DESA RAWAN PANGAN : Potensi Rawan Pangan, Desa Grogol Masih Pertahankan Sektor Pertanian

Petani memanen tebu di area pertanian tebu rakyat Desa Ngujang, Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (12/6/2015). Seiring meningkatnya kebutuhan gula nasional, pemerintah berencana menyediakan lahan untuk pengembangan tebu seluas 600.000 ha di luar Pulau Jawa setiap tahunnya dengan perluasan areal kebun tebu dimulai pada tahun 2016 seluas 600.000 ha hingga 2019. Pada akhir program itu, total perluasan areal kebun tebu nasional diharapkan bisa mencapai 2,4 juta ha. (JIBI/Solopos/Antara - Destyan Sujarwoko)
04 Februari 2016 13:26 WIB Gunungkidul Share :

Desa rawan pangan di Gunungkidul ditangani dengan mengoptimalkan produk unggulan wilayah tersebut

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-- Masuk ke dalam daftar daerah rawan pangan di Gunungkidul, Pemerintah Desa Grogol, Kecamatan Paliyan, akan memaksimalkan hasil tebu untuk antisipasinya utamanya.

Kepala Desa Grogol, Suhari, mengungkapkan bahwa hasil tebuĀ  menjadi salah satu potensi di desanya. Namun pemanfaatan tanaman tebu belum dapat dirasakan oleh petani tebu di Grogol sendiri. Padahal tanaman tebu banyak tumbuh di persawahan warga.

"Selama ini hasil tebu selalu dikirim ke Pabrik Madukismo di Bantul, mulai tahun ini rencananya akan dihentikan. Selanjutnya biar warga yang mengolah hasil tebu itu sendiri," kata dia, Rabu (3/2/2016).

Terkait dengan desanya yang berpotensi rawan pangan, ia cukup gelisah pada perkembangan desa Grogol yang dirasa semakin tertinggal dibanding desa lainnya di Paliyan.

Pasalnya ia melihat potensi desa yang sedikit dan masih bergantung pada hasil pertanian. Penghasilan utama dari penduduk adalah dari hasil sawah. Sebanyak 90% penduduknya bekerja sebagai petani, sedangkan 10 persennya pegawai.

Suhari juga mengatakan bahwa faktor Sumber Daya Manusia masih menjadi salah satu pengaruh tertinggalnya kemajuan desa. Sehingga tingkat produktivitas bekerja masih tergolong rendah dan berpengaruh ke perekonomian.

"Warga desa Grogol mayoritas orangnya sudah lansia tidak dapat berbuat banyak untuk kemajuan desa. Anak-anak muda banyak yang pindah ke luar daerah untuk mengadu nasib. Sehingga sumber daya manusianya belum kreatif, dan masih bergantung pada tani," kata Suhari.

Ia bersama perangkat desa lainnya berusaha keras memikirkan jalan tengah dari permasalahan rawan pangan.

Ada beberapa rencana, salah satunya dengan membangun pasar wisata. Menurutnya, jalan Paliyan-Playen merupakan jalur yang banyak dilewati oleh wisatawan menuju beberapa objek wisata di Gunungkidul, prediksinya pasar wisata tersebut nanti akan ramai dikunjungi banyak orang.

"Pasar Wisata nanti dibangun di sebelah Masjid timur Kantor Desa Grogol, nanti disitu warga dapat menjual berbagai macam cinderamata maupun oleh-oleh khas Gunungkidul kepada wistawan sehingga mampu menambah pendapatan," katanya lagi.