar
PAD wisata Gunungkidul sudah lebih dari Rp50 miliar. DPRD mendorong target retribusi wisata 2026 dinaikkan menjadi Rp60 miliar.
Sapi - Ilustrasi freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kasus kematian sapi secara mendadak di Gunungkidul kembali terjadi. Kali ini ditemukan di Dusun Ngasemrejo, Ngawu, Playen, Gunungkidul.
Kapolsek Playen, AKP Sigit Teja Sukmana mengatakan, sapi yang mati mendadak dimiliki oleh Cipto Wiyono. Sebelum mati, pemilik sempat memberikan minuman konsentrat polar dengan campuran air kedelai.
Saat itu, kondisi sapi sudah lemah dengan gejala perut kembung. Pada Rabu malam akhirnya mati untuk kemudian dikebumikan. “Untuk mengurangi risiko penularan antraks di lokasi penguburan juga disiram formalin oleh petugas kesehatan hewan,” katanya.
Dia berharap kepada masyarakat untuk tidak panik serta saat menemukan hewan ternak mati mendadak langsung dikubur. “Tujuannya untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit,” katanya.
Kepala Dusun Ngasemrejo, Sugeng Riyadi membenarkan adanya sapi mati secara mendadak di wilayahnya. Ia tidak menampik sapi tersebut sempat disembelih dengan dalih untuk mengempeskan perut yang kembung.
“Tujuannya memang untuk mengempeskan perut dan tidak ada upaya mengkonsumsinya,” katanya.
Menurut dia, sapi itu langsung dikuburkan serta diambil sampel untuk mengetahui pasti penyebab kematian. Namun, hingga Kamis (13/7/2023) sore, Sugeng mengakui belum mendapatkan hasil tes tersebut.
“Kami menduga kematian terjadi karena keracunan makanan. Tapi, untuk kepastian masih menunggu hasil pengetesan,” katanya.
Terpisah, Kepala Disnak Kabupaten Gunungkidul Wibawanti membenarkan sapi milik warga Ngasemrejo, Ngawu, Playen mati mendadak. Namun demikian pihaknya belum memastikan apakah terpapar antraks.
Hingga sekarang pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium guna memastikan penyebab kematian. Ia berharap kasus penyebaran antraks bisa dikendalikan.
Oleh karenanya, Wibawanti meminta masyarakat untuk tidak menyembelih hewan ternak yang mati secara mendadak. Langkah ini sebagai upaya mengurangi risiko penyebaran bakteri yang menjadi sumber penyakit.b“Kalau disembelih maka bisa menyebar. Jadi, lebih baik langsung dikubur guna mengurangi risiko penularan,” katanya.
Menurut dia, upaya pencegahan terus dilakukan. Selain memberikan sosialisasi ke masyarakat, juga dilakukan pemberian suntikan anti biotic dan vaksinasi kepada hewan ternak di seputaran temuan kasus.
“Untuk detailnya masih kami himpun. Tapi, upaya penyuntikan untuk pencegahan ke hewan ternak terus dilakukan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PAD wisata Gunungkidul sudah lebih dari Rp50 miliar. DPRD mendorong target retribusi wisata 2026 dinaikkan menjadi Rp60 miliar.
Pertamina Patra Niaga meminta masyarakat mengawasi penyaluran Pertalite dan biosolar di tengah gangguan distribusi BBM akibat sungai surut.
Arya Saloka mengungkap pengalaman menjadi cowboy dan belajar berkuda di film Empat Musim Pertiwi yang tayang 8 Oktober 2026.
Kisah mendalam 2.000 pekerja PT Woneel Midas Leathers di Gunungkidul yang memproduksi sarung tangan olahraga kelas dunia hingga rencana ekspansi.
Dosen UGM Cahyaningrum Dewojati mengaku KTP-nya dipinjam untuk formalitas yayasan Little Aresha, tetapi namanya masuk struktur kepengurusan.
15 universitas terbaik di Jawa Tengah versi Webometrics September 2026. Undip menjadi kampus dengan peringkat tertinggi di Jawa Tengah.