Tawon Jadi Fauna Khas Gunungkidul, Bukan Belalang Goreng
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Ilustrasi
Harianjogja.com, PATUK – Pembangunan jalur alternatif Gunungkidul-Sleman di ruas Ngalang-Ngoro-oro akan akan dilanjutkan tahun depan. Rencananya jalan baru sepanjang 10 kilometer ini akan terbagi dalam lima ruas pengerjaan.
Ruas pertama menghubungkan titik dari Ngoro-oro sampai Kedungkadang, titik kedua menghubungkan antara Kedungkadang-Kepil, titik ketiga Kepil-Bobung. Sedangkan titik keempat menghubungkan Bobung-Ngalang I dan titik kelima menghubungkan Karanganyar sampai perempatan SMP Negeri 1 Gedangsari.
BACA JUGA : Jalan Alternatif Gunungkidul-Sleman Dilanjutkan, Titik
Kepala Seksi Pemeliharaan, Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Wadiyana mengatakan, pembangunan jalan alternatif Sleman-Gunungkidul merupakan program dari Pemerintah DIY. Meski demikian, pemkab ikut membantu dalam upaya pengadaan tanah maupun perkembangan dalam pembanguann.
“Sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Rencananya dilanjutkan tahun depan untuk menyambungkan antara titik Ngalang-Ngoro-oro yang sekarang belum tersambung,” kata Wadiyana kepada wartawan, Jumat (14/8/2020).
Meski demikian, ia mengakui bahwa pembangunan di lima ruas tidak dilaksanakan secara bersamaan. Pasalnya, untuk pembangunan di tahun depan hanya dua ruas yakni di titik yang menghubungkan Ngoro-oro dengan Kedungkandang dan titik Karangayar sampai perempatan SMP Negeri 1 Gedangsari. Adapun upaya persiapan pembangunan sudah dimulai dengan melakukan pembersihan di sekitar lokasi.
BACA JUGA : Asyik Pembangungan Jalur Alternatif Desa Ngalang Dilanjutkan
“Kemungkinan untuk bisa selesai secara penuh sampai 2022,” ungkapnya.
Selain membangun jalan alternatif hingga bisa benar-benar terhubung, rencannaya di jalur Ngalang-Ngoro-oro juga dibangun lima jembatan. Rinciannya, dua jembatan sepanjang 200 meter di ruas Kedungkadang-Bobung dan Bobung-Kepil. Sedangkan tiga jembatan lainnya memilik panjang sekitar 70 meter.
“Semuanya didanai oleh Pemerintah DIY,” katanya.
Kepala Kundha Niti Mandala Sastra Tata Sasana atau Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Gunungkidul, Winaryo mengatakan, didalam rencana pembangunan jalur alternatif Gunungkidul-Sleman, pihaknya ikut membantu. Salah satunya dalam upaya pembebasan lahan untuk pembangunan.
BACA JUGA : Pembebasan Lahan Jalur Alternatif Gunungkidul-Sleman
“Sebelum menggunakan dana keistimewaan di tahun lalu, pengadaan tanah masih menggunakan dana dari APBD kabupaten,” katanya.
Menurut dia, pembebasan lahan di ruas Ngalang sampai Ngoro-oro sudah selesai dilakukan di tahun lalu. Total ada 671 bidang tanah dengan luasan mencapai 25 hektare. Adapun biaya yang dikeluarkan mencapai Rp105 miliar. “Semua sudah beres dan tinggal pembangunannya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Kecelakaan di Jalan Terong–Mangunan Bantul menewaskan pejalan kaki. Polisi sebut jarak dekat jadi penyebab utama.
KPK memeriksa Plt Bupati Tulungagung dan sejumlah kepala dinas terkait dugaan aliran uang kasus pemerasan Bupati nonaktif.
Motif pembacokan pelajar di depan SMAN 3 Jogja terungkap. Geng Vozter disebut patroli menjaga wilayah usai info tawuran.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa optimistis IHSG akan rebound pekan depan didukung fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai tetap kuat.
Dinkes Sleman perketat pemisahan jeroan kurban untuk cegah kontaminasi dan risiko penyakit saat Iduladha 2026.