RASKIN DAERAH : Beras Terlalu Lama Disimpan di Gudang Bisa Timbulkan Polemik

JIBI/Solopos/Burhan Aris NugrahaPekerja menurunkan karung berisi beras untuk rakyat miskin daerah (Raskinda) yang tiba di Kantor Kelurahan Kadipiro, Banjarsari, Solo, Kamis (14 - 11). Di Kadipiro tercatat 1.568 penerima raskinda
17 Maret 2015 04:20 WIB Holy Kartika Nurwigati Kulonprogo Share :

Raskin Daerah di Kulonprogo disarankan ada manajemen stok beras, agar tidak terlalu lama disimpan di gudang

Harianjogja.com, KULONPROGO—Dalam rangka menyongsong program beras bagi warga miskin (raskin) dengan skema beras daerah (rasda), pemerintah dinilai perlu mengutamakan manajemen stok.

Pasalnya, beras yang terlalu lama disimpan nantinya justru menimbulkan polemik di tengah masyarakat penerima raskin.

Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kulonprogo, Eko Pranyata mengungkapkan, tantangan rasda selama ini yakni adanya sistem gudang Bulog.

Dia mengatakan, beras yang telah disetorkan gabungan kelompok tani (gapoktan) dapat disimpan di gudang selama sekitar tujuh bulan.

"Menurut kami, manajemen stok perlu dipersiapkan, dan sebaiknya mungkin dapat dilakukan dengan penerapan gudang lokal," ujar Eko saat dihubungi Minggu (15/3/2015).

Sebelumnya, dalam lokakarya persiapan menghadapi Pilot Project Rasda, Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengungkapkan, gapoktan paling tidak harus memiliki gudang filial. Harapannya, beras tersebut juga dapat dibagi ke wilayah sendiri.

"Kalau bisa dikumpulkan di gudang sendiri dan dibagi sendiri, maka tidak perlu memasukkan ke gudang Bulog," ujar Hasto.

Hasto menambahkan, sistem rasda yang dibangun nantinya oleh gapoktan diharapkan tidak hanya sebagai penyuplai. Ke depan, gapoktan juga harus dapat menguasai sampai titik distribusi.

“Saya harap ini sukses, sehingga dapat memperbarui tata niaga Bulog, khususnya manajemen raskin secara nasional. Di Kulonprogo, per bulan beras yang didistribusikan bisa mencapai sekitar Rp4,2 miliar. Alangkah indahnya jika bisa lari ke petani,” kata Hasto.

Lebih lanjut Hasto memaparkan, sesuai dengan ideologi bela beli produk lokal yang sejalan dengan visi Kulonprogo, rasda harus dapat menjadi program untuk menyejahterakan masyarakat dan petani.

Gapoktan di kabupaten ini sudah mulai dengan meningkatkan pelayanan beras bagi para pegawai negeri sipil. Dia menegaskan, setelah sukses membuat raskin menjadi rasda, maka target selanjutnya adalah menyiapkan beras premium.

"Klimaksnya, beras organik dan beras untuk pasar mancanegara dengan diekspor. Kami yakin, misi mengangkat beras lokal ini dapat berhasil dan sukses," kata Hasto.