Cuaca Berubah, Dinkes Sleman Imbau Warga Waspadai Penularan ISPA
Dinkes Sleman mengimbau warga menerapkan PHBS dan mengenali gejala ISPA di tengah perubahan cuaca, terutama pada kelompok rentan.
ilustrasi jogging/Magnific
Harianjogja.com, SLEMAN—Pembangunan sport center di Kabupaten Sleman diminta tidak hanya mengutamakan kemegahan bangunan, tetapi juga memperhatikan standar teknis setiap cabang olahraga. Penyesuaian desain dengan kebutuhan pengguna dinilai penting agar fasilitas tersebut dapat menunjang pembinaan atlet sekaligus dimanfaatkan masyarakat.
Anggota DPRD Sleman, Wahyudi Kurniawan, mengatakan setiap cabang olahraga memiliki persyaratan fasilitas yang berbeda. Karena itu, perencanaan pembangunan perlu mempertimbangkan fungsi utama fasilitas sesuai peruntukannya.
Menurut Wahyudi, lapangan sepak bola, misalnya, harus memenuhi ketentuan ukuran dan kualitas permukaan. Hal serupa berlaku untuk fasilitas bola voli, bola basket, bulu tangkis, atletik, serta cabang olahraga lainnya yang memiliki standar teknis tersendiri.
“Perencanaan harus didasarkan pada analisis kebutuhan pengguna, standar teknis, potensi pemanfaatan, aksesibilitas, hingga kemampuan pemeliharaan dalam jangka panjang,” katanya, Sabtu (7/11/2026).
Wahyudi menyoroti sejumlah aspek dalam fasilitas sepak bola yang perlu diperhatikan, mulai dari ukuran lapangan yang terlalu kecil, permukaan lapangan yang tidak memadai, hingga desain jogging track yang beririsan dengan area permainan.
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi mengurangi fungsi lapangan, baik sebagai tempat latihan maupun lokasi penyelenggaraan pertandingan. Oleh karena itu, desain fasilitas harus mengutamakan kebutuhan cabang olahraga yang menjadi peruntukannya.
Dia tidak memungkiri keberadaan jogging track memiliki manfaat bagi masyarakat, terutama untuk menunjang aktivitas olahraga dan menjaga kebugaran. Namun, penempatannya perlu dirancang dengan mempertimbangkan keselamatan, kenyamanan, serta fungsi utama lapangan.
Wahyudi menilai fasilitas olahraga di Sleman perlu dirancang secara terpadu. Dengan begitu, kebutuhan masyarakat untuk berolahraga secara rekreatif tetap dapat terakomodasi tanpa mengurangi fungsi fasilitas untuk pembinaan prestasi atlet.
Lebih lanjut, Wahyudi mengatakan keberhasilan pembangunan sport center tidak semata-mata diukur dari penyelesaian proyek atau kemegahan bangunan saat diresmikan. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan fasilitas tersebut dapat digunakan sesuai tujuan pembangunannya.
“Fasilitas tersebut harus benar-benar berfungsi, terawat, dan mudah diakses oleh berbagai kelompok pengguna,” imbuhnya.
Dia berharap fasilitas olahraga di Sleman dapat menjadi ruang aktivitas masyarakat sekaligus mendukung pembinaan atlet secara berkelanjutan melalui perencanaan yang tepat.
Wahyudi juga berharap evaluasi pembangunan sport center menjadi perhatian pemerintah daerah. Dengan demikian, anggaran yang dialokasikan dapat memberikan manfaat optimal dan sesuai dengan kebutuhan olahraga di Sleman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Sleman mengimbau warga menerapkan PHBS dan mengenali gejala ISPA di tengah perubahan cuaca, terutama pada kelompok rentan.
Polresta Jogja menetapkan pria berinisial W sebagai tersangka dan menahannya setelah kedapatan membawa senjata tajam saat aksi 28 Oktober di Malioboro.
Produksi ikan budidaya Kota Jogja rata-rata 48,59 ton per tahun. Pemkot mendorong pengembangan pokdakan untuk memenuhi kebutuhan warga.
Investasi Gunungkidul mencapai Rp797,64 miliar hingga September 2026 atau 92,9% dari target, dengan sektor industri sebagai penyumbang terbesar.
Cesc Fabregas meminta Como melupakan kemenangan 9-1 atas Lens dan fokus menghadapi Inter Milan dalam lanjutan Serie A 2026/2027.
SMPN 2 Bambanglipuro memperkuat budaya sukses pendidikan melalui pengajian rutin bersama orang tua, guru, komite, dan masyarakat.