DPRD Kota Jogja Soroti Kredit IKM, Perbankan Diminta Tetap Hati-hati

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Rabu, 28 Oktober 2026 21:37 WIB
DPRD Kota Jogja Soroti Kredit IKM, Perbankan Diminta Tetap Hati-hati

Situasi pameran fesyen Tan Mingkuh Tumapakinh Jaman Anyar di Floating Stage Pasar Beringharjo. /Harian Jogja-Catur Dwi Janati

Harianjogja.com, JOGJA—Penurunan daya beli masyarakat menjadi tantangan bagi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kota Jogja, terutama yang bergerak di sektor kerajinan atau craft dan fesyen. Anggota Komisi B DPRD Kota Jogja, Oleg Yohan, mendorong pelaku usaha menyesuaikan strategi bisnis dengan kebutuhan pasar, sementara perbankan perlu tetap berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

Menurut Oleg, perubahan prioritas belanja masyarakat membuat kebutuhan pokok lebih diutamakan dibandingkan produk kerajinan dan fesyen. Situasi tersebut menuntut pelaku IKM mengevaluasi strategi usaha agar tetap mampu bertahan di tengah kondisi ekonomi yang menekan penjualan.

“Secara teori demikian, agar IKM berkembang perlu ada pendampingan dari segala sektor termasuk perbankan,” kata Oleg dihubungi, Rabu (28/10/2026).

Dukungan Kredit IKM Perlu Mempertimbangkan Kemampuan Usaha

Oleg menilai pendampingan dari berbagai sektor, termasuk perbankan, menjadi bagian penting dalam pengembangan IKM. Namun, dukungan pembiayaan perlu disertai pertimbangan terhadap kondisi ekonomi dan kemampuan pelaku usaha untuk mengembalikan pinjaman.

Dia menyebut Kota Jogja memiliki Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur 75 persen dana yang disetorkan di Bank Jogja untuk pengembangan IKM. Kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan perbankan terhadap keberlangsungan usaha kecil dan menengah.

Meski demikian, penurunan pendapatan masyarakat turut memengaruhi kemampuan belanja konsumen. Ketika daya beli melemah, penjualan produk IKM ikut terdampak sehingga pelaku usaha menghadapi tantangan untuk mempertahankan kegiatan bisnisnya.

Dalam kondisi tersebut, perbankan perlu memperhitungkan risiko penyaluran kredit. Di sisi lain, pelaku IKM dituntut mengevaluasi model bisnis agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan permintaan pasar.

“Daya beli menurun akhirnya semua menurun, maka perlu merestorasi, merestrukturisasi untuk kemudian tetap bertahan atau alih profesi,” katanya.

Produk Craft dan Fesyen Belum Tentu Tidak Berkualitas

Oleg menyoroti penurunan penjualan produk kerajinan dan fesyen yang dapat terjadi karena perubahan prioritas belanja masyarakat. Menurutnya, produk yang kurang laku tidak serta-merta menunjukkan kualitasnya buruk, melainkan bisa disebabkan konsumen lebih memilih memenuhi kebutuhan primer terlebih dahulu.

“Misalnya sekarang produk craft atau fashion. Padahal saat ini produk craft dan fashion tertentu tidak laku itu bukan berarti jelek, tapi masyarakat memilih beli kebutuhan pokok dulu,” ucapnya.

Kondisi itu menjadi tantangan bagi pelaku IKM yang mengandalkan penjualan produk kerajinan dan fesyen. Mereka perlu memikirkan kembali strategi usaha agar kegiatan bisnis tetap dapat berjalan dan mampu menopang kebutuhan sehari-hari.

Oleg menilai pelaku usaha tidak harus mempertahankan bentuk usaha yang sama apabila belum mampu memberikan jaminan ekonomi secara langsung. Penyesuaian strategi, restrukturisasi usaha, hingga kemungkinan beralih profesi dapat dipertimbangkan sesuai keadaan pasar.

Adaptasi IKM Dibutuhkan di Tengah Tekanan Ekonomi

Menurut Oleg, persoalan penurunan daya beli tidak dapat diselesaikan hanya pada tingkat regional. Pelaku usaha perlu memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kondisi ekonomi yang memengaruhi pola belanja masyarakat.

Pendampingan usaha dan dukungan perbankan tetap dibutuhkan untuk membantu pengembangan IKM. Namun, penyaluran kredit juga perlu memperhatikan kemampuan pengembalian pinjaman agar pembiayaan tidak mengabaikan risiko yang dihadapi pelaku usaha.

Dengan perubahan strategi yang sesuai kebutuhan pasar, pelaku IKM diharapkan dapat menentukan langkah untuk mempertahankan usaha di tengah melemahnya daya beli. Penyesuaian tersebut menjadi penting terutama bagi sektor kerajinan dan fesyen yang menghadapi persaingan dengan prioritas pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pokok.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online