Anggaran Droping Air Dipangkas, BPBD Gunungkidul Siapkan BTT
Anggaran droping air Gunungkidul dipangkas jadi Rp346,5 juta. BPBD pastikan tetap aman dengan dukungan dana BTT.
Ilustrasi./Solopos-Ardiansyah Indra Kumala
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul menargetkan tambahan populasi sapi sebanyak 19.601 ekor di 2019. Guna mencapai target ini akan digencarkan inseminasi buatan dengan program sapi indukan wajib bunting (Siwab).
Kepala Bidang Perternakan DPP Gunungkidul, Suseno Budi Sulistyanto, mengatakan Pemkab memiliki target untuk menjadi wilayah swasembada ternak. Oleh karena itu di tahun ini Pemkab menargetkan pertambahan populasi hewan ternak, khususnya sapi sebanyak 19.601 ekor. “Kami berusaha memenuhi target ini,” kata Suseno kepada wartawan, Minggu (20/1/2019).
Menurut dia, upaya pengembangbiakan sapi dengan inseminasi buatan masuk ke dalam program operasi khusus Siwab. Program ini akan menyasar 35.000 ekor sapi untuk ikut inseminasi buatan atau kawin suntik. Diharapkan ada 24.500 ekor sapi bunting. “Program ini terus berkelanjutan dari tahun ke tahun. Jadi untuk pengembangbiakan hingga kelahiran pedet ada yang hasil kawin suntik di 2019 dan tahun sebelumnya,” katanya.
Selain upaya menggalakan sosialisasi program Siwab ke masyarakat, DPP Gunungkidul terus menyosialisasikan larangan penyembelihan sapi betina produktif. Hal ini dilaksanakan sebagai upaya untuk mencapai target populasi sapi yang telah dicanangkan.
Sesuai dengan aturan dalam Undang-Undang No.14/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan khususnya dalam Pasal 18 Ayat 4 mengatur tentang larangan menyembelih ternak ruminansia betina produktif. Apabila aturan ini dilanggar maka pelaku bisa terancam pidana penjara maksimal tiga tahun dan denda sedikitnya Rp100 juta hingga paling banyak Rp300 juta. “Kami akan terus sosialisasikan ke masyarakat,” katanya.
Kepala DPP Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, menyatakan pengembangbiakan sapi bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan kawin secara alami dan kedua dengan inseminasi buatan. Namun demikian untuk saat ini kawin alami sudah jarang dilakukan karena rata-rata persilangan menggunakan kawin suntik. “Tingkat keberhasilan kawin suntik lebih tinggi sehingga cara ini efektif untuk meningkatkan populasi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran droping air Gunungkidul dipangkas jadi Rp346,5 juta. BPBD pastikan tetap aman dengan dukungan dana BTT.
Argentina vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026. Simak prediksi skor, susunan pemain, dan analisis kekuatan kedua tim.
Lurah Garongan nonaktif Ngadiman ditahan Polres Kulonprogo terkait dugaan pungli. Penyidik kejar pelimpahan berkas ke kejaksaan.
Gelombang panas ekstrem di Prancis tewaskan 2.025 orang. Suhu tinggi melanda Eropa dan picu lonjakan angka kematian.
PMI Sleman berhasil menghimpun Rp1,3 miliar dari Bulan Dana 2026 untuk layanan kesehatan dan kemanusiaan.
Mengusung tema "Inclusive Vibes", gelaran Jogja Coffee Week ke-6 (JCW #6) siap menyapa para pencinta dan pelaku industri kopi di Hall B & C Jogja Expo Center (J