Advertisement
Kemarau Basah dan Warga Disiplin Tekan Angka Kebakaran di Kulonprogo
Foto ilustrasi petugas pemadam kebakaran bekerja memadamkan api di lokasi kejadian kebakaran. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, KULONPROGO—Jumlah kebakaran di Kulonprogo menurun drastis pada 2026, hanya tercatat satu kejadian. Penurunan ini dipengaruhi oleh kemarau basah dan meningkatnya kesadaran warga dalam menjaga keamanan lahan dan rumah.
Kepala Seksi Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan BPBD Kulonprogo, Raden Chris Hartanto, menyebut penurunan kebakaran sebagai hasil kolaborasi faktor alam dan perilaku manusia. Salah satu faktor eksternal yang berperan signifikan adalah kemarau basah, yang masih diselingi hujan meskipun intensitasnya ringan.
Advertisement
“Udara tidak terlalu kering sehingga kebakaran lahan bisa ditekan. Berbeda dengan kemarau ekstrem, kondisi ini membuat lahan, terutama di area rawan seperti Karangwuni, lebih aman,” kata Hartanto, Selasa (3/1/2026).
Data menunjukkan, selama 2024 terjadi 104 kebakaran, namun di 2025 turun drastis menjadi 46 kejadian, dan hingga awal 2026 baru satu kejadian dilaporkan. Menurut Hartanto, faktor manusia juga memegang peranan kunci.
BACA JUGA
Penurunan angka kebakaran lebih dari 50 persen ini merupakan buah sosialisasi gencar BPBD ke tingkat mako hingga masyarakat. “Masyarakat semakin disiplin, misalnya dalam keamanan instalasi listrik dan penggunaan jaringan listrik yang aman,” ucapnya.
Kewaspadaan di dapur, memastikan kompor sudah mati, dan tidak membuang puntung rokok sembarangan juga menjadi faktor utama menekan kebakaran. Di lahan kosong yang penuh tumbuhan, warga kini selalu memastikan tidak ada sisa api yang tertinggal.
“Ada korelasi positif dari sosialisasi dan kunjungan ke mako-mako. Warga lebih hati-hati, dan dampaknya sangat terasa,” tambah Hartanto. Meski angka kebakaran rendah dibanding daerah lain, masyarakat diminta tetap waspada agar tren positif ini berlanjut.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan BPBD Kulonprogo, Eko Susanto, menekankan pentingnya pencegahan. “Selain pemadaman, masyarakat harus menjaga api agar tidak tertinggal di lahan kosong sehingga tidak memicu kebakaran,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Kisah Hari Terakhir Eyang Meri Sebelum Wafat di Usia 100 Tahun
Advertisement
Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun
Advertisement
Berita Populer
- Anggaran Rp160 Juta Digelontorkan, Ini Titik Pemberian Pakan Monyet
- Nisfu Syakban 2026 Jatuh 3 Februari, Malam Pengampunan dan Amalan
- BPBD Sleman: Lima EWS Rusak, Satu Hilang di Wilayah Rawan Bencana
- Kehidupan Air Purba Hadir di Taman Pintar, Target 750 Ribu Pengunjung
- Cekcok Driver Maxim dan Mahasiswi Viral, Ini Kata Polresta Sleman
Advertisement
Advertisement



