Tujuh Kambing Mati Mendadak, 5 Warga Semanu Suspek Antraks
Tujuh kambing mati mendadak di Semanu, Gunungkidul. Lima warga mengalami luka kulit dan menjadi suspek antraks, hasil lab masih ditunggu.
Foto ilustrasi elektrifikasi pertanian - Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman berkomitmen untuk terus mengembangkan kawasa pertanian sehat. Program ini dinilai efektif meningkatkan produktivitas karena panenya bisa mencapai sembilan ton gabah kering giling per hektarenya.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono mengatakan, program Sleman Kawasan Pertanian Sehat ditetapkan melalui Instruksi Bupati No.19/Instr/2023. Selain itu, juga diperkuat melalui pembentukan Peraturan Bupati No.62/2023 tentang Pengembagnan Pertanian Organik Berbasih Kawasan.
BACA JUGA: Strategi Wujudkan Swasembada Pangan, Kementan Lakukan Refocusing Anggaran Rp1,7 Triliun
“Program ini juga memiliki peluang peningkatan nilai ekonomi melalui branding Padi Sehat Sleman,” kata Pram, sapaan akrabnya, Senin (28/10/2024).
Dia menjelaskan, fokus utama dari program ini melalui proses budidaya tanaman pertanian dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia untuk pemeliharaan. Sebagai gantinya, pemupukan atau pemeliharaan peternakan menggunakan bahan organik serta agesia hayati.
“Sudah mulai dijalankan untuk komoditas padi, cabai dan ternak telur,” katanya.
Meski demikian, Pram mengakui, program yang berjalan masih didominasi untuk tanaman padi. Hal ini dianggap wajar dikarenakan padi masih menjadi tanaman pangan utama di Masyarakat.
“Sudah ada 2.000 petani yang melaksanakan program pengemanga kawasan pertanian sehat,” kata Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakjat, Setda Sleman ini.
Menurut dia, tujuan program ini untuk menyejahterakan petani, melindungi konsumen, menjaga kelestarian lingkungan. Selain itu, juga memenuhi kebutuhan pasar akan produk pertanian sehat, terutama seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri pariwisata di Sleman.
Anggota Gabungan Kelompok Tani Ngudi Waluyo di Padukuhan Prumpung, Sardonoharjo, Ngaglik, Sriyono mengatakan, sudah mengenal Budidaya Tanaman Sehat (BTS) sejak lima tahun yang lalu dan hingga sekarang terus menerapkannya. Dia pun tidak lagi ketergantungan dengan pupuk kimia subsidi untuk pemeliharaan tanaman padi. “Sangat menghemat, karena pupuknya bisa buat sendiri ,” katanya.
Sriyono bercerita, awal menerapkan BTS, untuk luasan 1000 meter persegi. Panen yang dihasilkan juga meningkat mulai dari 5-6 ton hingga menembus sembilan ton gabah kering giling per hektarenya. “Tahun ketiga bahkan panenya mencapai sembilan ton per hektare,” ungkapnya.
Menurut dia, hasil panen lebih bagus daripada dengan budidaya konvensional, meski tanpa menggunakan pupuk kimian. Pasalnya, yang terpenting petani rajin menyemprotkan POC buatan sendiri, maka pertumbuhan tanaman bagus dan lebih aman dari serangan organisme pengganggu tanaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tujuh kambing mati mendadak di Semanu, Gunungkidul. Lima warga mengalami luka kulit dan menjadi suspek antraks, hasil lab masih ditunggu.
WNA China berinisial HW ditolak masuk Soetta meski visa masih berlaku setelah ada atensi terkait dugaan pencurian barang penumpang di pesawat Starlux.
Budidaya nangka di Gunungkidul bakal terus diperkuat untuk memenuhi pembuatan gudeg yang jadi makanan khas di DIY karena masih banyak datangkan dari luar daerah
Kebakaran rumah di Weru Sukoharjo menghanguskan bangunan dan isinya. Kerugian ditaksir Rp200 juta, termasuk uang dan perhiasan emas.
Indonesia meraih lima emas di Asian Games 2026 dan finis peringkat 16 dengan total 39 medali, melampaui target empat emas.
Eks pimpinan keselamatan OpenAI David Robinson mundur dan memperingatkan risiko keamanan AI serta pentingnya pengawasan independen.