Lingkungan Buruk, Setahun 33 Balita di Kota Jogja Meninggal Dunia

22 Januari 2018 20:40 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Sebanyak 33 balita meninggal karena diare dan radang paru-paru.

Harianjogja.com, JOGJA--Dinas Kesehatan Kota Jogja mengimbau masyarakat untuk terus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungannya masing-masing. Imbauan ini terkait masih tingginya angka kematian balita di Jogja.

Dinas Kesehatan mencatat angka kematian balita di Jogja selama 2017 lalu sebanyak 33 orang. Jumlah ini meningkat di banding 2016 lalu, sebanyak 30 orang. "Penyebab kematian balita adalah karena radang paru dan diare. Ini karena kondisi lingkungan yang kurang sehat, maka perlu ditingkatkan lagi PHBS," kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Jogja, Agus Sudrajat, saat dihubungi, Senin (22/1/2018).

Agus mengklaim angka kematian balita di Jogja masih terbilang rendah di banding angka rata-rata nasional. Bahkan menurut dia, angka kematian itu sudah menurun dibanding 2015 lalu sebanyak 34 orang. Kendati demikian, pihaknya tetap berupaya untuk terus menekan angka kematian balita.

Beberapa program yang dilakukan di antaranya menggencarkan gerakan PHBS, gerakan masyarakat hidup sehat (Germas), Si Kesi Gemas atau sistem kelurahan siaga gerakan masyarakat hidup sehat dan SIPP-Mas atau sistem Informasi promosi dan pemberdayaan  berbasis Website dan Android yang telah diluncurkan akhir tahun lalu.

Agus menyarankan pentingnya cuci tangan dengan sabun dan air mengalir setiap akan menyentuh balita, terutama saat pulang kerja. Hal itu untuk menghindari adanya kuman dan virus yang dibawa yang berpotensi menyerang kekebalan tubuh balita.

Selain itu, Agus juga menekankan pentingnya menyediakan ventilasi udara dan cahaya matahari yang bisa masuk ke dalam rumah. Tahun ini pihaknya akan memberikan bantuan berupa genteng kaca kepada masyarakat, khusus masyarakat miskin pemegang kartu menuju sejahtera (KMS)?. Anggaran pengadaan genteng kaca, sekitar 40,5 juta. Genteng kaca dimaksudkan agar sinar matahari masuk ke dalam rumah. "Karena kuman akan mati jika terkena matahari," ujar Agus.