Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Ilustrasi/Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Keterbatasan sumber air di Kapanewon Girisubo, Gunungkidul, membuat pengusaha tangki mengambil air dari luar Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah guna memenuhi pemesanan dari masyarakat.
Salah seorang pengusaha tangki air, Kitut Sakiran, mengatakan pada saat ini kebutuhan air bersih di masyarakat semakin meningkat. Hal tersebut terlihat dari pesanan yang mengalami lonjakan dibandingkan pada saat awal-awal kemarau di akhir Mei lalu.
Ia pun mengaku senang dengan meningkatnya permintaan. Namun, permasalahan baru muncul karena keterbatasan sumber, membuat pengiriman menjadi tersendat.
Di Kapanewon Girisubo terdapat sejumlah sumber air seperti di Sadeng, Puring dan Pulejajar. Namun demikian, sudah ada pembagian pemanfaatan sumber Puring dan Pulejajar digunakan memenuhi permintaan di wilayah barat, sedangkan Sadeng dimanfaatkan untuk wilayah timur dan sekitarnya.
Menurut Kitut, sumber Sadeng tidak bisa diandalkan sepenuhnya. Selain antrean yang bisa mencapai belasan tangki, debit air sering bermasalah sehingga saat mengambil harus mengantre lama.
Sumber Sadeng merupakan sungai bawah tanah sehingga debitnya sangat tergantung dengan air laut. Pada saat pasang, debitnya banyak, namun pada saat surut sumbernya juga ikut surut karena air mengalir ke laut.
“Ya kalau surut, airnya sering telat sehingga pengisian ke tangki harus menunggu lama,” katanya, Rabu (11/8).
Guna menyiasati masalah ini, banyak pengusaha yang mengambil air dari wilayah Pracimantoro, Wonogiri. Kitut tidak menampik, konsekuensi pengambilan ini jarak yang ditempuh lebih lama (dibandingkan mengambil air dari Sadeng) karena perjalanannya harus ditempuh sejauh 25 kilometer.
“Memang jaraknya jauh, tapi tidak antre karena mengisinya hanya butuh waktu sekitar lima menit,” ujarnya.
Tangki air 6.000 liter dijual di kisaran harga Rp120.000 hingga Rp200.000. Adapun harga sangat tergantung dengan jarak medan yang harus dilalui. Namun demikian, lanjut dia, untuk pengambilan dari wilayah Praci dikenakan tambahan biaya sebesar Rp20.000 per tangkinya.
“Warga mau menerima karena sangat membutuhkan dan tidak mau mengantre lama,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, hasil dari pendataan, ada 16 kapanewon yang berpotensi terdampak kekeringan. Meski demikian, hingga sekarang baru sepuluh kapanewon yang secara resmi mengajukan bantuan air bersih. Kapanewon ini meliputi Tepus, Rongkop, Girisubo, Patuk, Paliyan, Tanjungsari, Panggang, Semin, Wonosari dan Saptosari.
“Total hingga sekarang sudah ada 99.559 warga yang terkena dampak dari musim kemarau. Adapun bantuan yang diberikan sudah lebih dari 847 tangki,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Prabowo mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur BI dan Aida Budiman sebagai Deputi Senior. DPR segera gelar fit and proper test.
Imigrasi menolak 9.394 paspor sepanjang Januari-Juli 2026 karena terindikasi TPPO dan pekerja migran ilegal.
Dua perkara pelanggaran miras dan minuman oplosan di Bantul diputus dengan total denda Rp16 juta. Barang bukti turut dimusnahkan.
Harga oli Pertamina Lubricants naik rata-rata 17% sejak Juni 2026 akibat kenaikan biaya produksi dan tekanan nilai tukar.
Anak gajah Yuna mati di PLG Saree Aceh diduga terinfeksi EEHV. BKSDA Aceh melakukan deteksi dini terhadap gajah anakan lainnya.