Advertisement
Endapan Capai 1 Meter, Irigasi di Bantul Dikeruk
Pekerja tengah melakukan pengerukan sedimentasi di daerah irigasi Merdika kawasan Pendowoharjo, Sewon sepanjang 200 meter, Selasa (14/4/2026). - Harian Jogja/Yosef Leon
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL— Saluran irigasi di wilayah Pendowoharjo, Kapanewon Sewon, Bantul mengalami sedimentasi parah hingga mengganggu distribusi air ke lahan pertanian. Kondisi ini mendorong pemerintah melakukan normalisasi dan pengerukan guna memastikan pasokan air tetap lancar, terutama menjelang musim tanam.
UPTD Pengamatan Pengairan Winongo DPUPKP Bantul saat ini tengah mengerjakan normalisasi Daerah Irigasi Merdika sepanjang 200 meter. Pekerjaan difokuskan pada pengangkatan endapan lumpur serta perbaikan struktur saluran yang mengalami kerusakan.
Advertisement
Juru Air UPTD Pengamatan Pengairan Winongo, Suyadi, menjelaskan bahwa pengerjaan dilakukan setelah menerima laporan dari petani terkait saluran yang mampet, retak, hingga bocor.
“Ini laporan dari petani. Misalnya mampet, banyak sedimen, pasangan talutnya juga ambrol. Laporan masuk ke UPT dulu, lalu kami tindak lanjuti,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
BACA JUGA
Endapan sedimentasi di lokasi tersebut bahkan mencapai hampir satu meter. Meski aliran air masih relatif berjalan, kondisi ini dinilai berisiko menghambat distribusi, terutama saat kebutuhan air meningkat.
Normalisasi ini juga menjadi bagian dari langkah antisipasi menghadapi perubahan musim, dari penghujan menuju kemarau. Dengan saluran yang bersih dan optimal, distribusi air ke lahan pertanian diharapkan tetap terjaga.
Suyadi menyebut, Daerah Irigasi Merdika Kanan dan Kiri mengairi lahan pertanian seluas sekitar 400 hektare di wilayah Pendowoharjo dan Timbulharjo. Karena itu, kelancaran saluran menjadi faktor krusial bagi produktivitas pertanian di kawasan tersebut.
Dalam pengerjaan ini, petugas melakukan pengerukan sepanjang 200 meter, sementara perbaikan struktur talut dilakukan pada titik-titik sepanjang 40–50 meter yang mengalami kerusakan. Pekerjaan dimulai dari sisi timur dan dilanjutkan ke arah barat dengan target penyelesaian sekitar 10 hari.
“Talut lama banyak yang bocor, jadi perlu diperbaiki agar tidak mengganggu aliran air,” jelasnya.
Langkah normalisasi ini mendapat apresiasi dari petani setempat yang selama ini terdampak sedimentasi. Salah satu petani, Trihartono, menilai pengerukan ini mampu mengatasi persoalan klasik yang kerap muncul saat musim tanam.
“Selama ini saluran dangkal karena endapan lumpur. Air jadi tidak lancar, bahkan tidak sampai ke sawah bagian ujung,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung pada produktivitas pertanian. Ia berharap normalisasi tidak hanya dilakukan sekali, tetapi menjadi program rutin dengan pengawasan yang berkelanjutan.
Selain sedimentasi alami, masuknya material tanah dari sekitar saluran saat hujan deras juga menjadi penyebab utama pendangkalan. Karena itu, petani berharap ada langkah pencegahan agar endapan tidak kembali menumpuk dalam waktu singkat.
Dengan normalisasi yang dilakukan secara berkala, diharapkan sistem irigasi di Bantul tetap optimal dan mampu mendukung ketahanan pangan, terutama di tengah tantangan perubahan musim yang semakin tidak menentu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Polemik Tempo, NasDem DIY Bantah Isi Laporan dan Tegaskan Sikap
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








