Wali Kota Jogja Komitmen Lanjutkan Program Gandeng-Gendong dan Batik Segoro Amarto

Alfi Annisa Karin
Alfi Annisa Karin Sabtu, 08 Maret 2025 18:17 WIB
Wali Kota Jogja Komitmen Lanjutkan Program Gandeng-Gendong dan Batik Segoro Amarto

Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo - Harian Jogja/ Alfi Annissa Karin

Harianjogja.com, JOGJA - Seusai dipimpin oleh penjabat wali kota selama tiga tahun berturut-turut, estafet kepemimpinan di Kota Jogja saat ini dipegang oleh Hasto Wardoyo.

Berbagai inovasi sudah dia canangkan di awal kepemimpinannya ini. Meski demikian, Hasto berkomitmen untuk melanjutkan berbagai program peninggalan dari pemimpin sebelumnya yang menurutnya bernilai tinggi.

Saat ditemui belum lama ini di Balai Kota Jogja, Hasto mengatakan akan kembali menggerakkan program Gandeng-Gendong. Ini merupakan program yang digagas oleh Wak Wali Kota Jogja Periode 2017-2022 Heroe Poerwadi.

BACA JUGA: 8 Proyek Strategis Pemkot Jogja Ini Tetap Jalan Pakai APBD

Lewat program Gandeng-Gendong, UMKM di Kota Jogja digerakkan untuk berdaya. UMKM digandeng untuk bisa menyuplai makanan dan minuman untuk berbagai acara di lingkup Pemkot Jogja. Program ini juga dinilai sukses memutar roda perekonomian di Kota Jogja.

"Saya di Kota Jogja paham betul semua yang baik akan saya teruskan," ujarnya saat ditemui di Balai Kota Jogja beberapa waktu lalu.

Selain program Gandeng-Gendong, produk batik bermotif khas Kota Jogja juga akan terus disebarluaskan. Batik ini diberi nama Segoro Amarto, yang juga sekaligus menjadi jargon andalan Kota Jogja. Segoro Amarto punya kepanjangan Semangat Gotong Rotong Agawe Majune Ngayogyakarta.

Menurut Hasto, penanda daerah memiliki nilai yang penting. Bukan dalam segi nilai material, tapi dalam segi imaterial ataupun dilihat dari filosofinya. Sebuah penanda daerah diharapkan bisa turut menghidupkan perekonomian warga Kota Jogja.

Batik Segoro Amarto misalnya, jika dipatenkan, didaftarkan pada Hak Kekayaan Intelektual, dan wajib digunakan dalam lingkup pemerintahan ataupun pendidikan maka akan turut menghidupkan para perajin batik di Kota Jogja.

BACA JUGA: Mengatasi Masalah Sampah, Pemkot Jogja Gandeng UGM untuk Kembangkan Teknologi Pengolahan

Menurutnya, ini sejalan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk mencegah capital flight. "Kalau hanya batik biasa yang tidak ciri khas tertentu dan tidak di hak kekayaan intelektual-kan, pada belinya di Tanah Abang, impor dari negara lain dalam bentuk printing, uangnya lari. Harus berdikari dalam bidang ekonomi dan harus swa-sembada. Menyiapkan batik tidak cukup satu setengah tahun. Kalau mau dari nol dan ketika masa jabtan sudah mau habis, kan repot," ungkapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online