Advertisement
Melihat Kreasi dan Filosofi Peserta Jogja Fashion Week 2024 Hari Kedua, Usung Tema Muslim Wear

Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA - Penyelenggaraan Jogja Fashion Week 2024 yang digelar di Jogja Expo Center, Banguntapan, Bantul berlangsung meriah. Pada hari kedua, Jumat (24/8/2024) acara itu mengusung subtema The Art of Modesty dengan total 14 peserta yang menampilkan karya pada sesi pertama.
Lebih banyak busana muslim yang dipamerkan pada penyelenggaraan hari kedua ini. Para fesyen desainer banyak menggabungkan kreativitas dan ide berdasarkan tema yang diusungnya. Tak sedikit pula karya batik yang ikut dipamerkan kepada para pengunjung yang hadir pada kesempatan itu.
Advertisement
Dani Paraswati dari brand Dannique mengatakan, dirinya mengusung tema blossom pada Jogja Fashion Week 2024 yang bermakna musim semi dengan banyak motif bunga pada karyanya. Karyanya itu disebut mencerminkan perempuan mandiri yang kodratnya menyukai keindahan dan kelembutan.
"Ciri khasnya bahan flowy atau jatuh yang menggambarkan kelembutan perempuan. Ada bunga saya tempatkan di beberapa bagian supaya mempermanis. Garis rancangannya simpel ready to wear tapi lebih elegan dan eksklusif," kata Dani.
Adapun bahan yang dipakai yakni wastra dan katun dengan memakai teknik bordir. Dani melakukan penempelan pada bagian-bagian tertentu sehingga menghasilkan karya yang sedap dipandang. "Targetnya memang ekspor ke luar negeri bisa Qatar, Malaysia dan timur tengah," jelasnya.
BACA JUGA: Dukung Sustainable Fashion, APR Gandeng Desainer Lokal Tampil di Jogja Fashion Week 2024
Dewi Roesdi peserta lainnya mengangkat tema everlasting fragment yang bercerita tentang tahapan kehidupan yang terbagi-bagi. Dirinya mengaku terinspirasi dari pohon kehidupan pinggir jurang yang akan menanti senja, sehingga motif warna yang ditampilkan lebih dominan kuning, biru dan tembaga. Dia juga berkolaborasi dengan Baticaniq untuk aksesoris.
"Ada enam model dan saya ambil dari tenun lurik. Luriknya berubah jadi fragtal. Biasanya kan lurik untuk abdi dalem jadi saya bawa misinya untuk mendunia," katanya.
Dewi menerangkan, proses kreatif karyanya itu dilakukan dengan menggunting, menyikat dan merusak lurik untuk memberikan efek tiga dimensi. Adapun karyanya ini lebih ditujukan dipakai pada musim dingin. "Kami ambil model kasual dan dikolaborasikan dengan aksesoris dari batik, ada batik parang yang sekarang saya bawa," jelasnya.
Cara Mudrika Paradise dari Paradise Batik yang berkolaborasi dengan HS Silver membawa koleksi batik tulis dan cap pada ajang itu. Mudrika mengaku terinspirasi dari gaya pakaian wanita pada umumnya yang kerap memakai scarf agar lebih bergaya dan tampil beda.
"Jadi pakaian dan scarf kami desain jadi satu kesatuan. Proses batik scarfnya dari batik tulis dan pakaian di dalam pakai batik cap. HS silver juga usung tema elegan ada bross, kalung dan cincin," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Warga Srandakan Bantul Tangkap Pencuri Sepeda Motor
- Polda DIY Catat Titik Arus Balik Tertinggi ada di Tempel
- Lurah di Gunungkidul Wajib Bikin LHKPN ke KPK
- Pakar UGM Nilai Desentralisasi Total Pengelolaan Sampah Tidak Tepat
- Kegiatan Monoton dan Kurang Menarik Jadi Pengganjal Peningkatan Lama Tinggal Wisatawan di DIY
Advertisement
Advertisement