Advertisement
Kisah Bima Septiawan, Perajin Papan Selancar Satu-satunya di Bantul

Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL—Bima Sepiawan, tidak pernah menyangka pertemuannya dengan salah satu pembuat papan selancar pada 2014 lalu di sebuah pantai di Jawa Barat, pada kejuaraan surfing tingkat nasional telah mengubah hidupnya.
Waktu itu, papan selancar yang digunakan oleh Bima mengalami kerusakan, dan harus dilakukan perbaikan. Padahal, papan selancar tersebut dibutuhkan Bima untuk mengikuti perlombaan.
Advertisement
Bima pun merasa bingung, karena saat itu, Bima hanya membawa satu papan selancar yang usianya sudah cukup tua. Selain itu, Bima yang saat itu masih berstatus siswa kelas 3 SMK K Pariwisata Bantul juga tidak memiliki cukup banyak uang apabila harus membeli papan selancar baru.
Beruntung, waktu itu, Bima bertemu dengan pembuat papan selancar yang mau memperbaiki papan selancarnya meskipun dengan anggaran yang kecil.
"Dia mau membantu untuk memperbaiki papan selancar yang saya pakai. Dan, bisa segera diperbaiki, sebelum akhirnya saya meneruskan perlombaan," kata Bima, ditemui di bengkelnya di Mancingan, Parangtritis, Kretek, Bantul, Selasa (25/2/2025).
Usai kejuaraan tersebut, muncullah keinginan dari Bima agar suatu saat nanti dirinya bisa memperbaiki dan membuat papan selancar seperti pembuat papan selancar yang ditemuinya di Jawa Barat tersebut.
Sebab, bagi Bima menjadi pembuat dan memperbaiki papan selancar tidak hanya akan membuat dirinya tidak jauh dari komunitasnya, sebagai peselancar, namun juga akan membantu para peselancar lainnya yang mengalami masalah terkait dengan papan selancar.
"Karena saya sejak 2012 saya juga sudah senang surfing," ungkap pria yang saat ini menjadi salah satu senior di klub surfing Dolphin Parangtritis.
Untuk mengejar cita-citanya menjadi pembuat papan selancar dan juga peselancar profesional, Bima pun pada tahun 2015 nekat merantau dan meninggalkan komunitasnya di Mancingan, Parangtritis.
Tidak ada tempat lain yang dituju oleh Bima, selain Bali. Karena disanalah, Bima menilai bakat dan kemampuannya menjadi peselancar profesional bisa terasah. Apalagi, saat mengikuti kompetisi selancar, Bima kembali bertemu dengan pria pembuat papan selancar yang sebelumnya ditemui di Jawa Barat.
"Saat itu saya ditawari untuk bekerja di tempatnya di Bali. Di sana saya membantunya untuk memproduksi papan selancar," jelas Bima.
Bak gayung bersambut, tawaran dari pembuat papan selancar tersebut pun akhirnya diterima oleh Bima. Meskipun, Bima harus meninggalkan sejumlah peselancar dan warga Mancingan, yang selama ini sudah dianggap sebagai keluarganya.
"Saat itu, pikiran saya hanya satu. Suatu saat saya ingin mengembangkan produksi papan surfing di Jogja," ungkap Bima.
BACA JUGA: Kisah Wido Widiatmoko: Sang Perawat Federal-Federal Terlantar
Benar saja, ketrampilan dari Bima dalam berselancar dan membuat papan selancar perlahan semakin terasah. Perlahan, Bima pun meningkatkan kemampuannya dalam berselancar dengan mendapatkan lisensi kepelatihan. Selain itu, Bima juga semakin terampil dalam memperbaiki maupun membuat papan selancar.
"Dan, setelah bekal di Bali saya rasa cukup, tahun 2022 saya pulang ke Mancingan, dan mencoba usaha perbaikan dan pembuatan papan selancar. Karena bagaimanapun saya dibesarkan disini," imbuh Bima.
Diakui oleh Bima, kali pertama membuka usaha memperbaiki dan membuat papan selancar dengan brand Hauw Surfboard tidak langsung mendapatkan pelanggan. Sebab, belum banyak yang mengenal jika dirinya bisa memperbaiki ataupun membuat papan selancar.
Praktis, di tahun-tahun awal, Bima hanya beberapa kali memperbaiki papan selancar milik anggota klub surfing yang ada di sekitar Pantai Parangtritis, dan milik SAR Satlinmas.
Namun, seiring dengan perkembangan waktu, perlahan, Bima yang juga membuka kursus selancar mulai dikenal oleh para peselancar. Beberapa papan selancar yang berasal dari luar DIY mulai berdatangan, baik sekadar untuk memperbaiki spin [sayap] yang rusak, hingga memodifikasi papan selancar.
"Karena mungkin di wilayah Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur hanya saya yang membuka jasa perbaikan papan selancar," ungkapnya.
Selama dua tahun menjadi pembuat dan reparasi papan selancar, diakui Bima sejauh ini pesanan paling jauh berasal dari Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Selain itu, pelanggannya berasal dari sejumlah kota di Pulau Jawa. Para pelanggan tersebut rata-rata tahu keberadaan jasa yang ditawarkan oleh Bima melalui mulut ke mulut. Namun, belakangan, banyak pelanggan yang datang karena melihat unggahan media sosial dari Hauw Surfboard.
"Mereka biasanya order dulu. Untuk stok memang saya masih ada kendala dalam anggaran," papar Bima.
Untuk membuat maupun perbaikan papan selancar, Bima mengaku menggunakan beberapa bahan. Selain menggunakan styrofoam, Bima juga menggunakan bahan polyster. Untuk bahan styrofoam, Bima biasa mencampurnya dengan lem foxy untuk membentuk papan selancar.
"Kalau menggunakan polyester saya campur dengan resin," jelasnya.
Sementara untuk biaya pembuatan papan selancar baru, Bima biasa mematok harga mulai Rp3,8 sampai Rp8 juta, tergantung ukuran, mulai dari 5 feet sampai 1,5 meter. Adapun waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu papan selancar mulai dari nol, biasanya Bima mematok sepekan. Sebab, Bima harus mencari dan membeli bahan material sebelum memulai proses produksi.
Selain itu, untuk banderol yang dipatok Bima tersebut juga bisa berubah tergantung permintaan dari pelanggan. Untuk perbaikan, Bima mematok harga mulai dari Rp50.000 hingga Rp500.000, semua tergantung besar kecilnya perbaikan.
"Jika ingin papan selancar baru dengan harga lebih murah, saya sarankan agar beli papan selancar bekas, nanti saya reparasi dan ubah seperti baru. Ini lebih murah dibandingkan membuat papan selancar dari nol," ungkap Bima.
Untuk membuat papan selancar, Bima akan melakukan proses shaping dari styrofoam kotak besar. Styrofoam itu dipotong dan disatukan sehingga membentuk papan selancar. Setelah itu, Bima mulai memproses glassing papan selancar.
"Lalu saya filler finishing. Saya gerindra lagi, nanti baru digosok air lagi, baru poles finishing dua lapis fiber. Soal motif papan selancar, semua menyesuaikan dari pesanan," jelas Bima.
Dari proses pembuatan yang ada, Bima menyatakan, proses shaping terkadang menemui kendala. Sebab, inti dari papan selancar adalah pembuatan bahan papan selancar. Selain itu, proses glassing.
"Karena untuk penyesuaian request warna juga harus sama dan kerapiannya," ungkapnya.
Terkait dengan pengerjaan, Bima mengakui selama ini semua perbaikan dan pembuatan papan selancar sepenuhnya ditangani dirinya sendiri. Alasan Bima tidak menggunakan jasa orang lain membantu perbaikan dan pembuatan papan selancar, karena dirinya mementingkan kualitas dari pada kuantitas.
"Jadi ya saya kerjakan sendiri. Sembari belajar jika ada kesulitan pengerjaan," ucap Bima.
Kepiawaian terkait perbaikan papan selancar yang dilakukan oleh Bima pun diakui oleh salah satu pelanggannya, Icha. Perempuan asal Tangerang tersebut mengaku sengaja datang ke bengkel milik Bima untuk melakukan reparasi papan selancar.
"Saya beli papan selancar pertama secara online. Ternyata banyak yang harus diperbaiki dan dicat ulang. Saya sangat puas dengan pelayanan dan pengerjaan yang dilakukan oleh Hauw Surfboard," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Bertolak ke Lokasi Retreat Kepala Daerah di Magelang, Prabowo Bakal Pimpin Upacara Parade Senja
Advertisement

Sempat Ditutup Akibat Cuaca Ekstrem, Ranu Regulo di Kawasan Bromo Tengger Semeru Dibuka Kembali
Advertisement
Berita Populer
- Hormati Puasa, Puluhan Tempat Karaoke di Pantai Parangtritis & Parangkusumo Tutup 3 Hari di Awal dan Lima Hari di Akhir Ramadan
- Mandiri Olah Sampah, Pawitikra Andalkan Zetra dan Insinerator
- Pemkab Bantul Gunakan BTT Rp100 Juta Tangani Kerusakan di Tiga Lokasi
- Pemkot Jogja Kosongkan Depo dan Siap Gerakkan Transporter untuk Angkut Sampah
- Awal 2025, Sebanyak 143 Warga Gunungkidul Terserang DBD, Belum Ada Korban Jiwa
Advertisement
Advertisement