Lurah Terpilih di Bantul Harus Rangkul Warga yang Berbeda Pilihan
Pilur Bantul di 30 kalurahan berjalan lancar. DPRD meminta lurah terpilih merangkul semua elemen dan menjaga kebersamaan warga.
Ilustrasi panen padi - ist/ngawikab.go.id
Harianjogja.com, BANTUL—Produktivitas padi di Kabupaten Bantul diklaim masih cukup baik meski wilayah tersebut menghadapi musim kemarau tahun ini. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul mencatat hasil panen padi dengan penerapan sistem tanam benih langsung atau Tabela dapat mencapai lebih dari 10 ton per hektare.
Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, mengatakan capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan produktivitas padi dengan sistem tanam biasa yang rata-rata menghasilkan sekitar 9 ton per hektare.
“Kalau yang menggunakan sistem tanam biasa, rata-rata masih 9 ton per hektare. Namun, dengan sistem tanam tertentu, hasilnya bisa lebih dari 10 ton per hektare,” kata Joko, Jumat (9/10/2026).
Sistem Tanam Tabela Tingkatkan Produktivitas Padi
Joko menjelaskan peningkatan hasil panen tersebut bukan disebabkan penggunaan varietas padi terbaru. Menurut dia, produktivitas yang lebih tinggi diperoleh melalui penerapan sistem tanam dengan pengaturan jarak tanam yang berbeda.
Sistem tersebut dikenal sebagai tanam benih langsung (Tabela), yakni metode penanaman benih tanpa melalui proses persemaian dan pemindahan bibit. Penerapan sistem tanam yang tepat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan produksi padi.
Meski demikian, hasil panen di lapangan tetap dipengaruhi sejumlah faktor. Kondisi pertanaman dan ketersediaan air menjadi aspek yang turut menentukan capaian produktivitas padi di Bantul.
Di tengah kondisi kemarau, DKPP Bantul mengaku belum menerima laporan lahan pertanian yang mengalami puso atau gagal panen akibat kekeringan.
Joko menyebut dampak kekeringan ditemukan pada tanaman jagung di wilayah Dlingo. Tanaman tersebut terpaksa dipanen lebih awal sebelum memasuki masa panen normal, tetapi hasilnya masih bisa dimanfaatkan petani.
"Di Dlingo memang ada tanaman jagung yang dipanen lebih awal sebelum memasuki masa panen normal karena terdampak kekeringan. Namun, masih bisa dimanfaatkan petani untuk pakan ternak," ungkapnya.
Jadwal Tanam di Bantul Berpotensi Mundur
Memasuki musim tanam pertama (MT I) pada akhir tahun ini, DKPP Bantul memperkirakan jadwal tanam di sejumlah wilayah berpotensi mengalami kemunduran. Perkiraan tersebut berkaitan dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut hujan baru mulai turun pada dasarian kedua Desember.
Joko menegaskan potensi keterlambatan jadwal tanam tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Bantul. Daerah yang memiliki sumber air memadai diperkirakan masih dapat melanjutkan kegiatan pertanian.
"Karena Bantul ini kan dialiri enam sungai, dengan lima di antaranya saat ini masih memiliki debit air yang cukup untuk mendukung pertanaman, terutama di wilayah bagian bawah," ujarnya.
DKPP Andalkan Irigasi Perpompaan dan JIAT
Untuk wilayah yang berpotensi mengalami keterbatasan air, DKPP Bantul mengandalkan dukungan infrastruktur pengairan. Fasilitas yang tersedia meliputi irigasi perpompaan (Irpom) dan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT).
Saat ini, terdapat 11 unit Irpom dan tiga sumur dalam JIAT yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengairan lahan pertanian. Infrastruktur tersebut menjadi salah satu penunjang agar kegiatan pertanian tetap berjalan ketika ketersediaan air terbatas.
DKPP Bantul juga terus memantau kondisi pertanian di lapangan. Pemantauan dilakukan untuk memastikan petani menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi yang dihadapi sehingga hasil produksi dapat tetap optimal dan risiko gagal panen bisa ditekan.
"Petani sudah paham kalau kondisi seperti ini yang bagus ditanam apa, tapi kami tetap pantau di lapangan agar hasil tetap maksimal dan meminimalisir gagal panen," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur Bantul di 30 kalurahan berjalan lancar. DPRD meminta lurah terpilih merangkul semua elemen dan menjaga kebersamaan warga.
Prakiraan cuaca Jogja 10 Oktober 2026 didominasi berawan. Suhu udara DIY berkisar 22–32°C dengan kelembapan mencapai 92%.
Pemerintah Pusat mengalokasikan Rp18,75 miliar untuk membangun lima Kampung Nelayan Merah Putih di Gunungkidul. Simak lokasi dan rincian anggarannya.
Cek jadwal KSPN Jogja Sabtu 10 Oktober 2026 ke Obelix Sea View dan Pantai Drini, lengkap dengan tarif dan jam keberangkatan.
Cek jadwal DAMRI dari Bandara YIA ke Jogja dan Sleman pada Sabtu 10 Oktober 2026. Tarif normal Rp80.000 per penumpang.
Cek jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Sabtu, 10 Oktober 2026. Tersedia 10 perjalanan dengan keberangkatan dari kedua arah.