Aktivitas Merapi Masih Tergolong Kecil

Guguran lava pijar gunung Merapi terlihat dari Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (29/12/2018) dini hari. Berdasarkan data pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), pada Sabtu pukul 00.13 WIB terjadi guguran lava pijar Gunung Merapi dengan jarak luncur 400 meter ke arah hulu Kali Gendol. - Antara/Aloysius Jarot Nugroho
15 Januari 2019 08:57 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Meski terus mengeluarkan guguran lava pijar, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja menilai aktivitas Gunung Merapi masih kecil.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan aktivitas guguran lava yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir masih wajar. Hal itu dilihat dari jumlah kali guguran yang terjadi setiap hari antara 30 hingga 50 kali. Berbeda dengan aktivitas sebelumnya yang jumlahnya ratusan kali dalam sehari seperti yang terjadi pada 2010. Karena saat itu kondisi Merapi beberapa dengan saat ini.

"Jadi aktivitas Merapi saat ini masih tergolong kecil. Rata-rata selama ini kan guguran 50 kali, 30 sampai 50 kali per hari. Hanya saja ini status waspada yang terpanjang sejak Mei tahun lalu," ujar Hanik, Senin (14/1/2019).

Status tersebut, lanjut Hanik, dasarnya bukan pada letusan. Tetapi pada potensi bahaya dan ancamannya. Inilah yang perlu diketahui masyarakat. Di luar Jawa banyak erupsi gunung api yang meletus terus-menerus. Tetapi belum sampai pada level awas karena tidak ada ancaman. "Karena belum ada ancaman," kata Hanik.

Menurut Hanik, guguran di Merapi tidak selalu terjadi setiap hari. Dia juga menilai jika hal itu merupakan fenomena biasa. Penyebabnya karena terjadi pertumbuhan kubah lava di puncak Merapi. Akibat adanya aktivitas di Merapi kondisi tersebut menghasilkan guguran material. "Guguran yang terjadi di Merapi, lanjut Hanik, tidak selalu disertai lava pijar. Tidak selalu terjadi per hari. Tapi ya itu guguran material dari dalam dan permukaan," katanya.

Dijelaskannya, guguran lava pijar di Merapi terakhir terjadi dini hari tadi sekitar pukul 02.30 WIB. Jarak luncurnya masih tergolong kecil dibanding luncuran lava pijar sebelumnya yang pernah mencapai 1,7 kilometer. "1,7 km yang terpanjang. Sudah kita sampaikan juga lewat Twitter. Tadi malam (kemarin) yang paling panjang hanya 600 meter," kata dia.

"Kapan meltus? ya belum bisa memprediksi. Karena yang menentukan adalah supply dari dalam tubuh Merapi. Kalau ada supply dari dalam maka parameter-parameter itu akan ketahuan mulai dari deformasi maupun lainnya," kata Hanik.

Sekadar diketahui, Gunung Merapi kembali mengalami guguran lava pijar pada Minggu (13/1). Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang Sleman mencatat telah terjadi enam kali guguran lava. Adapun jarak luncurannya antara 200-600 meter dengan durasi antara 35-86 detik. Aktivitas tersebut mulai terjadi sejak pukul 19.50 hingga 21.21 WIB di mana guguran lava turun ke arah hulu Kali Gendol.

"Jarak luncurannya masih aman jadi masyarakat harus tetap tenang. Status Merapi masih waspada," kata petugas jaga PGM Kaliurang, Lasiman.