Advertisement
Dampak Kekeringan, Ratusan Hektare Tanaman Pangan di DIY Gagal Panen

Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA–Sedikitnya 547 hektare tanaman pangan di wilayah DIY mengalami gagal panen akibat musim kemarau yang berkepanjangan di wilayah setempat. Rata-rata lahan itu berada di Kabupaten Gunungkidul dengan jenis tanaman berupa padi dan jagung yang tersebar di sejumlah kapanewon.
Plt Kepala DPKP DIY Hery Sulistio Hermawan mengatakan, ratusan hektare tanaman yang gagal panen itu terdiri dari tanaman padi 412 hektare. Di Kapanewon Dlingo ada 5 hektare, Gedangsari 24 hektare, Semin 242 hektare, Ngawen 92 hektare, Ponjong 5 hektare, Nglipar 9 hektare dan Patuk 35 hektare.
Advertisement
"Sementara sisanya sebanyak 135 di Kapanewon Saptosari gagal panen melanda tanaman jagung dan itu merupakan data akhir Juli," ungkapnya, Selasa (20/8/2024).
Hery menjelaskan, selain padi dan jagung kekeringan juga melanda tanaman kacang tanah. Hal itu disebabkan dampak El Nino di mana curah hujan pada permulaan musim tanam pertama baru terjadi pada bulan Januari dan pada bulan Mei sudah tidak terjadi hujan, sehingga berpengaruh terhadap ketersediaan air irigasi pertanian.
"Dampak kekeringan berdasarkan laporan mulai Juni 2024 sampai dengan 31 Juli 2024 tercatat padi 1.153 hektare, kacang tanah 50 hektare dan jagung 135 hektare," katanya.
Adapun wilayah kekeringan padi tersebar di Kapanewon Dlingo, Wates, Panjatan, Temon, Gedangsari, Semin, Ngawen, Ponjong, Nglipar, Patuk, Semanu, Saptosari, Playen dan Karangmojo. Sementara kacang tanah melanda Kapanewon Tepus dan Tanjungsari kemudian jagung di Kapanewon Saptosari.
Menurut Hery, dengan fenomena kekeringan itu pihaknya telah melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan dan melakukan monitoring ke pertanaman secara intensif. Kemudian mengoptimalkan sumur (gali/suntik), biopori, penerapan teknologi hemat air dalam mendukung ketersediaan air.
"Kami juga memberikan bantuan pembuatan sumur di 7 poktan melalui anggaran APBN Pusat," jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga memberikan bantuan sarana penanganan pompa untuk champion cabai di 11 poktan di Sleman dan Kulonprogo melalui anggaran APBN Pusat serta melalui Brigade Proteksi Tanaman (BPT) telah menyiapkan pompa air yang bisa dipinjam pakai oleh kelompok tani untuk kegiatan pompanisasi.
"Kami juga memakai early warning system/ews dengan memanfaatkan sumber informasi sebagai upaya antisipasi kekeringan dan untuk meminimalkan risiko yaitu data kejadian kekeringan pada masa lalu, memantau informasi dari BMKG, membuat peta prediksi kekeringan, peta daerah rawan kekeringan, prediksi peta endemik kekeringan," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Tiket Gratis Kapal Laut untuk Arus Balik Lebaran 2025 Masih Tersedia
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Didukung Inovasi, Kalurahan di DIY Bisa Ajukan Bantuan Dana Pengelolaan Sampah
- Jangan Sampai Ada Korban, Wisatawan Pantai Parangtritis Bantul Diminta Waspada Bahaya Ombak Besar
- RSUD Panembahan Senopati Bantul Kini Punya Gedung Maternal Perinatal Terpadu
- Festival Klangenan 2025 Meriahkan Libur Lebaran di Bantul
- Satu Wisatawan Hilang Terseret Ombak di Parangtritis, Tim SAR Masih Lanjutkan Pencarian Hari Kedua
Advertisement
Advertisement