Mahasiswa ISI Boyong 10 Museum ke Malioboro Mall dengan Wajah Baru

Aktivis dan Pemerhati Budaya Visual yang juga dosen ISI Jogja, Sumbo Tinarbuko (dua kiri) memaparkan ide-ide mahasiswa mata kuliah visual branding DKV ISI Jogja saat berkunjung ke kantor Harian Jogja, Rabu (28/11/2011). - Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah
28 November 2018 19:35 WIB Kusnul Isti Qomah Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Para mahasiswa mata kuliah Visual Branding (VB)  Desain Komunikasi Visual (DKV)  Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta akan “memboyong” sepuluh museum yang ada di Kabupaten Bantul ke Malioboro Mall melalui pameran bertajuk Historium pada 30 November-2 Desember 2018.

Sepuluh museum yang ada di Bantul itu yakni Tembi Rumah Budaya, Tino Sidin, Sumber Karahayon, HM Soeharto, Wayang Kekayon, Museum Gumuk Pasir, Garuda, UPY, Tani Jawa, dan Wayang Beber Sekar Taji.  Museum-museum itu akan dimunculkan dengan visual brand kekinian nan ngepop oleh sepuluh tim mahasiswa mata kuliah Visual Branding DKV ISI .

Ketua  1 Panitia Penyelenggara M Balya Aufa Bahrain mengungkapkan, kegiatan ini digelar untuk mengangkat museum-museum yang ada di Bantul karena kampus ISI ada di Bantul.  Sebanyak 85 mahasiswa bakal terlibat pada pameran yang dikemas dalam format yang mendekatkan diri kepada generasi milenial itu.

Menurutnya, minat masyarakat khususnya dari generasi milenial terhadap museum, cenderung terus menurun. Padahal  museum memiliki peran penting untuk melihat dan memahami peradaban masa lampau. "Kesannya kuno. Oleh karena itu, kami ingin menghadirkan museum yang lebih nyaman dan mudah diakrabi anak muda setidaknya dari pengaplikasian visual branding," ujar dia ketika mengunjungi Griya Harian Jogja, Jogja, Rabu (28/11/2018).

Ketua 2 panitia penyelenggara Akbar Bimo Wicaksono mengatakan, sebanyak 10 tim yang mewakili masing-masing museum akan menawarkan konsep visual branding yang dinilai paling sesuai dengan tuntutan zaman dalam mengangkat citra masing-masing museum. "Sebelumnya kami intens komunikasi dengan pihak museum untuk mengetahui kira-kira apa saja yang masih perlu ditingkatkan dari sisi visual branding," ungkap dia.

Konsep pameran yang digelar yakni dengan membuat booth untuk masing-masing museum dengan ciri khas sesuai karakter museum. Para pengunjung akan diajak mengalami pengalaman baru ketika berinteraksi di setiap booth. Misalnya di booth Museum Gumuk Pasir, pengunjung bisa merasakan sensasi seolah-olah berjalan di Gumuk Pasir di dalam mal.

“Kami sengaja membawa gumuk pasir ditempatkan di sebuah kotak. Pengunjung bisa memijakkan kaki di pasir sambil mengenakan kacamata video virtual reality (VR),” kata Koordinator display Viona Firadilla.

Dosen Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta Sumbo Tinarbuko, mengatakan untuk mengenalkan serta menunjukkan keberadaan jejak peradaban masa silam, program branding museum layak dilakukan terus menerus. "Mengapa demikian? Karena era peradaban digital sekarang ini semua menyadari, brand menjadi jati diri sebuah produk barang dan jasa," papar dia.

Menurut Aktivis dan Pemerhati Budaya Visual itu, acara yang digelar para mahasiswa DKV ISI ini menjadi sebuah terobosan dalam perkuliahan visual branding. Biasanya, hasil kerja mahasiswa di kampus hanya dikumpulkan ke meja dosen sehingga tidak tersampaikan ke publik.  Dengan menggelar pameran, kata dia, tercipta sebuah jembatan bagi sebuah karya bisa diterima oleh khalayak, diapresiasi, sekaligus mendapatkan masukan dan kritikan.

Pemimpin Redaksi Harian Jogja Anton W. Prihartono yang menemui langsung para mahasiswa mengaku memberikan apresiasi tinggi pada kreativitas para mahasiswa DKV ISI yang menggelar pameran tersebut.  "Ini ide out of the box. Mengemas kembali museum yang berkesan jadul, menghadirkannya di pusat-pusat nongkrong anak muda, sekaligus menghadirkannya dalam wajah baru plus menyosialisasikan ide dan gagasan ke publik. Pengalaman seperti ini tentu tidak bisa didapatkan mahasiswa di dalam kampus, " kata dia.