Ekonomi Bukan Lagi Penyebab Anak Putus Sekolah

Ilustrasi siswa. - Harian Jogja/dok
07 Oktober 2018 23:10 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Faktor ekonomi dinilai bukan lagi menjadi alasan siswa di Gunungkidul putus sekolah. Penyebab siswa putus sekolah lebih banyak karena memang siswa sudah enggan sekolah.

Ketua Lembaga Orang Tua Asuh, Gunungkidul, CB Supriyanto mengungkapkan di masa sekarang seharusnya sudah tidak ada lagi anak putus sekolah karena ekonomi.

Ia menuturkan problem putus sekolah lebih banyak karena dari anak sendiri sudah tidak mau bersekolah.

"Biasanya yang putus sekolah karena faktor pribadi anak itu sendiri, entah memilih kerja atau yang lain. Untuk masalah ekonomi saya rasa tidak, karena sekolah gratis dan ada beasiswa," kata Supriyanto, Minggu (7/10/2018).

Untuk mengatasi problem anak putus sekolah menurut dia, menjadi tanggung jawab bersama. Ia menuturkan harus ada pendekatan dan penjelasan khusus ke anak yang enggan sekolah dan tindak lanjut dari komite sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), Gunungkidul Bahron Rasyid menuturkan saat ini masih ada angka putus sekolah. Penyebabnya tidak lain karena sang anak lebih memilih bekerja dibanding sekolah.

Berdasarkan data terakhir, anak putus sekolah di tingkat SD mencapai 0,03% atau 17 anak dari total 57.000 siswa. Untuk SMP dari 27.000 siswa, delapan orang di antaranya tidak meneruskan pendidikan atau 0,03%. Pada tingkat SMA sederajat, dari jumlah total 27.000 siswa, lima anak di antaranya putus sekolah atau 0,02%.

"Penyebab bukan lagi masalah ekonomi. Namun dari kemauan anak sendiri lebih memilih bekerja," ujar Bahron.

Melihat angka putus sekolah yang belum sampai angka 0 tersebut, Disdikpora mengklaim terus menekan angka putus sekolah dengan berbagai langkah. Di antaranya melalui bantuan beasiswa, pemahaman kepada orang tua sekaligus kepada anak agar tidak meninggalkan sekolah. “Dengan belajar 12 tahun, dinilai anak akan lebih mudah mendapat pekerjaan,” jelas dia.