Advertisement
Petani Pesisir Gunungkidul Mulai Panen Padi Gogo di Lahan Kering
Ilustrasi panen padi - ist - ngawikab.go.id
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Petani di kawasan pesisir Kabupaten Gunungkidul mulai memasuki masa panen padi gogo, meskipun wilayah tersebut selama ini dikenal memiliki karakter lahan kering dan mengandalkan tadah hujan.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, menjelaskan bahwa tidak seluruh padi di Gunungkidul ditanam di lahan sawah. Sejumlah wilayah pesisir seperti Girisubo, Tepus, Saptosari, Panggang, hingga Purwosari memanfaatkan lahan tadah hujan untuk budidaya padi.
Advertisement
Oleh karena itu, pada musim tanam pertama yang bertepatan dengan musim hujan, luas tanam padi meningkat signifikan. Ia mencatat total lahan yang ditanami padi mencapai 42.734 hektare.
“Untuk di wilayah kering, yang ditanam adalah padi jenis gogo yang kebutuhan airnya lebih sedikit,” kata Raharjo, Rabu (21/1/2026).
BACA JUGA
Ia menuturkan, sebagian petani di kawasan pesisir kini sudah mulai panen. Salah satunya di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, yang memanen padi gogo varietas Segreng Handayani, varietas lokal asli Bumi Handayani.
Berdasarkan hasil pengubinan, produktivitas padi gogo tersebut tergolong cukup baik, yakni mencapai 5,3 ton per hektare. Dari lahan seluas 1.200 meter persegi, petani mampu menghasilkan 28 sak atau sekitar 700 kilogram gabah kering giling.
“Di lahan seluas 1.200 meter persegi ini, bisa mendapatkan 28 sak atau sekitar 700 kilogram gabah kering giling,” kata Raharjo.
Selain Girisubo, panen padi gogo juga telah dirasakan petani di Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari, dengan produktivitas sekitar 3,5 ton per hektare.
“Panen padi ini juga sudah dilakukan oleh petani di Kalurahan Ngestirejo, Kapanewon Tanjungsari,” katanya.
Kepala Tim Produksi Tanaman dan Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Danang Sutopo, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan panen padi di lahan kering. Hingga awal Januari, sekitar 5% lahan padi telah dipanen.
“Memang belum semua, tapi untuk masa panen raya terjadi mulai akhir Januari hingga Februari,” katanya.
Ia menambahkan, produktivitas panen bervariasi antarwilayah. Meski demikian, Danang memperkirakan hasil panen rata-rata dapat mencapai sekitar lima ton per hektare.
“Mudah-mudahan hasilnya bisa bagus sehingga ketahanan pangan di Gunungkidul dapat terus diperkuat,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus meningkatkan produktivitas gabah di Kabupaten Gunungkidul. Capaian produksi padi tahun sebelumnya menjadi bukti konsistensi kerja petani dan aparatur pertanian dalam memperkuat ketahanan pangan.
“Kami ingin memastikan program ketahanan pangan tetap berjalan baik, mulai dari penyediaan benih, pupuk, hingga mitigasi risiko cuaca ekstrem. Jadi, hasilnya bisa dilihat dengan hasil panen yang lebih optimal,” kata Rismiyadi.
Untuk mendukung musim tanam pertama, ia menyebutkan pemerintah telah menyalurkan bantuan benih padi sebanyak 108,3 ton yang dapat digunakan untuk budidaya di lahan seluas 4.332 hektare.
“Ini bisa untuk budidaya padi di lahan seluas 4.332 hektare,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




