Lansia Meninggal Seusai Jalan Kaki di Alun-Alun Selatan Jogja
Lansia berusia 74 tahun meninggal dunia seusai berolahraga di Alun-Alun Selatan Jogja. Polisi memastikan tidak ditemukan tanda kekerasan.
Anggota Komisi B DPRD Kota Jogja, Oleg Yohan (berdiri) saat menggelar pertemuan pelaku UMKM di Omah Sedoyo (Omah Sedulu Oleg Yohan) di Kompleks Tarakanita, Kemantren Tegalrejo, Jumat (3/10/2025). Ist
Harianjogja.com, JOGJA—Anggota Komisi B DPRD Kota Jogja, Oleg Yohan, menilai kunci kebangkitan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terletak pada perubahan pola pikir para pelakunya. Menurutnya, penguatan mindset menjadi langkah awal yang sangat penting sebelum masuk ke tahap pelatihan teknis atau peningkatan kapasitas usaha.
Oleg menjelaskan, setiap Jumat sore dirinya rutin menggelar pertemuan pelaku UMKM di Omah Sedoyo (Omah Sedulu Oleg Yohan) di Kompleks Tarakanita, Kemantren Tegalrejo. Dalam kegiatan tersebut, pelatihan tidak hanya difokuskan pada keterampilan teknis, tetapi juga pada perubahan cara berpikir.
“Pelatihannya saat ini tidak hanya sekadar bagaimana melatih dari bisa dan tidak bisa, tapi merubah mindset pemikiran masyarakat,” kata Oleg, Jumat (3/10/2025).
Saat ini ia tengah menyusun buku literasi bisnis berjudul Bisnis Itu Pasti Rugi, Tapi Risikonya Kaya. Buku tersebut ditujukan untuk menanamkan pola pikir baru kepada pelaku UMKM agar tidak melihat kerugian sebagai kegagalan, melainkan bagian dari proses investasi.
“Dalam mindset mereka itu tidak ada kata-kata rugi, adanya investasi. Merubah pola pikir ini tidak seperti halnya merubah barang dari tidak ada jadi ada. Ini pelan-pelan kita rubah,” jelasnya.
Selain melalui pelatihan, politisi Partai Nasdem ini juga aktif mendampingi pelaku UMKM dalam pencatatan keuangan dan akses permodalan. Ia menjelaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan Bank Jogja dan Bank BPD untuk memberikan pemahaman tentang pembukuan dan mekanisme peminjaman yang benar.
Menurutnya, pendampingan ini penting agar UMKM bisa lebih kuat secara finansial dan tidak mudah goyah menghadapi tantangan ekonomi. “Hal ini yang kita harapkan membuat teman-teman UMKM tidak patah semangat. Karena teman UMKM ini waktu Covid-19 lalu, ada usaha yang masih berjalan di tengah perusahaan lainnya gulung tikar,” kata Oleg.
Ia juga mendorong Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kota Jogja agar mulai 2026 mendukung program pelatihan yang fokus pada perubahan mindset. Program tersebut akan menjadi pelengkap dari pelatihan yang selama ini lebih banyak berkutat pada strategi penjualan dan penggunaan media sosial.
Terkait kondisi UMKM di Kota Jogja saat ini, Oleg menilai, kondisi saat ini menuntut para pelaku usaha untuk bekerja lebih keras dan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar.
“Saya lebih menghindari kata-kata kondisinya memburuk. Tapi cenderung kondisi sekarang lebih harus punya effort. Kondisi sekarang itu harus punya effort lebih. Sehingga memungkinkan bahwa kita tidak boleh menyerah pada kondisi yang ada,” tegasnya.
Dengan kombinasi antara perubahan mindset, pendampingan keuangan, dan dukungan regulasi yang tepat, Oleg optimistis sektor UMKM di Kota Jogja dapat bangkit dan berkembang lebih kokoh. Ia menilai UMKM memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas ekonomi lokal, sebagaimana terbukti saat masa pandemi lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lansia berusia 74 tahun meninggal dunia seusai berolahraga di Alun-Alun Selatan Jogja. Polisi memastikan tidak ditemukan tanda kekerasan.
Kebakaran hutan terbesar di Spanyol menghanguskan 26.000 hektar lahan dan memaksa sekitar 1.200 warga mengungsi di Guadalajara.
Iran mengklaim menyerang pusat data Amazon di Bahrain sebagai balasan atas serangan AS ke Darkhovin. Ketegangan kedua negara kembali meningkat.
Psikolog UI mengingatkan perubahan perilaku anak dapat menjadi tanda ancaman digital. Orang tua perlu peka dan membangun komunikasi yang aman.
PAD wisata Gunungkidul melampaui target pada semester I 2026. Pemda fokus membenahi retribusi, akses jalan, dan pelayanan wisata.
Sebanyak 195.000 pekerja di Sleman terlindungi BPJS Ketenagakerjaan hingga Juni 2026. Pemkab masih mengejar tambahan 14.000 peserta.