Kulonprogo Tekan Stunting lewat RAD

Ilustrasi-Penimbangan anak balita - JIBI
07 Februari 2019 10:00 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Kasus anak balita stunting alias bertubuh pendek di Kulonprogo coba ditekan Pemerintah Kabupaten melalui adanya rencana aksi daerah (RAD). Pemkab mengintervensi penekanan anak balita bertubuh pendek di tiap wilayah sesuai dengan penyebabnya masing-masing.

Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan, angka stunting di Kulonprogo pada 2018 mencapai 22% dari total 22.058 anak balita yang ada di Kulonprogo. Dinas Kesehatan Kulonprogo juga membuat pendataan secara berkala tiap bulan. Pada Januari 2019, terdapat 14,31% dari 22.058 anak balita yang masuk kategori stunting.

“Dinkes setiap bulannya mendata. Dicari langsung sesuai nama dan alamat lalu langsung lakukan intervensi,” ujar Kepala Dinkes Kulonprogo, Bambang Haryatno, kepada Harian Jogja, Rabu (6/2/2019). Pendataan biasanya dilakukan melalui pos pelayanan terpadu (Posyandu) melalui agenda rutin penimbangan.

Menurut Bambang, salah satu upaya yang dilakukan Pemkab untuk menekan angka stunting yaitu dengan RAD. Pada 2018 terbit Peraturan Bupati Kulonprogo No.37/2018 tentang Penanganan Stunting di Daerah. Melalui perbup tersebut, Pemkab membentuk RAD untuk diterapkan di masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD).

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kulonprogo Hunik Rimawati mengungkapkan instansinya mengintervensi stunting pada tiap wilayah dengan berbagai penanganan yang berbeda dengan melihat penyebabnya. Ketika pola asuh dan asupan yang kurang menjadi penyebab, maka akan diberikan pemberian makanan tambahan (PMT).

Tubuh pendek pada anak balita disebabkan karena beberapa faktor, mulai dari pola asuh, kurangnya asupan gizi, sering sakit ringan, cacat dari lahir juga karena ada keluarga yang merokok. Berdasarkan pendataan dari Dinkes, sebanyak 70% kasus anak balita stunting di Kulonprogo disebabkan pola asuh dan kurangnya asupan gizi.

Pola asuh yang tidak baik dan kurangnya asupan gizi juga dipengaruhi kesibukan orang tua untuk bekerja. “Di Kulonprogo banyak yang ibunya juga kerja, anak balitanya dititipkan. Ujung-ujungnya pola asuh anak tidak baik,” ujar Hunik.