Advertisement
Enkripsi AES dan Kompresi LZMA Dinilai Efektif Amankan Data Medis Digi
Kepala Pusat Studi Forensika Digital (PUSFID) sekaligus Dosen Jurusan Informatika FTI UII, Yudi Prayudi. - Istimewa.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Ancaman keamanan siber yang terus meningkat membuat perlindungan data medis elektronik menjadi kebutuhan mendesak. Penelitian terbaru dari sivitas akademika Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) menunjukkan bahwa kombinasi enkripsi Advanced Encryption Standard (AES) dan kompresi Lempel-Ziv-Markov (LZMA) mampu meningkatkan keamanan sekaligus efisiensi penyimpanan dokumen medis digital.
Kepala Pusat Studi Forensika Digital (PUSFID) sekaligus Dosen Jurusan Informatika FTI UII, Yudi Prayudi, menjelaskan bahwa data medis memiliki karakteristik sangat sensitif sehingga memerlukan perlindungan berlapis. Menurutnya, penggabungan metode enkripsi dan kompresi menjadi solusi yang relevan dengan kebutuhan sistem informasi kesehatan saat ini.
Advertisement
“Enkripsi AES memastikan kerahasiaan data, sementara kompresi LZMA membantu mengatasi masalah pembengkakan ukuran file yang biasanya muncul setelah proses enkripsi. Ini penting agar sistem tetap efisien tanpa mengorbankan keamanan,” ujar Yudi, Jumat (21/11/2025).
Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan teknik random sampling terhadap 542 file DICOM dari perpustakaan terbuka, dengan ukuran berkisar 513 kilobyte. Hasil pengujian menunjukkan metode gabungan ini mampu mengurangi ukuran file hingga 40–50 persen, dengan waktu enkripsi rata-rata hanya 0,2–0,3 detik per file.
BACA JUGA
Alumni Magister Informatika FTI UII, Oto Raharjo, yang terlibat langsung dalam penelitian tersebut, menyampaikan bahwa pengujian juga dilakukan pada beberapa format lain seperti JPG dan TIF. Hasilnya, efektivitas kompresi sangat dipengaruhi oleh karakteristik data, bukan semata-mata format file.
“Pada file dengan struktur sederhana, efisiensi penyimpanan bisa mencapai rata-rata 55 persen. Namun pada file yang kompleks atau berwarna, seperti sebagian JPEG dan DICOM, ukuran file justru dapat meningkat setelah dikompresi,” kata Oto.
Dari sisi performa sistem, penggunaan CPU saat proses enkripsi tercatat cukup tinggi, mencapai 94,05 persen, dengan konsumsi memori sekitar 92,95 kilobyte per file. Sementara saat dekripsi, penggunaan CPU turun menjadi 78,16 persen dengan konsumsi memori yang lebih rendah. Meski demikian, Yudi menilai performa tersebut masih tergolong stabil dan tidak menjadi hambatan berarti dalam lingkungan pengujian.
“Aspek terpenting adalah integritas data tetap terjaga. Nilai hash MD5 sebelum dan sesudah proses selalu sama, artinya tidak ada perubahan data. Ini syarat mutlak dalam sistem informasi kesehatan,” tegas Yudi.
Penelitian ini juga dinilai sejalan dengan amanat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 terkait pengelolaan rekam medis elektronik. Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi pengembang sistem informasi kesehatan dalam mengimplementasikan pengamanan data medis melalui Application Programming Interface (API).
Meski memiliki keterbatasan pada efisiensi kompresi untuk data yang kompleks, kombinasi Base64, LZMA, dan AES dinilai sebagai solusi yang layak dan fungsional. “Metode ini memberi panduan praktis tentang apa yang efektif dan apa yang perlu diantisipasi dalam pengamanan dokumen medis elektronik,” tutup Oto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Walking Tour Telusuri Jejak Sejarah Simpang Lima Boyolali
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Bus Sinar Jaya ke Pantai Parangtritis dan Baron, 13 Januari
- Jadwal dan Tarif DAMRI Jogja-Semarang PP, 4 Januari 2026
- Kebakaran Pabrik Tahu di Bantul, Api Diduga dari Tungku
- Gunungkidul Catat Surplus Beras 116 Ribu Ton di 2025
- Viral di Medsos, Kasus Pencurian Celana Dalam Wanita di Bantul Selesai
Advertisement
Advertisement




