Advertisement
Sego Berkat Gunungkidul Diusulkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda
Foto ilustrasi nasi berkat. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sego Berkat diusulkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) oleh Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Gunungkidul sebagai bagian dari upaya pelestarian kuliner tradisional yang telah diwariskan lintas generasi di Bumi Handayani.
Pengusulan Sego Berkat sebagai Warisan Budaya Tak Benda ini juga dimaksudkan untuk memperkuat identitas budaya sekaligus menjaga kesinambungan tradisi kuliner Nusantara.
Advertisement
Analis Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Hadi Risma, menyampaikan bahwa sejumlah tradisi di Gunungkidul sebelumnya telah lebih dulu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Pemerintah Pusat. Pada tahun lalu, misalnya, terdapat tiga warisan budaya yang ditetapkan di tingkat nasional, yakni Apel Conthong, Tradisi Nyumbang, dan Bakmi Jawa.
“Kami akan mengusulkan kembali agar khazanah Warisan Budaya Tak Benda di Gunungkidul terus bertambah,” kata Hadi, Rabu (11/2/2026).
BACA JUGA
Menurutnya, pada tahun ini Sego Berkat diusulkan sebagai calon Warisan Budaya Tak Benda ke Pemerintah Pusat. Proses pengusulan tersebut telah dilengkapi dengan kajian akademis sebagai dasar pertimbangan.
“Sudah ada kajiannya dan tinggal diusulkan. Harapan kami bisa ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda sebagai tradisi kuliner Nusantara,” ujarnya.
Hadi menjelaskan, Sego Berkat tidak sekadar makanan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi atau bernilai ekonomi. Lebih dari itu, kuliner ini telah menjadi identitas budaya dengan ciri khas yang melekat pada masyarakat Gunungkidul.
“Yang jelas keberadaan Sego Berkat sudah lebih dari tiga generasi sehingga layak untuk diusulkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda,” katanya.
Selain memiliki nilai historis, Sego Berkat juga mengandung makna filosofis yang kuat. Dalam Tradisi Slametan, Sego Berkat menjadi sarana simbolik yang menghubungkan kehidupan manusia dengan para leluhur. Doa-doa yang dipanjatkan dalam Slametan memuat harapan keselamatan serta restu dari generasi terdahulu. Sementara makanan yang tersaji dibagikan sebagai wujud rasa syukur dan upaya menjaga ikatan kekeluargaan serta keterhubungan spiritual lintas generasi.
“Sego Berkat ini digunakan dalam berbagai momentum, mulai kelahiran, kematian, pernikahan, hingga acara bersih desa,” katanya.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menyatakan dukungan penuh terhadap upaya pelestarian budaya melalui penetapan Warisan Budaya, baik yang berwujud maupun tak berwujud. Ia mencontohkan penyelenggaraan Festival Gunungkidul Lautan Bakmi pada tahun lalu sebagai bentuk apresiasi atas penetapan Bakmi Jawa sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
“Makanya harus terus dilestarikan agar tetap eksis keberadaannya,” kata Mbak Endah, sapaan akrabnya.
Menurutnya, ragam kuliner di Gunungkidul cukup beragam. Selain Bakmi Jawa dan Apel Conthong yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Sego Berkat juga dinilai layak menyandang status sebagai warisan kuliner khas Bumi Handayani yang memperkaya Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari
Advertisement
Berita Populer
- Banyak Bangunan Sleman Belum Ber-PBG, Risiko Keselamatan Mengintai
- Parkir Stasiun Lempuyangan Dinilai Cukup, KAI Dorong Penertiban Liar
- Puncak Musim Hujan DIY Bertahan hingga Maret, BPBD Tetap Siaga
- Kasus Saling Lapor di Ponjong Disupervisi Polres Gunungkidul
- Obesitas Dewasa Meningkat, RSUP Sardjito Dorong Terapi Bariatrik
Advertisement
Advertisement




