Pengembangan Gunung Bagus Tunggu Koordinasi

Deretan motor milik wisatawan diparkir di pinggir jalan di kawasan Gunung Bagus, Senin (14/1 - 2019).
14 Januari 2019 20:15 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Gunung Bagus yang terletak di Dusun Nasri, Desa Giring, Kecamatan Paliyan, kini menjadi trending topic di media sosial dan menjadi jujugan wisatawan. Untuk pengembangan, kawasan perbukitan yang dijuluki Bukit Teletubbies ini masih menunggu kejelasan status dari Dinas Pariwisata Gunungkidul dan Perhutani.

Awalnya Gunung Bagus merupakan kawasan perbukitan yang dipenuhi oleh pohon Jati. Namun sekitar November 2018, Perhutani menebang seluruh pohon jati untuk diganti dengan tanaman jagung.

Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul, Hary Sukmono, menjelaskan Gunung Bagus merupakan conical hill atau sebuah bukit yang bentuknya seperti tumpeng. Ia menyatakan fenomena ini tidak lepas dari kondisi bentang alam yang berupa batuan karst. “Di Gunungkidul banyak bentang karst, tetapi Gunung Bagus punya perbedaan,” ucap Hary saat ditemui Harian Jogja, Senin (14/1/2019)

Menurut Hary saat ini sudah ada pembicaraan terkait dengan pengembangan objek wisata tersebut. Meski demikian Dispar perlu waktu untuk mengembangkan kawasan Gunung Bagus menjadi objek wisata. Yang paling penting, menurut Hary, adalah perencanaan dana mengembangkan. “Harus dihitung terlebih dahulu berapa dana yang diperlukan,” katanya.

Dia berharap masyarakat bisa bersinergi dengan Dispar untuk mengembangkan destinasi wisata Gunung Bagus. Saat ini masyarakat sudah proaktif untuk mengembangkannya, namun masih ada beberapa kendala yang menghambat.

Kelompok Sadar Wisata Gunung Bagus, Sigit Yulianto, mengatakan sejauh ini jajarannya masih menunggu koordinasi bersama Perhutani dan Dinas Pariwisata Gunungkidul, lantaran Gunung Bagus merupakan tanah milik negara. “Kami belum bisa berbuat banyak untuk menjadikan tempat ini menjadi destinasi wisata,” kata Sigit kepada Harian Jogja, Senin.

Menurut Sigit selama sepekan terakhir pengunjung yang datang ke Gunung Bagus setiap harinya mencapai 200 orang. Ia tidak menyangka kunjungan warga ke Gunung Bagus bisa sebanyak itu. Salah satu kendala yang dihadapi pengelola yakni belum adanya lahan parkir, sehingga wisatawan harus memarkirkan kendaraannya di tepi jalan. Kondisi ini sangat mengganggu arus lalu lintas karena jalan tersebut kerap dilalui bus pariwisata yang menuju ke Pantai Baron.

Seorang pengunjung asal Wonogiri, Jawa Tengah, Dea, mengatakan dirinya harus memarkirkan motornya di tepi jalan yang agak menurun. "Kanan kiri penuh tanaman jagung jadi terpaksa parkir di pinggir jalan yang menurun," ujarnya kepada Harian Jogja, Senin.

Dia berharap pengelola tempat wisata bisa menyediakan tempat parkir yang memadai.