Kekurangan Murid, 4 SD di Gunungkidul Dikaji untuk Digabung
Dinas Pendidikan Gunungkidul mengkaji penggabungan empat SD yang kekurangan murid setelah lima sekolah lebih dulu menjalani regrouping pada 2026.
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto sekaligus Ketua Dewan Pembina Rabu Biru Foundation saat meresmikan bantuan pembangunan sumur bor di Kalurahan Mertelu, Sabtu (24/10/2026)./Harian Jogja-David Kurniawan\r\n\r\n\r\n
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Petani di Kalurahan Mertelu, Kapanewon Gedangsari, mendapatkan bantuan sumur bor untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Bantuan ini diharapkan membantu petani tetap menggarap lahan saat musim kemarau, ketika keterbatasan air membuat banyak lahan tidak ditanami.
Lurah Mertelu, Gedangsari, Nur Hidayat Agustina, mengatakan bantuan sumur bor tersebut memberikan harapan bagi petani untuk meningkatkan ketahanan pangan di wilayahnya. Selama ini, banyak warga mengandalkan air hujan untuk bercocok tanam. Akibatnya, ketika musim kemarau tiba, sejumlah lahan tidak dapat digarap karena keterbatasan sumber air untuk pemeliharaan tanaman.
“Tapi dengan adanya bantuan sumur bor dari PT Pupuk Indonesia melalui Yayasan Rabu Biru Foundation, maka saat kemarau bisa tetap digarap karena ada sumber air untuk pemeliharaan,” kata Nur Hidayat, Sabtu (25/10/2026).
Menurut Nur Hidayat, bantuan tersebut tidak hanya berupa pembangunan sumur bor, tetapi juga dilengkapi jaringan perpipaan. Teknologi yang digunakan turut memperhatikan aspek ramah lingkungan dengan memanfaatkan tenaga surya untuk mengangkat air dari dalam tanah.
“Ini pilot project pertanian modern serta pemanfaatan energi terbarukan di Mertelu melalui tenaga surya. Mudah-mudahan produktivitas dapat ditingkatkan sehingga ketahapan pangan bisa lebih diperkuat,” katanya.
Ketua Komisi IV DPR RI sekaligus Ketua Dewan Pembina Rabu Biru Foundation, Siti Hediati Soeharto, menyambut baik pembangunan sumur bor di Kalurahan Mertelu. Ia berharap bantuan infrastruktur air tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi petani, khususnya dalam menghadapi musim kemarau.
“Ketersediaan air diharapkan membantu petani menjaga keberlangsungan budidaya dan meningkatkan produktivitas pertanian,” katanya.
Perempuan yang akrab disapa Mbak Titiek itu juga meminta agar program bantuan serupa terus diperluas. Pasalnya, sejumlah wilayah di Gunungkidul masih menghadapi persoalan krisis air bersih.
“Bantuan ini menjadi solusi petani yang mayoritas masih mengandalkan air hujan untuk bercocoktanam sehingga program memperkuat ketahanan pangan benar-benar bisa terwujud,” katanya.
Sumur Bor Dukung Pengairan Lahan 28 Hektare
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan bantuan sumur bor tersebut merupakan bentuk kontribusi perusahaan dalam mendukung keberlanjutan sektor pertanian. Melalui penyediaan infrastruktur air dan pendampingan kepada petani, program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus kesejahteraan petani.
“Ketersediaan air merupakan faktor penting untuk menjaga keberlanjutan pertanian. Tanpa pasokan air yang memadai, potensi lahan dan penggunaan pupuk belum tentu dapat menghasilkan panen secara optimal,” kata Rahmad.
Ia menjelaskan sumur bor yang dibangun di Mertelu memiliki kedalaman 103 meter. Infrastruktur tersebut dilengkapi tandon air berkapasitas 20.000 liter untuk menunjang kebutuhan pengairan lahan pertanian.
Fasilitas ini dirancang untuk mendukung pengairan lahan seluas 28 hektare dan memberikan manfaat kepada 93 petani penerima pupuk bersubsidi di Kalurahan Mertelu.
Dengan tersedianya sumber air tersebut, petani diharapkan dapat mempertahankan kegiatan budidaya meski curah hujan berkurang. Pemanfaatan tenaga surya juga menjadi bagian dari penerapan teknologi pertanian modern dan energi terbarukan di wilayah tersebut.
Rahmad menambahkan, program penyediaan sumber air untuk pertanian tidak hanya dilaksanakan di Gunungkidul. Program Mata Air Indonesia juga telah terlaksana di sejumlah daerah lain.
“Selain di Mertelu Gunungkidul, Program Mata Air Indonesia juga terlaksana di Grobogan, Jawa Tengah; Pacitan, Jawa Timur; Sampang, Jawa Timur dan Kupang di Nusa Tenggara Timur,” katanya.
Bantuan sumur bor di Mertelu diharapkan menjadi salah satu upaya untuk mengatasi keterbatasan air yang selama ini menghambat aktivitas pertanian saat kemarau. Dengan dukungan infrastruktur pengairan, petani memiliki sumber air tambahan untuk menjaga keberlangsungan budidaya dan mendukung peningkatan produktivitas lahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinas Pendidikan Gunungkidul mengkaji penggabungan empat SD yang kekurangan murid setelah lima sekolah lebih dulu menjalani regrouping pada 2026.
Pemkab Bantul menyiapkan pemindahan rute jeep wisata dari zona inti ke zona penyangga Gumuk Pasir untuk menjaga kelestarian bentang alam barchan.
Kementerian PKP menargetkan bedah 10.300 rumah tak layak huni di DKI Jakarta pada 2026 untuk meningkatkan kualitas hunian masyarakat berpenghasilan rendah.
Pemkab Banyumas mendorong insentif komisi dan diskon bagi agen travel untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, termasuk diskon 30% di Baturraden dan Menara Terat
Sebanyak 22 sekolah di Kulonprogo dilaporkan kesulitan air bersih saat kemarau. SDN Jatiroto mengandalkan bantuan droping air dari BPBD.
Survei IPO menempatkan Meutya Hafid di posisi ke-10 menteri berkinerja terbaik dengan 5,9% dalam survei nasional Oktober 2026.