TRADISI GUNUNGKIDUL : 3.500 Ayam Disembelih dalam Wilujengan Madilakiran Ki Ageng Wonokusumo

13 Maret 2018 05:20 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Ribuan masyarakat di tiga dusun yaitu di Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo selenggarakan upacara wilujengan madilakiran Ki Ageng Wonokusumo, Senin (12/3/2018)

 
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Ribuan masyarakat di tiga dusun yaitu Dusun Wonontoro, Desa Jatiayu, Dusun Warung, Desa  Gedangrejo, dan Dusun Banjardowo Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo selenggarakan upacara wilujengan madilakiran Ki Ageng Wonokusumo, Senin (12/3/2018).

Ketua Penyelenggara yang sekaligus Ketua Komisi C DPRD, Gunungkidul, Purwanto mengatakan upacara tersebut dalam rangka menghormati sesepuh dan melestarikan budaya yang ada dimasyarakat Gunungkidul.

“Ini merupakan upacara untuk menghormati sesepuh yang 400 tahun lalu menyebarkan agama Islam dan juga mensejahterakan rakyatnya. Kita melakukan ini agar terus mengingat dan mencontoh perbuatan baiknya,” katanya.

Purwanto mengatakan puncak upacara adat itu sendiri diperingati setiap setahun sekali dalam kalender Jawa setiap tanggal 23 atau 25 Jumadil akhir. Dimulai berbagai rangkaian dan Senin (12/3/2018) ini merupakan puncaknya dimana sebelumnya juga ada rangkaian penyembelihan ayam hampir 3.500 ekor.

“Masyarakat dari seluruh penjuru Indonesia yang nadzarnya tercapai, datang ke sini membawa ayam itu dan disembelih lalu nanti di bagikan ke masyarakat,” katanya.

Dia berharap agar budaya tersebut dapat terus dipertahankan dan nantinya tempat tersebut dapat dikembangkan menjadi wisata religi juga sehingga berdampak kepada kesejahteraan masyarakat sekitar.

Dalam sambutannya, Bupati Gunungkidul, Badingah, yang diwakili Kepala Dinas Kebudayaan, Agus Kamtono mengatakan upacara atau kegiatan tersebut sebagai wujud pelestarian adat istiadat sekaligus warisan leluhur yang dapat menjadi pelajaran untuk kehidupan modern.

“Saat ini telah terjadi perubahan gaya hidup dan perilaku menjauhi norma leluhur yang diterapkan sesepuh, sesepuh ini bisa menjadi contoh kita sifat baiknya. Sehingga terhindar dari sifat individualis, hedonis, dan sifat buruk lainnya. Selain itu juga ini sarana masyarakat untuk bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.

Satu hal yang terpenting menurutnya dengan kelestarian budaya ditengah masyarakat itu, tidak membuat pembatas pada masyarakat. Semua orang berbeda profesi, latar belakang, dapat membaur menjadi satu. “Ini merupakan kekhasan, menjadi kekayaan dan aset yang tidak tertulis, harus kita jaga agar anak cucu kita juga mengetahui,” katanya.