Balai Karantina Jogja Musnahkan Komoditas Ilegal di Bandara YIA
Karantina Jogja musnahkan ratusan kg komoditas ilegal di Bandara YIA untuk mencegah hama dan penyakit masuk ke Indonesia.
Pengujung menikmati karya seni dalam Artjog 2023, di JNM, Minggu (27/8/2023). – Harian Jogja/Stefani Yulindriani
JOGJA–Setelah diselenggarakan hampir 2 bulan, pameran seni rupa Artjog 2023 ditutup, Minggu (27/8/2023). Pameran seni rupa tahunan tersebut dinilai membawa multiplier effect bagi DIY.
CEO Artjog, Heri Pemad menyampaikan pameran seni rupa tahunan tersebut dinilai berhasil memberikan dampak pada perekonomian dan kebudayaan di DIY. Menurut Heri dalam penyelenggaraan Artjog tahun lalu uang yang beredar hampir mencapai Rp100 miliar, sementara dampak multiplier effectnya mencapai Rp5,2 triliun.
“Dampak secara ekonomi, dampak secara pariwisata, perkembangan seni budaya,” katanya di Jogja National Museum (JNM).
Menurut Heri, penyelenggaraan Artjog juga turut berdampak para perkembangan pariwisata di DIY. Dengan didominasi pengunjung dari luar kota bahkan luar negeri, menurut Heri para pengunjung tidak sekadar datang ke Artjog namun juga menginap dan menggunakan transportasi yang ada di DIY, sehingga akan memberikan kontribusi dalam menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) DIY.
Sedangkan menurut Heri tahun ini tidak berbeda dengan tahun sebelumnya, jumlah pengunjung Artjog mencapai sekitar 1.000 orang per hari. Meskipun jumlah pengunjung sangat tinggi, namun menurut Heri dilihat dari lamanya para pengunjung menikmati karya seni rupa yang tersaji, para pengunjung dinilai menikmati karya seni yang ditampilkan dalam Artjog kali ini.
“Setiap lebaran seni, setiap Artjog, apresiasi masyarakat terhadap peristiwa ini baik Artjog juga penyelenggaraan pameran di luar Artjog, itu bagus sekali. Mereka semua merayakan, mengalami sendiri, berinteraksi dengan karya seniman, dan sangat dirasa mereka ada yang belajar ada yang menikmati,” katanya.
Menurut Heri dalam Artjog kali ini pengunjung didominasi usia milenial. Menurutnya itu menjadi investasi kebudayaan, karena di masa mendatang para pengunjung tersebut mungkin akan memberikan dukungan dalam pengelolaan seni dan kebudayaan dalam berbagai profesi yang diemban.
BACA JUGA: BPBD DIY Bersiap Hadapi Kekeringan hingga Januari 2024
“Itu bentuk investasi kebudayaan. Lima sampai 10 tahun lagi ini sangat mewah, orang-orang yang saat ini selfie, mungkin akan menjadi kolektor, pelaku, penentu kebijakan yang akan paham bagaimana mengelola seni dan budaya, tidak hanya sekadar mengeksploitasi tetapi mengelola, dikembalikan kepada masyarakat,” katanya.
Dalam penyelenggaraan Artjog tahun depan, menurut Heri akan kembali mengusung konsep yang berbeda untuk dapat menarik minat pengunjung.
“Misi Artjog itu selalu menampilkan, memberi ruang, memberi akomodasi perkembangan karya dari seniman paling mutakhir baik secara presentasi atau penyajian atau secara gagasan, dan teknis, belum pelaku sendiri tidak serta-merta tidak mengundang seni rupawan, tetapi bisa arsitek, desainer, pengusaha, dari berbagai multidisiplin,” katanya. Artjog diselenggarakan 30 Juni-27 Agustus 2023. (BC)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Karantina Jogja musnahkan ratusan kg komoditas ilegal di Bandara YIA untuk mencegah hama dan penyakit masuk ke Indonesia.
Kemendag memberi masa transisi hingga 18 bulan bagi seller marketplace mengurus NIB sesuai Permendag Nomor 19 Tahun 2026.
Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) pada 22 Juni 2026, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan untuk menetapkan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) sebesar 3,75%
Disdukcapil Gunungkidul menggelar layanan one day service di Karangwuni. Sebanyak 97 warga telah mengaktivasi IKD hingga Kamis pagi.
Penataan Pantai Sepanjang Gunungkidul masih berlanjut. Pemkab membutuhkan sekitar Rp16 miliar untuk jalan, kios, trotoar, dan parkir.
Berawal dari modal Rp4,3 juta, Djoen Leather di Bantul sukses menembus pasar dunia. Simak kisah UMKM binaan BNI yang berkembang hingga pasar ekspor.