Advertisement
Masjid Saka Tunggal, Jejak Arsitektur Unik Warisan Sri Sultan HB IX
Tampak keberadaan saka guru (tiang penyangga utama) di dalam Masjid Saka Tunggal, Kemantren Kraton, Jogja, pada Sabtu (21/2/2026). - Harian Jogja - Ariq Fajar Hidayat
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Di tengah kawasan wisata Tamansari, berdiri sebuah masjid dengan arsitektur tak lazim bernama Masjid Saka Tunggal. Sesuai namanya, masjid ini hanya ditopang satu tiang utama atau saka guru yang berada tepat di tengah bangunan.
Masjid tersebut terletak persis di depan pintu masuk Tamansari dan secara administratif berada di wilayah Kelurahan Patehan, Kemantren Kraton, Yogyakarta. Keberadaannya menjadi penanda unik di kawasan wisata yang kerap dipadati pengunjung.
Advertisement
Masjid Saka Tunggal dibangun pada 28 Februari 1973 atas prakarsa Gubernur DIY kala itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Lahan yang digunakan merupakan tanah wakaf Keraton Yogyakarta, yang sebelumnya merupakan area bekas makam.
“Awalnya masjid ini akan dinamai Masjid Istiqomah, bahkan papan nama sempat dipasang. Tanahnya wakaf dari Keraton karena warga di sekitar sini banyak yang beribadah tetapi belum memiliki tempat,” ujar takmir Masjid Saka Tunggal, Sugeng Purnomo, Sabtu (21/2/2026).
BACA JUGA
Keistimewaan masjid ini terletak pada saka guru tunggal yang menopang keseluruhan bangunan. Tiang kayu berukuran besar tersebut berdiri di atas umpak batu dan hingga kini tetap kokoh tanpa pernah mengalami penggantian sejak pertama kali didirikan.
“Kalau jamaah duduk di dalam, saka guru itu terlihat seperti lima tiang. Empat di atas satu tiang utama. Itu melambangkan Pancasila, sementara satu saka guru mencerminkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” jelas Sugeng.
Tak hanya simbol kebangsaan, ukiran pada penyangga juga mengandung filosofi tentang keikhlasan dan semangat saling menolong dalam beribadah. Nilai-nilai tersebut, menurut Sugeng, sejalan dengan keteladanan Sri Sultan HB IX yang dikenal dekat dengan rakyat.
“Ngarsa Dalem itu disegani karena merakyat dan peduli. Wibawa lahir dari hati yang bersih dan ibadah yang khusyuk, bukan dari rasa takut,” ujarnya.
Kayu saka guru Masjid Saka Tunggal diketahui berasal dari Pati, Jawa Tengah. Proses pengerjaan dilakukan langsung di lokasi masjid oleh para pengrajin, dan seluruh material utama masih asli hingga kini.
“Kayunya besar-besar dari Pati. Dulu ngukirnya di sini, saya masih kecil ikut menunggu. Sampai sekarang semuanya masih original,” kenang Sugeng.
Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Saka Tunggal juga difungsikan sebagai ruang singgah bagi wisatawan. Pengelola menyediakan area istirahat di luar ruang utama masjid yang dapat dimanfaatkan masyarakat umum, tanpa memandang latar belakang agama.
“Karena ini kawasan wisata, kami sediakan tempat istirahat. Siapa pun boleh mampir dan beristirahat di situ,” katanya.
Selama Ramadan, masjid ini rutin membagikan takjil gratis setiap hari. Panitia menyiapkan sekitar 150 porsi untuk jamaah dan pengunjung.
“Setiap hari ada 150 porsi. Siapa pun boleh mengambil. Kalau ada yang ingin patungan, silakan lewat panitia,” ujarnya.
Pada akhir pekan, Sabtu (21/2/2026), Masjid Saka Tunggal juga dimanfaatkan wisatawan untuk menunggu waktu berbuka puasa. Sejumlah pengunjung Tamansari memilih singgah untuk beristirahat sambil menanti azan magrib.
“Saya habis keliling Tamansari dan Pasar Ngasem, sekalian mampir ke sini buat nunggu buka. Ada takjil gratis juga, jadi bisa istirahat,” kata Arbi, wisatawan asal Sleman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Starting XI PSS Sleman vs Persipura, Laga Penentu Puncak Klasemen
- Kota Jogja Tunggu BMKG, Siaga Hidrometeorologi Berpotensi Diperpanjang
- Limbah Rumah Tangga Dominasi Pencemaran Sungai Jogja
- Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 22 Februari 2026, Tarif Rp8.000
- Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 22 Februari, Ini Rincannya
Advertisement
Advertisement








