DPRD Sleman Perketat Pengawasan Usai Temuan 11 Bayi di Pakem
DPRD Sleman akan mengevaluasi instansi pemerintah tiap tiga bulan usai temuan 11 bayi di rumah wilayah Pakem, Sleman.
Bangunan selter pengungsi di Candirejo. - Istimewa
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul melalui Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) berencana membangun selter pengungsi lagi sebagai upaya mitigasi dampak bencana alam. Selter tersebut akan dibangun di Kalurahan Serut, Gedangsari pada 2025.
Kepala Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman DPUPRKP Gunungkidul, Nurgiyanto mengatakan pembangunan selter tersebut akan didahului dengan pengadaan tanah. Kata dia, bangunan milik pemerintah perlu diberdiri di tanah Pemkab sebagai kesatuan aset.
“Anggaran sedang kami susun. Tahun depan pengadaan tanah sekalian pembangunan, itu kalau Tim Anggaran Pemerintah Daerah menyetujui,” kata Nurgiyanto dihubungi, Sabtu, (9/11).
Nurgiyanto mengaku Pemkab hanya memerlukan tanah seluas 604 meter persegi. Dari luasan tersebut, bangunan selter hanya membutuhkan 220 meter persegi. Luas sisa akan dipakai untuk halaman dan penghijauan.
Pemkab, kata dia juga tidak dapat mengadakan tanah terlalu luas, karena akan menyedot banyak anggaran. Meski begitu, Nurgiyanto mengaku ada kemungkinan kendala pengadaan tanah.
Dia memberi contoh tanah yang digunakan untuk pembangunan shelter di Kalurahan Katongan, Nglipar dengan luas 1.100 meter persegi. Padahal, Pemkab kala itu hanya perlu 604 meter persegi.
Terang dia, warga di Katongan hanya mau melepas tanah apabila seluruh bidang dibeli. Warga di sana tidak ingin menyisakan beberapa bidang saja. Sebab itu, Pemkab harus membeli seluruhnya.
“Meski begitu, selter di Katongan itu halamannya bisa dipakai untuk tenda juga, biasanya Palang Merah Indonesia,” katanya.
Adapun lokasi pembangunan shelter Pemkab pilih jauh dari lokasi bencana, namun masih terjangkau air, listrik, dan masuk zona aman.
Tahun depan, dia juga mengatakan DPUPRKP akan membuat sumur bor dengan kedalaman 50 meter di shelter Tegalrejo, Gedangsari. Sumur tersebut menjadi upaya penyediaan sumber air setelah aliran air PDAM Tirta Handayani dan SPAMDes tidak begitu lancar.
Lurah Serut, Sugiyanta mengatakan pembangunan shelter menjadi sangat penting lantaran Kalurahan Serut memiliki kerawanan tanah longsor.
“Akhir 2022 itu ada gerakan tanah yang dampaknya ke satu RT. Jadi waktu itu, pondasi rumah bergerak, bagian bawah pencah,” kata Sugiyanta.
Melalui keberadaan shelter, apabila terdapat bencana alam seperti longsor, warga dapat dievakuasi ke shelter yang notabene menjadi ruang aman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Sleman akan mengevaluasi instansi pemerintah tiap tiga bulan usai temuan 11 bayi di rumah wilayah Pakem, Sleman.
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta kembali menggelar EduCareer Connect 2026 bertajuk “From Campus to Career: Connecting Education, Opportunities
Gempa Sukabumi Magnitudo 4,5 mengguncang Jawa Barat akibat aktivitas sesar aktif bawah laut, BMKG pastikan belum ada gempa susulan.
DPAD DIY mengakuisisi untuk mengelola arsip termasuk arsip pribadi, seniman, budayawan dan arsip-arsip yang menyimpan memori kolektif.
Identitas 11 bayi yang ditemukan di Pakem Sleman masih ditelusuri Pemkab Sleman untuk penerbitan dokumen resmi dan asal-usul bayi.
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan utang luar negeri Indonesia triwulan I 2026 melambat, dengan rasio ULN terhadap PDB turun menjadi 29,5 persen.